Light novel indo Novel indo Isekai novel indo

Hail the king chapter 6

Chapter 6: Kekuatan tak Terduga

Fei terkejut.
“Waktu maksimal bermain untuk hari ini? apa itu?”
Dia tak menyangka sesuatu seperti ini terjadi saat ia bersiap untuk kembali ke [Rogue Encampment].
Berikutnya pandangan Fei menjadi kabur. Seluruh dunia mulai terpelintir dan memudar didepan matanya. Kemudian yang dilihatnya selanjutnya adalah gelap total.
……
……
Fei membuka kembali kedua matanya, dan menemukan dirinya kembali ke istana raja lagi.
Dekorasi indah, furniture luar biasa dan ranjang berukuran raja berwarna meerah gelap dan disepuh dengan emas benar-benar kebalikan dari perasaan kelam dan penuh darah dari dunia Diablo.
“Apa yang terjadi? apa aku… baru saja bermimpi buruk?” Fei kebingungan.
Fei masih terbaring di ranjang. Hanya saja perbedaan antara sebelum ‘mimpi buruk’ dan setelah ‘mimpi buruh’ adalah ia merasa sangat panas dan mengucurkan keringat; seolah ia baru saja keluar dari ruang sauna.
Dia merebahkan dirinya kembali ke ranjang, dan dengan mengejutkan menemukan kalau rasa pusing yang dirasakannya saat kembali bangun di dunia ini hilang, begitu juga rasa sakit dari luka di kepala dan dadanya.
“Bagaimana…. Apa itu bukan mimpi?”
Fei dengan tak sadar merasa kalau sesuatu yang spesial terjadi kepadanya, tapi dia tak bisa menentukan dimana ‘sesuatu’ itu. seluruh istana benar-benar sepi. Tak ada seorangpun disana. Fei berdiri dari ranjangnnya, dan meregangkan badannya sedikit.
‘Kreeeak–––––’
Suara bajunya yang robek.
Seluruh kemeja ksatria berleher putih milik Fei tiba-tiba robek dibanyak tempat. Kalau kalianmelihatnya saat ini, kalian mungkin akan menyimpulkan kalau dia adalah seorang tunawisma, menilai dari baju dan celananya yang robek-robek.
“Sialan, apa ini?”
Fei jadi agak ketakutan.
Semua hal yang terjadi kepadanya membuat nyalinya menjadi agak ciut. Dia merasa seolah dia hampir mengalami gangguan mental.
Dia melihat dari atas kebawah dengan seksama, dan menyadari kalau baju yang robek agak sedikit kecil untuk ukurannya. Saat ia melakukan peregangan, ia dengan mudah merobek baju yang kecil itu.
“Ada apa dengan kualitas menyedihkan ini? siapa yang membuat pakaian seperti ini untuk seorang raja?”
Angin berhembus kedalam istana, dan Fei merasa kedinginan. Dia hampir telanjang.
“Sialan, aku harus menemukan sesuatu untuk dipakai/dikenakan.”
Fei melirik kesekitar istana dan menemukan perabotan seperti tempat penyimpan baju. Dia membukanya dan menemukan banyak pakaian mewah didalamnya. Dia mengambil satu yaitu baju dan celana ksatria hitam yang pas/cocok. Dia mengenakannya dan berjalan kearah kaca.
Pria yang berada di depan kaca mengejutkan Fei.
Ia adalah seorang pria setinggi 6 kaki. Rambut hitamnya sepanjang bahu diikat dibelakang kepalanya dengan cincin rambut rubi. Wajahnya yang tampan bin gagah serta tubuhnya yang robek? Bisa membuat wanita manapun jatuh hati kepadanya.
