Light novel indo Novel indo Isekai novel indo

Hail the king chapter 37

“Hu-”
[Skeleton Archer] yang ia serang mulai menciut dan seluruh tulang putihnya menjadi hijau gelap. Ini adalah efek spesial dari serangan racun dari [Storm Sabre]. Juga tambahan damage dari pedang yang menyerang para undead, [Skeleton Archer] yang malang bahkan tak punya kesempatan untuk meneyrang, dan hancur berkeping-keping menjadi fragmen tulang.
Serangan tiba-tiba Fei berhasil. Ia memberinya rasa dari obatnya sendiri.* sementara Fei menikmati rasa pencapaiannya, kerumunan [Skeleton Archer] yang jauh bereaksi.
*sama kaya senjata makan tuan.
“Twing, Twing Twing, –” semua tali busur dibentangkan dan panah yang banyak jumlahnya melayang pada Fei seperti bulir hujan disaat badai.
“Sudah dimulai!” Fei mengangkat [Azure Spiked Shield]-nya, menghalau panah sementara terus mundur dengan cepat. ia merencanakan untuk merusak formasi [Skeleton Archer[ dan membunuh mereka satu persatu.
Akan tetapi –
“Whuush, whuush, whuush, whuush!”
Panah es biru melayang kearah [Skeleton Archer] dibelakang Fei. Ia berbalik dan menyadari kalau Elena tak mengikuti perintahnya untuk mundur, tapi malah mendekati para [Skeleton Archer] sembari meluncurkan panah.
“Sialan!” Fei tau ia sedang berada dalam masalah.
Ini adalah kali pertama Elena tak mendengarkan Fei. Tampaknya ia tak  tahu bahaya tersembunyi yang berada di Tristam. Kalau ia terus menerus menyerang kembali, itu tak akan membunuh semua [Skeleton Archer] yang licik. Malahan, itu akan menempatkan Fei dan dirinya dalam situasi yang berbahaya.
Ada dua mini-boss yang bersembunyi dikerumunan. Dan panah mereka mempunyai damage besar serta efek magis. Satu menembakkan panah es sama seperti panah Elena, yang mana akan menurunkan pergerakan serta kecepatan serangan; yang satunya menembakkan panah halilintar yang akan menyungkil sebagian besar darah. Bahkan untuk barbarian seperti Fei yang mempunyai banyak darah, ia tak berani melawan mereka secara langsung.
Ia berencana untuk meneguk [Health Potions] saat melawan mereka dengan gaya gerilya. Kalau keberuntungan tak berada di sisinya, ia bisa mengganggu monster dan iblis di area lain Tristam.
Kalau boss akhir Griswald tertanggu, konsekuensinya akan menjadi bencana.
“Pergi kembali! Cepat!” Fei berteriak pada Elena, memberi isyarat padanya untuk pergi.
Akan tetapi, ini sudah agak terlambat. Para [Skeleton Archer] menyadari sang mercenary. ‘hujan panah’ yang mengerikan mulai mengerumuni Elena juga.
Elena tak punya zirah yang sama seperti Fei, ia juga bahkan tak punya tameng. Meskipun ia mencoba menghindari panah tersebut, beberapa panah masih menusuk tubuhnya. Darah mulai keluar dari lukanya dan dengan cepat menodai zirah kulit warna biru miliknya.
“Master…. Quest ini lebih penting, jangan mengkhawatirkanku…. Aku akan menarik perhatian mereka. Kau bisa pergi dari samping dan menyelamatkan tuan Cain! Cepat pergi!”
Panah-panah yang melayang masih menembus tubuhnya. Ia banyak berkeringat karena rasa sakit yang tak tertahankan. Wajahnya pucat, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan determinasi. Ia menggelengkan kepalanya dan menggigit rambut merah panjang indahnya untuk menahan rasa sakitnya. Akan tetapi, gerakan tangannya tak melambat karena lukanya, dan ia kembali memberikan serangan meskipun jumlah luka di tubuhnya terus bertambah.
Baju pelindungnya sudah bersimbah dengan darahnya, tapi Elena terlihat seperti Dewi Perang yang tak akan gentar. Rasa takut tak terlihat di wajahnya, tapi kebencian terlihat di kedua matanya. Langkah demi langkah, Elena semakin mendekat pada kerumunan [Skeleton Archer].
Tapi saat itu –
“Krak –!”
Satu dari boss-mini [Bone Warrior Archer] bereaksi. Sebuah panah halilintar berbahaya menyerang Elena dengan akurat. Tubuh mercenary tersebut bergetar. Ia hampir seketika terjatuh ke tanah. Karena ia saat ini berdiri di tempat yang sama, batang darah yang dimilikinya menurun dengan gila dibawah hujan panah.
“Sialan!”
Fei khawatir kepadanya. Ia menghiraukan panah yang melayang kepadanya dan berlari ke Elena dan memeluknya dengan kedua tangannya. Kemudian ia menuangkan [Minor Healing Potion] ke tenggorokannya seraya menggunakan seruan [Howl] untuk membuat takut para monster yang mendekati mereka. Kemudian, ia dengan cepat menggunakan [Town Portal Scroll]. Saat monster mulai membanjiri mereka, ia dengan cepat melompat kedalam portal oval biru bersama dengan Elena.
“Buzz, buzz”
Mereka dengan beruntung lari dari kematian dan kembali ke [Rogue Encampment]
Karena [Minor Healing Potion]. Elena sudah hampir pulih sepenuhnya, dan pikirannya sudah jelas. Fei di sisi lain terluka parah di bagian punggungnya. Panah es dan halilintar dari kedua boss-mini hampir melumpuhkannya. Meskipun ia tak mati, tapi ia hanya memiliki 30 darah yang  tersisa setelah semua pendarahan yang dialami; beberapa panah lagi bisa membunuhnya.
