Light novel indo Novel indo Isekai novel indo

Hail the king chapter 36

Elena merasa aman dan tentram kapanpun ia bersama dengan pengelana muda ini. monster yang mengambil saudarinya dan membutuhkan banyak tenaga untuk dibunuh bagaikan kubis dihadapannya. Semua monster dihentikan olehnya dan bahkan tak bisa mendekatinya. Pria itu seperti dinding tak dapat ditembus yang menghalau segala bahaya…..
Kenyataan sudah membalik persepsinya tentang hubungan tuan dan prajurit bayaran yang mereka miliki. Menurut pengetahuan semua orang, termasuk pemimpin Kashaya, prajurit bayaran hanyalah alat yang biasa digunakan oleh pengelana. Beberapa pengelana keji bahkan menggunakan mercenary malang untuk menarik monster dan menggunakan mereka sebagai tameng manusia; hal ini membuat timbulnya korban yang signifikan di [Rogue Encampment].
Tapi untuk menjaga keberadaan kemah dan melindungi penduduk yang lemah dan tak punya kemampuan bertarung, pengembara perempuan harus dijadikan sebagai prajurit bayaran untuk para pengelana dan mengorbankan diri mereka.
Tentu saja, pengelana barbarian muda dihadapannya tidak seperti itu. Elena tak tahu apakah kisah itu salah atau ia hanya beruntung dan bertemu dengan pengelana yang pemberani dan baik hati.
“Mungkin karena waktu telah berlalu. Setelah isolasi selama lebih dari 60 tahun, semua pengelana masa lalu menghilang dan perkemahan menjadi tempat yang ditinggalkan. Ia adalah pengelana pertama yang menginjakkan kaki ke [Rogue Encampment] setelah 60 tahun….. semuanya sudah berubah.” Kata Elena berdalih.
Fei tertawa saat ia melihat ekspresi agak gugup di wajah prajurit bayaran seksi tersebut; ia tak mengatakan apapun. Ia berbalik dan berjalan kembali ke portal. Elena, yang masih mempunyai banyak hal dalam benaknya, dengan cepat mengikuti Fei.
……
Fei menghabiskan kurang dari 10 menit untuk kembali dari [Hutan Kegelapan] ke [Padang Bebatuan
Perjalanannya cepat karena saat Fei hendak membawa gulungannya untuk diterjemahkan oleh Akara, ia juga membeli dua [Health Potion]; satu untuk dirinya dan satu untuk Elena. Juga, monster di jalan kembali sudah dibersihkan semua, jadi tak ada terlalu banyak rintangan.
Mereka dengan cepat menemukan Batu Cairn.
Fei membawa gulungan yang sudah diterjemahkan dan menyentuh lima batu dengan perlahan sesuai urutan yang ditunjukkan di gulungan. Tiba-tiba, langit menjadi gelap dan semuanya
Angin kencang berhembus di tempat itu dan mengangkat semua dedaunan kering dari atas tanah. Suasananya tampak seperti akhir dunia. Saat itu, lima cahaya biru mencuat dari lima batu dan perlahan menjadi satu, membentuk portal merah darah besar di tengah lima batu. Portal tersebut tampak seperti kolam darah, dan sebuah cahaya kuning muncul dari dalam.
Itu adalah portal ke Tristam, dimana pria tua ‘cabul’ Cain di kurung.
Fei berdiri disana dan menghela nafas, “cara kelima batu ini bercahaya cukup mengerikan, batu ini membuat kabut besar.”
Elena juga cukup terkejut.
Apapun yang ia lihat selama mengikuti Fei dalam kurun dua jam terakhir lebih menyenangkan daripada apa yang sudah ia alami selama dua puluh satu tahun terakhir.
“Setelah kita pergi melewati portal, akan ada banyak monster dan iblis. Hati-hati dan ikuti aku dengan seksama, jangan bergegas kedepan….” Fei berbalik dan memberitahu Elena. Ia merasa kalau ia tak menekankan cukup kuat, jadi ia melanjutkan, “Ingat, kalau situasinya menjadi terlalu berbahaya, berbalik dan lari dari sini. Jangan menjadi keras kepala.”