“Bangsat! Bajingan ganteng di kaca ini adalah aku??”
Fei tak bisa mempercayainya, ini begitu tak nyata untuknya. Setelah berdansa dan bergaya didepan kaca dan melihat pria dikaca itu menirukan gerakannya, dia akhirnya menerimanya.
“Hahaha, oh meeeen. Meskipun Alexander seorang yang idiot, tapi dia punya wajah yang lumayan! Haha, dia jauh lebih ganteng dibanding diriku.”
Fei tak bisa berhenti berpose dihadapan kaca, seolah ia baru menemukan benua baru.
“Mulai sekarang, aku adalah Alexander!” Fei mengatakannya ke dirinya sendiri dengan senang.
Setelah penemuan barunya, dia langsung berjalan ke jajaran baju zirah ksatria penuh dari abad pertengahan yang ada di tengah istana. Dia mengambil sepasang baju zirah seukurannya, dan mengambil pedang dua tangan yang dipegang oleh baju zirah itu. dia mengayunkannya dengan keras, mencoba menguji kekuatan dan menjadi seorang raja.
Tapi setelah ia melakukannya, ekspresi wajahnya menjadi aneh.
Bagaimana mungkin ini jadi begitu enteng? Ini bukan mainan plastik bukan?”
Sebuah pedang dua-tangan sepanjang 5 kaki setidaknya akan berbobot tiga hingga empat puluh pound. Tapi Fei merasa seolah ia sedang memegang bulu, tak ada berat sedikitpun di tangannya. Ini benar-benar aneh.
“Clang!”
Fei mengayunkannya ke baju zirah penuh dengan pedang itu untuk melihat apakah ini asli atau tidak.
Tapi hal yang tak disangka terjadi –
Baju zirah itu setidaknya setebal satu sentimeter. Tapi pedang itu melewatinya/melibasnya dengan mudah, seolah Fei sedang memotong sepotong kertas. Ayunannya memotong baju zirah itu jadi dua, bagian atas baju zirah itu selanjutnya jatuh ketanah dan membuat suara “Clang” sekali lagi.
“Wow!”
Meskipun Fei tak percaya kepada dewa atau hantu, dia tak punya cara lain untuk menjelaskan apa yang terjadi.
“Kenapa aku menjadi sangat kuat sekarang?”
Fei tak sadar sekali lagi mengayunkan pedangnya, dan dia tetap tak bisa merasakan berat apapun.
Pedang dua tangan ini jelas-jelas senjata asli.
“Perasaan ini….”
Fei menutup matanya mencoba mengingat bagaimana cara memegang pedang. Dan dia merasakan hal yang sama saat ia masih menjadi barbarian di dalam ‘mimpinya’, mengayunkan kapak ganda kearah monster.
“Apa aku…”
Fei terkejut.
“Apa aku membawa kembali kekuatan dari karakter barbarianku dari ‘mimpi’ itu kedalam dunia nyata?”
Dia tak bisa menghilangkan pikiran itu dari benaknya dan dengan cepat mencoba hipotesisnya. Dia menaruk kembali pedang itu ke baju zirah yang rusak itu, dan mencari senjata lain di istana.
Sesuatu dengan cepat menarik perhatian mata Fei.
Jauh dipojok istana ada kapak dua tangan yang besar dan bentuknya aneh. Pegangan dan ujung tajamnya setidaknya sepanjang lima kaki, dan tampak seberat sekitar 100 pound. Kapak itu berdiri disamping baju zirah berat berwarna hitam. Beratnya juga membuat lantai keramik dibawahnya retak.