Ini benar-benar situasi yang sangat mengerikan. Fei tak tau apakah ia bisa hidup kembali atau tidak dan apakah ia akan benar-benar mati di dunia nyata juga kalau ia mati di dunia Diablo.
“Sialan, aku tak bisa bertindak seperti pahlawan sepanjang waktu!”
Fei mencium bau wangi dari tubuh Elena, tapi tak punya waktu untuk menikmatinya sama sekali. Ia mengambil sebotol [Minor Healing Potion] dan meminumnya sendiri. Ia melemparkan satu pada Elena, dan kemudian menarik keluar panah di belakang punggungnya. Darah mulai muncrat keluar lagi, jadi ia harus meminum satu botol lagi untuk melawan rasa sakitnya.
Untungnya, [Minor Healing Potions] rasanya manis dan tak punya efek samping.
“Bangsat, rasa sakit sialan….. hey, cantik, kenapa kau tak mendengarkanku? Aku menyuruhmu sejak awal untuk mundur, bukan?”
Darah Fei sudah penuh lagi. Fei harus menyalahkan mercenary seksi ini; kalau saja ia mendengarkannya, mereka tak akan berada dalam situasi seperti ini.
Elena menurunkan kepalanya dan air mata memenuhi matanya. Ia tak balik berbicara. Ia juga tak meminum [Minor Healing Potion]-nya. Ia mengenggamnya di tangannya karena ia tak ingin meminum potion seberharga ini. luka ditubuhya masih belum sepenuhnya pulih dan ia juga hampir menangis. Hati Fei melunak saat melihatnya, jadi ia tak menyalahkannya lagi.
“Tak apa, minumlah potion-nya…. Oh, ya. Kau tak perlu mengikutiku kembali ke Tristam nanti. Aku tak akan bisa mengawasimu disana. Setelah aku menyelesaikan quest-nya, aku akan kembali dan mencarimu.”
Setelah memikirkannya, Fei menumutskan untuk meninggalkan Elena di perkemahan dan menyelesaikan quest-nya sendiri. Kalau mereka berdua pergi. Fei benar-benar tak akan bisa mengawasinya nanti. Seorang pemanah tak akan efektif saat melawan sekelompok pemanah. Kalau [Skeleton Archer] terus mengganggu mereka, mereka tak akan bisa bekerjasama dengan baik dan mercenary seksi ini akan dikerumuni oleh monster dan dicabik-cabik menjadi berkeping-keping.
Akan tetapi, Elena salah memahami maksud Fei.
“Ah? Jangan! Tolong jangan pecat aku, master….. lain kali….  Lain kali, aku bisa menjaga diriku sendiri…. Aku bisa menjaga diri sendiri… aku….”
Kepanikan Elena mengejutkan Fei. Ini mungkin kali pertama ia berbicara sebanyak ini pada Fei.
Sudah lama, Tristam hancur, jadi jalan ke timur dihadang oleh seluruh monster. Para pengembara di perkemahan hanya bisa mendapat item dan potions dari pengelana seperti Fei untuk menjaga keberadaan kemah di lading ini. item dan potion yang disediakan oleh Charsi dan Akara tak cukup untuk menyokong seluruh kemah.
Akumulasi sumberdaya selama seluruh sejarah perkemahan sudah habis dalam kurun 60 tahun terakhir saat semua pengelana menghilang. Kalau ini berlanjut, seluruh perkemahan akan dikalahkan oleh para monster dan iblis dan jatuh dalam satu tahun.
Kemunculan Fei di [Rogue Encampment] adalah kesempatan agar perkemahan terus bertahan. Ia adalah pengelana pertama yang melangkahkan kaki ke perkemahan setelah 60 tahun. Para pengelana ini bisa mendapatkan item dan potion dan wilayah tersebut yang tak akan mungkin bisa di dapatkan para rogue. Ini adalah alasan kenapa Kaysha dengan sukarela menyediakan mercenary untuk Fei, seorang yang benar-benar asing di perkemahan, meskipun ia tahu kalau banyak rogue digunakan dan dihina oleh para pengelana.
Ini semua adalah cara bertahan hidup perkemahan dan penghuninya. Seseorang harus membuat pengorbanan. Elena bukanlah yang paling kuat diantara para rogue perempuan, tapi ia jelas adalah yang paling cantik dan seksi. Untuk menjaga kerjasama dengan Fei, jenis pengorbanan seperti apapun harus dilakukan – termasuk memberikan jiwa dan raga para rogue perempuan.
Kalau Elena tidak beruntung dan mati di tanah perburuan selama petualangan mereka, rogue perempuan lain akan mengambil tempatnya untuk menjaga hubungan antara Fei dan perkemahan.
Ini adalah kekejaman dari dunia Diablo – ‘Hukum Rimba’ yang brutal.
Ini adalah cara perkemahan kecil tersebut bisa bertahan sepanjang sejarah, dan bagaimana para penghuninya bisa terus hidup.
Tak diragukan lagi, Fei adalah satu-satunya harapan dan cahaya di [Rogue Encampment] yang hampir mendekati kegelapan abadi. Tak peduli seberapa banyak pengorbanan yang harus mereka buat, para pimpinan perkemahan tak sungkan untuk memberikannya.
Tentu saja, Fei tak tahu tentang semua ini. inilah kenapa Elena yang normalnya tenang dan tak banyak bicara menjadi sangat khawatir saat ia berpikir Fei akan memecatnya.
Kalau ia menyinggung pengelana, itu akan membawa kerugian tak terhitung pada perkemahan. Lebih lagi, Fei sudah sangat perhatian kepadanya di dua jam terakhir, yang mana ribuan kali lebih baik daripada bekerja untuk para pengelana menjijikkan yang ia dengan di dongeng-dongeng. Elena juga mulai terbiasa bertarung disamping Fei. Ia menghargai kesempatan untuk menjadi mercenary Fei.
Share:

Hail the king chapter 36

Elena merasa aman dan tentram kapanpun ia bersama dengan pengelana muda ini. monster yang mengambil saudarinya dan membutuhkan banyak tenaga untuk dibunuh bagaikan kubis dihadapannya. Semua monster dihentikan olehnya dan bahkan tak bisa mendekatinya. Pria itu seperti dinding tak dapat ditembus yang menghalau segala bahaya…..
Kenyataan sudah membalik persepsinya tentang hubungan tuan dan prajurit bayaran yang mereka miliki. Menurut pengetahuan semua orang, termasuk pemimpin Kashaya, prajurit bayaran hanyalah alat yang biasa digunakan oleh pengelana. Beberapa pengelana keji bahkan menggunakan mercenary malang untuk menarik monster dan menggunakan mereka sebagai tameng manusia; hal ini membuat timbulnya korban yang signifikan di [Rogue Encampment].
Tapi untuk menjaga keberadaan kemah dan melindungi penduduk yang lemah dan tak punya kemampuan bertarung, pengembara perempuan harus dijadikan sebagai prajurit bayaran untuk para pengelana dan mengorbankan diri mereka.
Tentu saja, pengelana barbarian muda dihadapannya tidak seperti itu. Elena tak tahu apakah kisah itu salah atau ia hanya beruntung dan bertemu dengan pengelana yang pemberani dan baik hati.
“Mungkin karena waktu telah berlalu. Setelah isolasi selama lebih dari 60 tahun, semua pengelana masa lalu menghilang dan perkemahan menjadi tempat yang ditinggalkan. Ia adalah pengelana pertama yang menginjakkan kaki ke [Rogue Encampment] setelah 60 tahun….. semuanya sudah berubah.” Kata Elena berdalih.
Fei tertawa saat ia melihat ekspresi agak gugup di wajah prajurit bayaran seksi tersebut; ia tak mengatakan apapun. Ia berbalik dan berjalan kembali ke portal. Elena, yang masih mempunyai banyak hal dalam benaknya, dengan cepat mengikuti Fei.
……
Fei menghabiskan kurang dari 10 menit untuk kembali dari [Hutan Kegelapan] ke [Padang Bebatuan
Perjalanannya cepat karena saat Fei hendak membawa gulungannya untuk diterjemahkan oleh Akara, ia juga membeli dua [Health Potion]; satu untuk dirinya dan satu untuk Elena. Juga, monster di jalan kembali sudah dibersihkan semua, jadi tak ada terlalu banyak rintangan.
Mereka dengan cepat menemukan Batu Cairn.
Fei membawa gulungan yang sudah diterjemahkan dan menyentuh lima batu dengan perlahan sesuai urutan yang ditunjukkan di gulungan. Tiba-tiba, langit menjadi gelap dan semuanya
Angin kencang berhembus di tempat itu dan mengangkat semua dedaunan kering dari atas tanah. Suasananya tampak seperti akhir dunia. Saat itu, lima cahaya biru mencuat dari lima batu dan perlahan menjadi satu, membentuk portal merah darah besar di tengah lima batu. Portal tersebut tampak seperti kolam darah, dan sebuah cahaya kuning muncul dari dalam.
Itu adalah portal ke Tristam, dimana pria tua ‘cabul’ Cain di kurung.
Fei berdiri disana dan menghela nafas, “cara kelima batu ini bercahaya cukup mengerikan, batu ini membuat kabut besar.”
Elena juga cukup terkejut.
Apapun yang ia lihat selama mengikuti Fei dalam kurun dua jam terakhir lebih menyenangkan daripada apa yang sudah ia alami selama dua puluh satu tahun terakhir.
“Setelah kita pergi melewati portal, akan ada banyak monster dan iblis. Hati-hati dan ikuti aku dengan seksama, jangan bergegas kedepan….” Fei berbalik dan memberitahu Elena. Ia merasa kalau ia tak menekankan cukup kuat, jadi ia melanjutkan, “Ingat, kalau situasinya menjadi terlalu berbahaya, berbalik dan lari dari sini. Jangan menjadi keras kepala.”