Menurut plot, Tristam sudah dihancurkan oleh Diablo yang sudah bangkit, dan kota tersebut berubah menjadi surga monster dan iblis. Paladin hebat Griswald juga jatuh disini dan berubah menjadi iblis kuat; ia adalah boss di Tristam. Kalau Fei ingin menyelamatkan Cain dan sukses, ia perlu bekerja. Fei yakin kalau ia bisa menyapu bersih semua monster di Tristam kalau melakukannya dengan perlahan. Ia punya sekitar 20 [Minor Healing Potions] dalam [Slot Item]-nya. Potion itu cukup untuk membantu Fei dan Elena di pertarungan mendatang.
Akan tetapi, kalau situasinya menjadi berbahaya, ia mungkin tak bisa melindungi Elena. Kalau pemanah sihir ini dikerumuni oleh monster, ia pasti akan dicabik-cabik menjadi potongan kecil. Itulah mengapa Fei mengingatkan Elena tentang keselamatannya berkali-kali.
Setelah Fei mengatakannya, ia melangkah masuk ke portal dan menghilang dari [Padang Bebatuan].
Hati Elena menjadi hangat. Meskipun tak ada apapun yang spesial dari apa yang dikatakan Fei, ia merasakan perhatiannya – perhatian yang diarahkan pada seseorang yang dekat.
“Ia adalah seorang yang pantas mendapatkan jerih payah dan pengorbananku.”
Ia memikirkan untuk sementara waktu, dan kemudian sebuah ekspresi tegas muncul di wajahnya, seolah ia sudah membuat semacam keputusan. Ia kemudian dengan cepat melangkah kedalam portal.
……
……
Di Chambord.
Mentari hendak naik ke tengah langit.
Musuh berzirah hitam yang misterius masih belum bergerak. Lautan musuh sudah menduduki jembatan di sungai Zuli. Seperti seekor ular hitam besar yang mendesis dengan lidah bercabangnya, mereka menunggu momen terbaik untuk menyerang.
Tekanan yang dirasakan di dinding pertahanan secara konstan terus naik. Tak ada suara di dinding kecuali suara yang muncul dari arus sungai. Semuanya merasa tegang.
Para prajurit dan pemuda berkeringat deras. Moral mereka yang sebelumnya naik sudah menurun hingga ke tingkat berbahaya setelah beberapa jam menunggu. Meskipun Brook membuat para prajurit bergantian setiap dua puluh menit, tekanan yang mereka rasakan menyiksa dan melelahkan untuk semuanya.
Musuh tak memberi tanda-tanda akan menyergap. Keheningan yang abadi menjadi seperti pisau tak terlihat yang menusuk kondisi mental para prajurit, perlahan memotong moral dan keberanian mereka.
hati Brook mulai jatuh seiring berjalannya waktu. Pierce membawa [Pedang Raja] dan berjalan bolak-balik dengan khawatir di depan menara jaga. Semua orang melihat dari dinding yang hancur dari menara jaga. Mata mereka tertuju pada pria muda yang sedang ber-‘meditasi’.
Itu adalah raja Alexander yang secara ajaib sudah pulih. Kalau seseorang berkata bahwa masih ada harapan untuk Chambord di momen tragis ini, maka harapan itu pasti akan muncul dari sang raja.
Bahkan pendekar nomer satu di Chambord, Lampard, tak bisa memberikan semua orang rasa aman yang mereka butuhkan, tapi entah bagaimana, raja yang sebelumnya idiot sudah menenangkan hati mereka yang dipenuhi dengan ketakutan.
……
……
Kembali ke Tristam.
Setelah Fei melangkah masuk ke portal, sekumpulan [Skeletons] (Tengkorak) mengepungnya dengan pedang mereka dan mulai menebaskan kearahnya.
“Sialan, ada sebanyak ini? dan mereka se-agresif ini?”