Pahatan yang aneh di tubuh kapak itu membuatnya menjadi lebih mengintimidasi.
Fei bergegas kesana dan mengambilnya. Tiba-tiba, Fei merasa kalau kapak itu dan dirinya sudah menjadi satu, seolah kapak itu adalah bagian dari tubuhnya.
Dia menutup matanya lagi dan memusatkan perasaannya.
“Ini benar, ini adalah perasaan dari [Weapon Mastery] level 3-ku dalam ‘mimpi’. Apalagi dengan kapak ini, karena aku adalah seorang barbarian.”
Kapak dua tangan itu seperti kincir angin di tangan Fei. Semua teknik kapak dilakukan oleh Fei dengan level seorang ahli, seolah dia sudah menggunakan kapak selama puluhan tahun.
Fei merasa kalau dia bisa menyimpulkan kalau hipotesisnya kali ini terbukti benar.
Dia benar-benar menerima semua skill, kekuatan, dan daya serang serta seluruh atribut dari barbarian level 5 dalam ‘mimpinya’.
Sumber kekuatan baru yang ditemukan Fei membuatnya merasakan keamanan yang dalam/luar biasa.
“Jadi ini rasanya menjadi kuat, entah pada tingkat apa kekuatan ini berada di dunia ajaib ini?”
Fei merasa luar baisa setelah menemukan kekuatan barunya, dia tiba-tiba mengingat “Pendekar” Lampard mengatakan sesuatu tentang musuh yang masih mengepung kastil.
“Mungkin aku harus pergi melihatnya.” Pikiran ini tumbuh semakin kuat dan kuat di dalam benak Fei.
“Mungkin aku juga bisa membantu dengan kekuatanku.”
Fei memutuskan untuk pergi. untuk berjaga-jaga, dia mengambil baju zirah yang paling tebal, dan paling berat di istana dan mengenakannya.
Baju zirah ini secara harfiah menutupi Fei dari kepala hingga ke kaki, hanya meninggalkan lubang terbuka agar Fei bisa melihat keluar baju zirah.
Fei merasa ia mengenakan baju Iron Man pertama dalam film [Iron Man 1], baju yang dibuat oleh Robert Downey Jr. di Irak.
Baju zirah seberat lima puluh pound ini seharusnya secara harfiah membuat Fei tak bisa bergerak ditanah; tapi sekarang, Fei merasa seolah ia sedang mengenakan pakaian berlari merek Nike yang tipis dan anti keringat.
Fei mengetuk helmnya dengan kapak.
“Clang! Clang! –”
Fei merasa puas mendengarnya. “haha, tak akan ada panah yang mengenaiku sekarang!”
“Raja Alexander! Bangun!”
Fei melihat kesekitar saat ia meninggalkan istana dengan perlahan.
Ia ingin menyombongkan diri dihadapan penjaga, tapi siapa yang sangka tak ada yang menjaga sang raja. Istananya benar-benar sepi. Saat ia berjalan, dia melihat dua orang prajurit yang terluka parah tidur disamping gerbang utama istana.
Tampaknya dua prajurit yang kelelahan ini baru saja datang dari garis depan pertempuran.
“Sialan! Istanaku hanya dijaga oleh dua orang prajurit yang terluka, pertempurannya pasti berada dalam puncaknya.”
Suara teriakan peperangan mulai terdengar keras saat Fei mendekati gerbang utama dari kastil.
“Tak ada waktu yang bisa disia-siakan!” pikir Fei seraya bergegas berlari lebih cepat.