Menurut plot, Tristam sudah dihancurkan oleh Diablo yang sudah bangkit, dan kota tersebut berubah menjadi surga monster dan iblis. Paladin hebat Griswald juga jatuh disini dan berubah menjadi iblis kuat; ia adalah boss di Tristam. Kalau Fei ingin menyelamatkan Cain dan sukses, ia perlu bekerja. Fei yakin kalau ia bisa menyapu bersih semua monster di Tristam kalau melakukannya dengan perlahan. Ia punya sekitar 20 [Minor Healing Potions] dalam [Slot Item]-nya. Potion itu cukup untuk membantu Fei dan Elena di pertarungan mendatang.
Akan tetapi, kalau situasinya menjadi berbahaya, ia mungkin tak bisa melindungi Elena. Kalau pemanah sihir ini dikerumuni oleh monster, ia pasti akan dicabik-cabik menjadi potongan kecil. Itulah mengapa Fei mengingatkan Elena tentang keselamatannya berkali-kali.
Setelah Fei mengatakannya, ia melangkah masuk ke portal dan menghilang dari [Padang Bebatuan].
Hati Elena menjadi hangat. Meskipun tak ada apapun yang spesial dari apa yang dikatakan Fei, ia merasakan perhatiannya – perhatian yang diarahkan pada seseorang yang dekat.
“Ia adalah seorang yang pantas mendapatkan jerih payah dan pengorbananku.”
Ia memikirkan untuk sementara waktu, dan kemudian sebuah ekspresi tegas muncul di wajahnya, seolah ia sudah membuat semacam keputusan. Ia kemudian dengan cepat melangkah kedalam portal.
……
……
Di Chambord.
Mentari hendak naik ke tengah langit.
Musuh berzirah hitam yang misterius masih belum bergerak. Lautan musuh sudah menduduki jembatan di sungai Zuli. Seperti seekor ular hitam besar yang mendesis dengan lidah bercabangnya, mereka menunggu momen terbaik untuk menyerang.
Tekanan yang dirasakan di dinding pertahanan secara konstan terus naik. Tak ada suara di dinding kecuali suara yang muncul dari arus sungai. Semuanya merasa tegang.
Para prajurit dan pemuda berkeringat deras. Moral mereka yang sebelumnya naik sudah menurun hingga ke tingkat berbahaya setelah beberapa jam menunggu. Meskipun Brook membuat para prajurit bergantian setiap dua puluh menit, tekanan yang mereka rasakan menyiksa dan melelahkan untuk semuanya.
Musuh tak memberi tanda-tanda akan menyergap. Keheningan yang abadi menjadi seperti pisau tak terlihat yang menusuk kondisi mental para prajurit, perlahan memotong moral dan keberanian mereka.
hati Brook mulai jatuh seiring berjalannya waktu. Pierce membawa [Pedang Raja] dan berjalan bolak-balik dengan khawatir di depan menara jaga. Semua orang melihat dari dinding yang hancur dari menara jaga. Mata mereka tertuju pada pria muda yang sedang ber-‘meditasi’.
Itu adalah raja Alexander yang secara ajaib sudah pulih. Kalau seseorang berkata bahwa masih ada harapan untuk Chambord di momen tragis ini, maka harapan itu pasti akan muncul dari sang raja.
Bahkan pendekar nomer satu di Chambord, Lampard, tak bisa memberikan semua orang rasa aman yang mereka butuhkan, tapi entah bagaimana, raja yang sebelumnya idiot sudah menenangkan hati mereka yang dipenuhi dengan ketakutan.
……
……
Kembali ke Tristam.
Setelah Fei melangkah masuk ke portal, sekumpulan [Skeletons] (Tengkorak) mengepungnya dengan pedang mereka dan mulai menebaskan kearahnya.
“Sialan, ada sebanyak ini? dan mereka se-agresif ini?”