Fei mengumpat di benaknya, dan kemudian dengan cepat mengayunkan kapaknya. Ia menyerang dengan horizontal dan ‘Boom!’ tiga [Skeleton] terdekat dihancurkan menjadi fragmen tulang.
Tantangan sebelumnya masih belum datang. Sisa dari [Skeletons] membanjiri mereka. Dibelakang [Skeletons] ada [Zombie] yang bergerak dengan lebih lambat, dan [Fallen Shermans] yang memiliki zirah yang tebal. Para monster dan iblis di Tristam sudah bermutasi, dan serangan serta pertahanan mereka meningkat dengan tajam.
Akan tetapi, Fei sudah sangat kuat. Kemanapun kapaknya bergerak, monster berteriak dan mati dengan brutal, tapi kecepatan serangannya masih kurang cepat. ia terluka diantara serangannya dan darahnya dengan cepat terjatuh. Hal ini membuat Fei takut setengah mati; ia menggunakan seruan perang – [Howl] untuk menakuti monster didekatnya dan memberinya kesempatan untuk meneguh beberapa [Health Potions].
Efek dari [Howl] dengan cepat hilang dan para monster mulai menyerbu lagi.
Saat ini –
“Whuuush, whuush, whuuush – !”
Panah dingin melesat ke para monster seperti hujan es.
Elena akhirnya muncul dair portal. Ia menarik busurnya dengan cepat dan semua monster didekatnya membeku.
“Jaga jarakmu, jangan gegabah. Tetap dibelakangku!” Fei berteriak pada Elena seraya menyerang monster lagi dan menghalau mereka sehingga Elena bisa mendapatkan jarak aman dan menyerang dengan konsisten.
Fei menggunakan [Howl] tiap kali ada monster yang terlalu dekat; saat mereka sudah mulai terpengaruh  oleh [Howl] dan mulai berlari, Fei mengejar mereka dan memotong sebanyak mungkin kepala mereka. Setelah efeknya sudah hilang, ia akan mengulang hal yang sama lagi dan lagi.
Setelah sekitar dua puluh menit, kerumunan monster level rendah sudah disapu bersih.
Fei akhirnya punya kesempatan untuk melihat kota Tristam. Tristam sudah hancur dan menjadi reruntuhan. Kota yang dulunya ramai sekarang sudah tak ada lagi. Tanahnya dipenuhi dengan retakan, bangunan-bangunan sudah runtuh dan api neraka membakar apapun dimanapun, menyebabkan asap hitam membumbung tinggi ke angkasa. Para penduduk kota sudah dibunuh oleh monster dan diubah menjadi iblis pencari darah dan undead. Mereka berjalan dan menyerbu ke Fei dan Elena saat melihat keduanya.
Boss terakhir dari Tristam adalah Griswald, paladin yang sudah jatuh. Ia sangat kuat dan susah untuk dibunuh. Akan tetapi, ia bersembunyi di reruntuhan bangunan dan menjaga Cain yang dikurung. Ini memberi Fei beberapa waktu untuk menyiapkan pertarungan akhir.
Fei dan Elena berjalan perlahan, mencoba untuk tak mengganggu boss tersebut. Akhirnya, mereka menemukan kerumunan [Skeleton Archers] (Pemanah Tengkorak). Para pemanah ini sangat pintar, tak seperti [Skeleton] yang hanya tau bagaimana caranya menyerbu. Mereka hanya akan menembakkan panah dari jauh, dan kebanyakan dari mereka tak akan mendekati Fei dan Elena. Beberapa [Skeleton Archer] menyelinap untuk menyerang Fei dan Elena.
Fei memberi isyarat pada Elena unutk mundur, dan kemudian mengganti ke senjata keduanya.
Sebuah cahaya kuning berkilau.
[Azure Spiked Shield] dan [Storm Sabre] muncul di tangan Fei. Ia dengan cepat menyerang dan menancapkan pedangnya pada kepala [Skeleton Archer] yang menyelinap kearah mereka, dan kemudian dengan kencang menggoyang pedangnya.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Blogroll

BTemplates.com

Search This Blog

Powered by Blogger.

Pages