Share:

Hail the king chapter 5

Chapter 5: Quest Selesai

Fei dengan cepat menyesuaikan diri dengan situasinya. Dia sudah pergi dari awalnya ingin muntah melihat darah kental yang muncrat dari kali pertama membunuh monster pertamanya, menjadi orang yang dingin dan acuh meskipun pembantaian masal tertinggal dibelakangnya. Semua darah panas dari monster yang ada di tubuh Fei membuatnya merasa seolah ia sedang menerima ujian abadi dari neraka. Setelah hanya beberapa jam, Fei menjadi terbiasa dengan hal ini. dia hampir berubah menjadi mesin pembunuh berdarah dingin.
Tujuan game ini ada adalah untuk membunuh.
Ini terasa begitu nyata.
Bahkan rasa sakit dan pegal diseluruh ototnya.
Fei tak yakin apapkah saat ia mati di dunia game yang sangat nyata ini, ia akan kembali hidup seperti dalam game aslinya; tapi dia tak berani mencobanya. Ada terlalu banyak hal yang dipertaruhkan.
Dari tiga jam terakhir yang dihabiskan untuk membunuh. Fei menyadari kalau pengetahuannya tentang game aslinya tak seluruhnya bisa diaplikasikan dalam dunia ini. dia mencoba sekuat tenaga untuk memahami dengan kasar tentang tatanan/hukum alam di dunia ini.
Didunia penuh darah dan kejam ini, [Strength] dan [Vitality] adalah atribut paling penting untuk “Barbarian”. Banyaknya [Strength] akan membuatmu bisa menyerang dengan lebih kuat, dan banyaknya [Vitality] bukan hanya membuatmu bisa tahan lama dalam sebuah pertarungan, ini juga memberi ketahanan untuk bisa berlari dari monster pencari darah (baca: pemangsa).
Alasan Fei membagikan poin skill ke [Weapon Mastery] dan seruan perang [Howl] adalah karena: dia tak tau bagaimana cara menggunakan dan memegang senjata dengan benar; dia hanyalah pelajar biasa, jadi [Weapon Mastery] akan memuatnya bisa menggunakan kapaknya dengan lebih efisien; dan [Howl] bisa menakuti monster ketika dia mulai dikepung.
Ancaman dari monster dan resiko kematian memaksa Fei untuk mempertimbangkan cara bertahan hidup lebih banyak dibandingkan perkembangan masa depan dari karakternya.
Setelah membagikan seluruh poinnya, Fei membuka [Character Status]-nya (Status Karakter).
Gamer: Fei
Character: Barbarian
Level: 5
Experience: 14949/22680
Strength: 45Dexterity: 20
Intelligence: 11Vitality: 30
Damage: 10-27Accuracy: 102
Armor: 31Endurance: 107
Health: 105Resource (Fury): 16
Fire-Resistance: 0Cold-Resistance: 0
Lightning-Resistance: 5Poison-Resistance: 0
……
Status ini lebih mengagumkan daripada status awal yang Fei miliki. Statusnya bisa dibilang… tidak berada di level yang sama.
Semua perubahan ini datang dari naik level meskipun Fei juga mempunyai beberapa item (barang) yang spesial.
Dia mendapatkan beberapa baju zirah dan senjata dari membunuh monster dan dia sudah memakai semuanya. Salah satunya adalah [Tangerine’s Helmet] (Helm Tangerine) yang memberinya +1 intelligence (kecerdasan) dan +5% atribut Lightning Resistence (Ketahanan terhadap petir).
Setelah memeriksa menu [Character Status]-nya, dia membuka [Slot Item]-nya (Tempat Barang).
Dalam dunia ini, Slot Item milik Fei adalah cincin spasial yang dikenakannya di jari. Di dalamnya ada 40 blok ruang penyimpanan. Tiap Ruan penyimpanan bisa menyimpan satu barang seperti misalnya [Minor Healing Potion] (Obat Penyembuh Minor/Kecil), akan tetapi, item yang besar seperti kapak atau pedang mungkin bisa memakai empat hingga delapan blok, tergantung  seberapa besar itemnya.
Slot Item milik Fei saat ini sedang penuh.
Dia berpikir apa yang harus dilakukannya dan kemudian memutuskan untuk kembali ke [Rogue Encampment]. Dia menggunakan [Town Portal Scroll] (Gulungan ‘Portal’* Kota) yang dia dapatkan saat muncul di dunia ini.