Fei mengumpat di benaknya, dan kemudian dengan cepat mengayunkan kapaknya. Ia menyerang dengan horizontal dan ‘Boom!’ tiga [Skeleton] terdekat dihancurkan menjadi fragmen tulang.
Tantangan sebelumnya masih belum datang. Sisa dari [Skeletons] membanjiri mereka. Dibelakang [Skeletons] ada [Zombie] yang bergerak dengan lebih lambat, dan [Fallen Shermans] yang memiliki zirah yang tebal. Para monster dan iblis di Tristam sudah bermutasi, dan serangan serta pertahanan mereka meningkat dengan tajam.
Akan tetapi, Fei sudah sangat kuat. Kemanapun kapaknya bergerak, monster berteriak dan mati dengan brutal, tapi kecepatan serangannya masih kurang cepat. ia terluka diantara serangannya dan darahnya dengan cepat terjatuh. Hal ini membuat Fei takut setengah mati; ia menggunakan seruan perang – [Howl] untuk menakuti monster didekatnya dan memberinya kesempatan untuk meneguh beberapa [Health Potions].
Efek dari [Howl] dengan cepat hilang dan para monster mulai menyerbu lagi.
Saat ini –
“Whuuush, whuush, whuuush – !”
Panah dingin melesat ke para monster seperti hujan es.
Elena akhirnya muncul dair portal. Ia menarik busurnya dengan cepat dan semua monster didekatnya membeku.
“Jaga jarakmu, jangan gegabah. Tetap dibelakangku!” Fei berteriak pada Elena seraya menyerang monster lagi dan menghalau mereka sehingga Elena bisa mendapatkan jarak aman dan menyerang dengan konsisten.
Fei menggunakan [Howl] tiap kali ada monster yang terlalu dekat; saat mereka sudah mulai terpengaruh  oleh [Howl] dan mulai berlari, Fei mengejar mereka dan memotong sebanyak mungkin kepala mereka. Setelah efeknya sudah hilang, ia akan mengulang hal yang sama lagi dan lagi.
Setelah sekitar dua puluh menit, kerumunan monster level rendah sudah disapu bersih.
Fei akhirnya punya kesempatan untuk melihat kota Tristam. Tristam sudah hancur dan menjadi reruntuhan. Kota yang dulunya ramai sekarang sudah tak ada lagi. Tanahnya dipenuhi dengan retakan, bangunan-bangunan sudah runtuh dan api neraka membakar apapun dimanapun, menyebabkan asap hitam membumbung tinggi ke angkasa. Para penduduk kota sudah dibunuh oleh monster dan diubah menjadi iblis pencari darah dan undead. Mereka berjalan dan menyerbu ke Fei dan Elena saat melihat keduanya.
Boss terakhir dari Tristam adalah Griswald, paladin yang sudah jatuh. Ia sangat kuat dan susah untuk dibunuh. Akan tetapi, ia bersembunyi di reruntuhan bangunan dan menjaga Cain yang dikurung. Ini memberi Fei beberapa waktu untuk menyiapkan pertarungan akhir.
Fei dan Elena berjalan perlahan, mencoba untuk tak mengganggu boss tersebut. Akhirnya, mereka menemukan kerumunan [Skeleton Archers] (Pemanah Tengkorak). Para pemanah ini sangat pintar, tak seperti [Skeleton] yang hanya tau bagaimana caranya menyerbu. Mereka hanya akan menembakkan panah dari jauh, dan kebanyakan dari mereka tak akan mendekati Fei dan Elena. Beberapa [Skeleton Archer] menyelinap untuk menyerang Fei dan Elena.
Fei memberi isyarat pada Elena unutk mundur, dan kemudian mengganti ke senjata keduanya.
Sebuah cahaya kuning berkilau.
[Azure Spiked Shield] dan [Storm Sabre] muncul di tangan Fei. Ia dengan cepat menyerang dan menancapkan pedangnya pada kepala [Skeleton Archer] yang menyelinap kearah mereka, dan kemudian dengan kencang menggoyang pedangnya.