*Portal adalah gerbang ruang yang bisa digunakan untuk berpindah tempat dari tempat A ke tempat B, dalam hal ini tujuannya adalah kota.
“Ngiiiiiing…”
Sebuah petir setinggi tiga meter dan berbentuk oval muncul dengan bunyi dengungan. Fei agak ragu sedikit tapi kemudian tetap melangkah masuk.
Seperti yang dia duga, dia melangkah masuk ke [Rogue Encampment] saat ia pergi ke sisi lain portal.
Tiba-tiba ia merasa enek. Dia merasa seolah baru turun dari rollercoaster yang sangat kencang dan dipenuhi dengan putaran dan simpul. Fei menutup matanya dalam beberapa detik agar tidak lagi “mabuk portal”.
Setelah duduk dan mulai enakan, Fei melihat kesekitar dan menemukan priestess Akara.
Priestess tinggi ini bukan hanya sumber untuk sebuah quest, tapi juga merupakan pedagang mahir. Dia menjual tongkat, dan obat minum untuk bertarung, sekaligus scroll (gulungan) dan kunci. Fei ingin mempersiapkan diri dengan baik untuk quest pertamanya “Sarang Iblis” jadi dia tak akan terbunuh saat melawan monster yang berada di gua iblis. Dari apa yang bisa ia ingat, ada sebuah boss (raja) zombie yang disebut [Corpsefire] (Mayat Terbakar) di dalamnya.
Meskipun mencaritahui apa yang membawanya ke dunia aneh ini penting, tapi setidaknya dia harus bisa bertahan hidup sebelum akhirnya mengetahuinya.
Fei menjual semua item seperti sarung tangan, tongkat dan tombak yang rusak, serta barang-barang yang dia dapatkan dari monster tapi tak diperlukannya dan mendapatkan kurang lebih 800 koin emas. Ditambah emas yang diambilnya langsung dari monster, dia punya total 1,400 emas.
Dia menggunakan seluruh uangnya dengan baik dan membeli beberapa item dari Akara.
Sebuah kapak ganda dengan tingkat damage (luka) 6-15, dan sebuah pakaian pelindung kulit dengan tingkat defense (pertahanan) sebesar 13. Dia menggunakan keduanya dan membeli beberapa botol [Minor Healing Potions] (Ramuan Penyembuh Minor), empat [Town Portal Scroll], dan tiga [Identify Scroll] (Gulungan Identifikasi) untuk mengidentifikasi senjata dan baju zirah yang akan ia dapatkan dari monster.
Fei kembali merasakan kenyamanan saat kekuatan dan tenaganya meningkat, yang berasal dari senjata dan pakaian pelindung barunya. Dia dengan percaya diri kembali ke portal yang sebelumnya dia buat.
“Ngiiiing…..”
Setelah kembali lagi ke [Ladang Darah] dengan diikuti sedikit dengungan, Fei menemukan [Sarang Iblis] di peta miliknya dan bergegas ke arahnya dengan hati-hati. Setelah melihat situasi didalam goa, Fei berterima kasih dengan Fei yang dulu karena persiapannya yang seksama.
Di dunia ini, monster di dalam goad an sarang tampaknya lebih agresif dan brutal dibandingkan monster yang berada di lading. Di dalamnya bukan hanya ada [Quill Rats] (Tikus Berduri), [Zombie], [Fallen Shaman] (Dukun yang jatuh dalam Dosa), dan [Vampire] yang bisa melemparkan bola api, yang mana biasa dilihat oleh Fei di lading, tapi juga ada monster yang dipanggil [Gargantuan Beast] (Makhluk Raksasa) yang terlihat seperti kera. Monster ini punya serangan yang kuat dan kulit yang tebal sebagai pertahanannya.
Fei akhirnya memulai misi untuk membasmi habis sarang ini.
Karena dia sudah berada di level 5; damage dan defense-nya cukup tinggi sehingga dia bisa dengan santai melewati monster-monster biasa.
Darah berceceran, para monster berteriak dan Fei dengan mati-matian memotong/mencabik jalannya hingga masuk kedalam goa.
Fei sudah menjadi sama seperti grim reaper, ditutupi oleh darah seraya ia melibas dan meratakan monster yang berjalan kearahnya. Kapak gandanya membelah monster sepanjang pedang seorang samurai bisa memotong mentega panas. Meskipun ada kerumunan monster, dia akan berlari ketengahnya dan menggunakan skill [Howl] agar dia bisa menghabisi mereka satu persatu setelah mereka takut dan berlari kesana kemari.
Dia juga melihat banyak mayat manusia yang terkoyak di dalam sarang.
Beberapa berada di tanah, beberapa diikat di pilar/tiang, beberapa ususnya berjatuhan dan beberapa ada yang kehilangan bola matanya. Bahkan beberapa pengembara perempuan diperkosa oleh monster menjijikkan ini. dengan banyak lalat beterbangan diantara mayat busuk ini, tempat ini benar-benar terlalu mengerikan untuk dilihat oleh seseorang.
Pikiran Fei dipenuhi dengan amarah.
Meskipun Fei tau kalau keadaan ini awalnya berasal dari game, dia tak bisa menahan untuk menempatkan dirinya sendiri sebagai manusia dari dunia ini. dengan seluruh kemarahan yang terbakar di dadanya, dia masuk ke dalam mode gila saat ia menghantam dan menghancurkan monster seolah mereka bukan apa-apa
Akhirnya, setelah entah berapa lama, saat monster terakhir dihadapan Fei sudah berteriak dan mati bersimbah darahnya sendiri,  sebuah cahaya keemasan jatuh dari langit dan menyinari seluruh sudut dari sarang itu.
Tak lama setelahnya, sebuah suara yang taka sing berbicara dalam benak Fei –
“Selamat, gamer/pemain Fei. Kau sudah menyelesaian quest dari priestess Akara dan melewati ujian pertama dari dunia Diablo ini. sekarang kau harus kembali ke Rogue Encampment dan menerima hadiahmu dari Akara….”
Kata-kata itu menjernihkan kembali pikiran Fei.
Dia bernafas berat dan melirik ke sekelilingnya. Dia terkejut saat menemukan bahkan seluruh monster di dalam sudah dibunuh semua olehnya. Bahkan boss dari sarang ini, [Corpsefire], juga tergeletak mati di tanah. Beberapa tumpuk koin emas dan beragam item berserakan di tanah diantara mayat-mayat monster yang ada.
“Apa aku menggila tadi?”
Fei memikirkan apa yang telah terjadi. dia tak bisa percaya kalau apa yang ia lihat di dunia game ini bisa memicu amarah dalam dirinya. Tapi, ini bukanlah salahnya; dunia ini benar-benar terlalu nyata. Siapapun akan merasakan hal yang sama.
Dia berdiri di sana untuk beberapa waktu dan kemudian mulai membersihkan tempat pertarungannya.
Koin emas-nya tak mengambil satu blok pun di [Slot Item]-nya, jadi ia mengambilnya pertama kali. Kemudian ia mulai mengambili item-item yang lebih berharga dari [Corpsefire]. Dua magic item (item sihir/magis) menarik perhatian Fei. Dia meneteskan air liur saat dua item itu berkilau dengan cahaya biru lembut.
Tapi…
“Tai! Sebuah [Grim Wand] dan [Javelin] ??? yang bener aja??? Kenapa tak ada item untuk barbarian?!?”
Setelah benar-benar menginspeksi dua item itu, Fei benar-benar merasa sangat kecewa. Perasaannya sama dengan orang yang melihat danau di tengah gurun saat ia sedang sekarat karena kehausan, dan menyadari kalau hal itu hanyalah khayalan/fatamorgana saja.
“Persetan dengan keberuntunganku!”
Tak ada apapun yang bisa Fei lakukan. Dia mengambil dua item sihir yang tak bisa diidentifikasi itu dan berniat untuk menjualnya ke Akara untuk harga yang lumayan.
Setelah ia mengambil semuanya, dia menggunakan [Town Portal Scroll].
Dia sudah bersiap kembali ke [Rogue Encampment] dan mengambil hadiahnya dari Akara. Dia juga ingin bertanya kepadanya tentang bagaimana dan kenapa dia muncul di dunia game ini.
Pertanyaan ini sudah mengusiknya sejak awal.
Saat itu, suara misterius dan dingin tiba-tiba berbicara lagi!