Share:

Manga(japan) Darwins Game



Darwins Game
Type : Manga
Nama Alternatif : Darwin's Game, ダーウィンズゲーム
Status : Ongoing
Tahun Rilis : 2012
Genre : Action, Mystery, Psychological, Sci-fi, Romance, Shounen

Rating : 7.83 (http://myanimelist.net/manga/48881/Darwins_Game)
Serialization : Bessatsu Shounen Champion
Credit : Mangaku


Sinopsis:
Sudo Kaname, siswa sekolah biasa yang tiba-tiba terlibat dalam sebuah permainan melalui mobile app misterius "Darwin Game". tanpa diduga permainan itu ternyata mengharuskan para pemainnya untuk saling membunuh.

Download Batch :

Darwin Game volume 1 : MediaFire

Darwin Game volume 2 : MediaFire

Darwin Game volume 3 : MediaFire

Darwin Game volume 4 : MediaFire

Darwin Game volume 5 : MediaFire

Darwin Game volume 6 : MediaFire

Darwin Game volume 7 : MediaFire

Darwin Game volume 8 : MediaFire

Darwin Game volume 9 : MediaFire

Darwin Game volume 10 : MediaFire
Share:

Manga(japan) Mushoku Tensei

Mushoku Tensei

Alternative Title:Jobless Reincarnation - It will be All Out if I Go to Another World
Author:Rifujin Na Magonote
Artist:Fujikawa Yuka
Source:KoMBatch
Type:Manga
Status:Ongoing

Sinopsis:

Seorang pria NEET paruh baya, berumur 34 tahun. Setelah diputuskan dari keluarganya baik saudara-saudaranya, dia pun menjadi seorang gelandangan. Disaat tengah berjalan, dia melihat pasangan yang sedang bertengkar di tengah jalan dan berakhir mati setelah ditabrak truk karena menyelamatkan pasangan tersebut. Dia pun dilahirkan kembali dengan ingatan tentang kehidupan lamanya ke dunia berisikan Pedang dan Sihir dengan nama Rudeus Greyrat. Simaklah kisahnya di dunia baru dengan berbagai konflik menarik dan juga kelucuan dari sang bocah Rudeus yang masih memiliki ingatan seorang NEET paruh baya!