“Peringatan! Kau sudah mencapai waktu bermain maksimal hari ni. Menghitung mundur keluar: 3….. 2…. 1. Keluar….”
Share:

Hail the king chapter 4

Chapter 4: “Barbarian” Fei


“Kenapa aku ada disini? Apa yang terjadi?”
Peristiwa baru saja lebih membuat Fei semakin bingung. Satu-satunya hal yang ia tau jelas adalah ia tiba-tiba secara ajaib muncul di dunia yang tampak seperti Diablo setelah suara dingin dan misterius itu mengucaptkan beberapa ucapan khas dari layar yang memuat sebuah game. Melihat kesekitar, Fei menyadari kalau dia sudah menjadi seorang “Barbarian”, yang dikenali Fei sebagai salah satu karakter dalam game.
Kapak tangan yang berkarat ada di tangan kanannya, dan sebuah tameng yang bobrok dan hampir seperti sampah di tangan kirinya. Tak butuh waktu lama untuk membuat Fei menyadari dengan sendirinya keadaannya di dalam game.
Selanjutnya, tiba-tiba sebuah layar berteknologi tinggi muncul dihadapannya entah darimana, seperti layar yang muncul dalam kediaman Iron Man.
Gamer: Fei
Kelas: Barbarian
Level: 1
Experience: 0/5000
Strength: 30Dexterity: 20
Intelligence: 10Vitality: 20
Damage: 3-7Accuracy: 102
Armor: 11Endurance: 92
Health: 45Resource (Fury): 10
Fire-Resistance: 0Cold-Resistance: 0
Lightning-Resistance: 0Poison-Resistance: 0
……
“Ini adalah atribut-ku dalam game?”
Fei melihat namanya di atas layar. “Apa-apaan! Aku baru saja menjadi raja dan sekarang aku berada dalam dunia game? Dan seorang barbarian? NOOO! Setidaknya biarkan aku menjadi lebih berkelas seperti seorang wizard atau crusader.”
Saat itu, seorang berbaju zirah biru berlari kearahnya.
“Selamat datang, orang asing. Aku tak terkejut melihat orang sepertimu disini. Banyak pengelana sudah berjalan kesini sejak masalah baru-baru ini dimulai. Aku ragu kalau kau sudah mendengar tragedy yang menimpa kota Tristam. Beberapa orang berkata kalau Diablo, sang Dewa Teror, kembali berjalan di dunia ini lagi…”
Pria itu terus menerus bercerita dengan dialognya. Rahang Fei langsung jatuh.
Sebagai salah satu fans asli dari game Diablo, Fei langsung mengenali kalau orang ini adalah Warriv, seorang NPC (Karakter yang tak bisa dimainkan) dari [Rogue Encampment] dari baris dialog-nya dan cara berpakaiannya. Setiap kali seorang pemain baru muncul, pria ini akan berlari ke pemain itu dengan tanda tanya emas besar diatas kepalanya.
Fei mengamatinya sembari mendengarkan kata-katanya.
Gerakannya ataupun ekspresi wajahnya tak tampak seperti sebuah/seorang NPC. Kalau Fei tak mengenali orang ini, dia akan berpikir kalau Warriv adalah orang asli. Bahkan panas yang ia hembuskan saat berbicara berubah menjadi kabut putih di udara yang dingin. Fei bahkan merasakan kelembabannya.
“Aku tak begitu yakin apakah NPC di dunia ini punya kecerdasan?”
Setelah Warriv menyelesaikan pidato panjanganya, Fei dengan sengaja menanyakan beberapa pertanyaan.
“Hey, apa nama gadis ibumu? Dimana kau tumbuh besar?”
Akan tetapi, Warriv tak menghiraukan pertanyaannya. Dia langsung pergi setelah selesai.
Meninggalkan Fei yang masih tak tau apa-apa.
Setelah berpikir sementara waktu, Fei memutuskan untuk menemui orang lain – Priestess (pendeta wanita) Akara.
Dari ingatan bermain gamenya, kalau ia mengingat dengan jelas, quest (misi/penyelidikan) pertama di peta pertama Diablo [Rogue Encampment] muncul darinya, seorang priestess tinggi dari persaudarian “Sightless Eye” (Mata tanpa Pengelihatan). Selain itu, dia juga adalah pimpinan dari [Rogue Encampment] jadi Fei harus menemuinya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Jalanannya cukup sepi dan tak bernyawa.
Fei melewati beberapa tenda dan pagar sebelum akhirnya ia menemukan tenda priestess Akara dibelakang kurungan kereta kayu. Ada begitu banyak botol dan guci berbentuk aneh yang mengelilingi tenda. Fei merasa dia cukup jauh tapi dia sudah bisa mencium bau aneh yang muncul dari dalam guci/botol itu.
Akara, yang mengenakan baju biarawati berwarna ungu, sedang berdiri didepan tendanya.
Fei berjalan kesana dan melihat tanda tanya berwarna emas muncul diatas kepala Akara.
“Aku adalah Akara, seorang priestess tinggi dari persaudarian Sightless Eye. Aku menyambutmu, pengelana…..” Akara mulai mengenalkan dirinya sendiri, sama seperti di game aslinya.
Seperti yang telah diduga, setelah percakapan itu, dia memberi Fei sebuah quest.
“Sarang Iblis”, bunuh semua makhluk jahat di goa iblis di [Ladang Darah], tepat diluar [Rogue Encampment]. Sama seperti apa yang diingat oleh Fei. Sebuah tombol merah yang diproyeksikan muncul di sisi kiri pengelihatan Fei.
Dia menekan tombol itu dan deskripsi yang detil muncul. Tampaknya dia tak punya pilihan lain jadi ia menerima quest yang diberikan.
Fei mencoba menata kata-katanya agar tampak lebih berkelas. “Akara yang Terhormat, apa aku bisa menanyakan hal mengenai tempat ini?”
Dia ingin tau apakah NPC disini punya kecerdasan dan dia berharap dia bisa mendapatkan petunjuk kenapa ia bisa muncul di dunia ini.
“Pengelana muda, kau harus menyelesaikan quest pertamamu sebelum mengetahui lebih banyak hal…”
Jawaban dari Akara mengejutkan Fei.
Ini bukanlah sesuatu yang dinaskahkan dalam game aslinya. Itu menunjukkan kalau di dunia ini, NPC punya beberapa kebebasan, dan mereka bukanlah sejenis kode yang sudah di program sebelumnya.
Fei ingin bertanya lebih lanjut, tapi Akara sudah berbalik dan pergi ke tendanya.
Dia mencoba mengikutinya tapi di halangi oleh kekuatan misterius dan tak bisa masuk dalam jarak satu meter dari pintu masuk tenda.
“Tampaknya aku harus menyelesaikan quest terlebih dahulu…”
Setelah gagal mendapatkan jawaban dari beberapa NPC lain di [Rogue Encampment], Fei berjalan keluar dari gerbang yang dijaga oleh pengembara perempuan, dan melangkah masuk ke [Ladang Darah] yang berbahaya dimana ada banyak monster mengintai.
“Peringatan!! Gamer Fei, kamu sudah memasuki [Ladang Darah]. Membunuh monster akan memberimu kejutan yang tak terduga… tapi kalau kau gagal menyelesaikan quest, kau akan mendapatkan hukuman/penalti misterius!” kata suara misterius sebelum akhirnya tertawa seperti seorang maniak.
Fei mengenali suara yang muncul dalam benaknya tadi. Suaranya begitu cepat hingga membuat Fei hanya mendengar beberapa kalimat pertama saja. Tawanya dipenuhi dengan rasa tamak; tapi, kalau dibandingkan dengan suara dingin dan seperti mesin sebelumnya, kali ini suaranya benar-benar seperti suara manusia.
…
Setelah tiga jam,
“Haaap!”
Fei memotong [Quill Rat] (Tikus Berduri) dengan kapaknya. Sebuah sorot sinar turun dari langit dan menyelimuti Fei.
“Naik level!”
Ini bukanlah kali pertama hal ini terjadi, dan Fei memang sudah menunggunya. Rasanya sangat nyaman berada di dalam cahaya itu, Fei merasa ingin mendesah. Seluruh luka pendarahan di tubuhnya dari pertarungan melawan monster tertutup dan sembuh dalam jangka waktu tiga detik.
Setelah empat atau lima detik, cahaya itu menghilang.
Dua titik merah gelap muncul dihadapan Fei. Yang dikiri dinamai dengan [Poin Atribut Baru] dan yang dikanan disebut dengan [Poin Skill Baru]. Ini adalah hadiah dari tiap kali naik level.
Fei pertama membuka menu [Poin Atribut Baru].
Tiap kali setelah naik level, akan ada lima poin yang bisa digunakan Fei untuk meningkatkan kondisi fisiknya. Dia membagikan tiga poin ke [Strength] (Kekuatan) dan dua poin ke [Vitality] (Vitalitas) tanpa berpikir. Ini adalah atribut utama dari seorang “Barbarian”.
Dia kemudian membuka menu [Poin Skill Baru] dan menaruh satu poin yang ia dapat dari naik level ke [Weapon Mastery] (Penguasaan Senjata).
Fei sekarang adalah “Barbarian” level lima. Dengan dua puluh lima poin atribut yang sudah dibagikan ke [Strength] dan [Vitality]. Dari lima poin skill yang didapatkan, tiga ditaruh di [Weapon Mastery] dan dua ditaruh di skill seruan perang [Howl] (Lolongan/Auman).
Alasannya mengaturnya sedemikian rupa adalah karena ini adalah dunia nyata.
Sebagai seorang pemain; Fei bisa terluka dan cedera dari pertarungan melawan monster. Dia tidak hanya kehilangan darah, tapi dia juga seratus persen merasakan rasa sakitnya juga.

Apa yang perlu disebutkan adalah semua hal di dunia ini benar-benar nyata, bahkan monsternya. Mereka bukanlah program atau kode. Teriakan mereka, darah yang muncrat serta tubuh yang terpotong membuat tiap saraf di tubuh Fei kesal.
Share:

Blogroll

BTemplates.com

Search This Blog

Powered by Blogger.

Pages