Download Batch:

Mushoku tensei 1-5     : MediaFire

Mushoku tensei 6-10   : MediaFire

Mushoku tensei 11-15 : MediaFire

Mushoku tensei 16-20 : MediaFire

Mushoku tensei 21-25 : MediaFire

Mushoku tensei 25-30 : MediaFire
Share:

Hail the king chapter 35

Chapter 35: Keterkejutan Elena
Fei terkejut. Ia dengan cepat memenggal monster dihadapannya dan berbalik untuk melihat apa yang terjadi. ternyata Elena sama sekali tak diserang oleh monster. Akan tetapi, ia melihat tanpa perasaan pada jalan masuk dari goa gelap yang jauh. Tubuhnya menjadi kaku, dan tangannya yang memegang bususr bergetar tak terkendali. Air mata menetes dari wajah pucatnya saat ia melihat pada objek yang menghitam.
Fei khawatir. Ia bergegas ke Elena. Saat ia mendekat, ia menemukan kalau objek kehitaman itu adalah mayat rusak dari seorang pengembara perempuan.
Mayat tersebut mengenakan pakaian pelindung yang umum dikenakan oleh pengembara perempuan. Rambut merahnya juga, tapi terlihat lebih muda dari Elena; sekitar 17 tahun-an. Ia sudah jela disiksa oleh para monster saat masih hidup. Dadanya dirobek terbuka, dan jantungnya hilang. Yang lebih mengerikan adalah goresan di paha kirinya, dan daging di paha kirinya, yang menampakkan tulang dibaliknya. Dagingnya tampak seperti sudah dimakan oleh sesuatu…..
“Oh dewa! ….. tidak…. Dia….. dia adalah Nina, ia emnghilang saat kami mencari makanan di [Ladang Darah], dan ia hanyalah…..”
Elena kehilangan kemampuan untuk berdiri. Ia jatuh berlutut dan tak bisa menahan air matanya. “Ia hanya berumur 17 tahun, dan itu adalah kali pertam aia pergi dari perkemahan dan ikut dalam sebuah misi…. Dan ia dengan sukarela ingin pergi…. Nina bekerja keras di perkemahan. Tak peduli seberapa sulit pekerjaannya, ia selalu memasang senyum cerah diwajahnya dan menyemangati kami seperti malaikat riang, membuat kami tertawa. Bagaimana bisa ini….. wahwahwah…… para monster, semuanya harus pergi ke neraka!”
Setelah mendengarkan tangisan Elena, Fei mengerti sebagaian tentang apa yang terjadi. tampak jelas kalau mayat perempuan ini adalah seseorang yang Elena kenal. Ia diambil oleh monster sebulan yang lalu saat berada dalam misi dan mengalami kematian mengerikan di goa ini.
17 tahun adalah umur dimana seorang gadis seharusnya menikmati hidup dan bersenang-senang, tapi Nina memiliki takdir yang tragis. Ini membuat Fei sedih, meskipun ia tak mengenal siapa Nina sebelumnya.
Dari awal, dunia Diablo memberikan Fei perasaan nyata. Ia merasa sakit saat terluka, dan NPC juga punya kecerdasan mereka masing-masing, dan ia merasa huas, lapar dan letih sat ia bertarung terlalu lama…. Tapi secara tidak sadar, Fei masih memperlakukan dunia ini seperti sebuah game.
Akan tetapi, setelah melihat mayat yang rusak dihadapnnya dan mendengarkan cerita kehidupan Nina, Fei merasa itu semua salah. Dunia Diablo juga merupakan dunia nyata. Semua penduduk di dunia ini tak hanya memiliki kecerdasan, tapi emosi serta perasaan juga. Mereka semua adalah manusia yang hidup, bukan hanya beberapa kode dan naskah.
“Tenaglah Elena, jangan menangis. Mari membunuh semua monster disini dan membalaskan Nina!”
Fei tak tahu bagaimana cara menenangkan seorang gadis cantik yang menangis dengan baik. Ia memegang tangannya dan menenangkan mercenary yang sedang menangis. Seorang ‘Dewi Perang’ yang sebelumya membunuh monster dengan brutal saat ini selemah gadis kecil biasa dan memerlukan perhatian dan perlindungan. Fei sudah melihat sisi lemahnya dibawah sikap independen dan tenangnya.
Mungkin ini adalah sifatnya yang sebenarnya, tertekan oleh lingkungan yang mengerikan. Tak peduli bagaimanapun kuatanya atau tenangnay ia saat menghadapi monster; Elena hanyalah seorang gadis berumur 21 tahun. Di bumi, kebanyakan gadis seumuran ini akan berada disekolah dan memiliki masa depan cerah. Bedanya, di dunia Diablo, mereka perlu berlatih untuk bertahan dan bertarung melawan monster kejam. Tidaklah jarang mereka melihat teman dan keluarga mereka mati dan tak bisa melakukan apapun tentang hal itu.
Fei menggali lubang besar di tanah dengan kapaknya dan mengubur mayat Nina. Saat ia menggerakkan mayatnya, Fei menemukan sesuatu – itu bukanlah koin emas atau item, tapi sekantung bibit tanaman.
Gadis kecil yang keluar dari [Rogue encampment] untuk mencari makanan sudah menyelamatkan ‘harta karunnya’, meskipun ia mati di lingkungan seperti ini. Elena memperlakukan bibit tanaman itu sebagai miliknya yang paling berharga dan menaruhya dengan hati-hati di kantungnya. Setelah tubuh Nina dikuburkan, mereka berdua melanjutkan perjalanan.
Elena masih terangsang pada apa yang terjadi dan memindahkan kesedihannya menjadi kemarahan pada para monster. Fei tak begitu banyak bertarung; tiap kali ia ingin menyerang, sebuah anak panah akan membunuh monster yang bisa ia lihat dan mengirim mereka ke neraka.
Sikap Elena pada Fei berubah banyak. Meskipun mereka tak banyak berbicara saat terus menekan maju ke jalan yang gelap, Fei merasakan kedua amta dibelakangnya menjadi lebih lembut saat Elena melihat kearahnya…..
Saat mereka berjalan maju, mereka menemukan banyak mayat dari pengembara perempuan. Untuknya, Elena tak mengenal mereka, jadi ini tak membuat Fei kereopan. Kana tetapi, ia sangat kasihan, jadi ia mengambil waktu untuk mengubur pengembara malang ini dengan baik.
Karena Fei memiliki ingatan tentang permainan orisinalnya, ia memilih jalan yang langsung mengatar mereka ke [Hutan Kegelapan] daripada pergi ke lantai dua dari [Jalur Bawah tanah].
Suasananya menjadi lebih cerah, sama seperti saat Fei dan Elena pertama kali berjalan keluar dari [Jalur Bawah Tanah] ke [Hutan Kegelapan].
[Hutan Kegelapan] tidaklah gelap. Ada lebih banyak rumput dan pepohonan dibanding di [Ladang Darah] dan [Dataran Dingin] meskipun sama sekali tak tampak seperti hutan sama sekali.
Hujan jatuh dari langit. Fei menatap ke kejauhan dan menemukan kerumunan monster dan iblis. Mereka tampak lebih agresif. Saat mereka melihat dua orang muncul dari portal, mereka mulai berlari kearahnya dan berteriak dengan kencang.
“Wuuush, wuuush, wuush –!”
Rentetan panah es meluncur seolah mereka adalah peluru dari senjata mesin.
“Whir, whir, whir –”
Kapak dua tangannya mulai ditarik pada lintasan mematikan saat Fei mengayunkannya dengan keras.
Dibawah pembantaian dari dua pendekar gila, para monster dan iblis mati secepat mereka menyerbu.
Fei dan Elena menghancurkan monster sama seperti seorang petani memanen tanaman mereka.
Teriakan mengenaskan mengisi hutan tersebut. Mereka berdua dengan cepat mednekati pohon layu setinggi 50 meter sementara melangkahi daging dan darah dari para monster.
Ini adalah pohon Inifuss.
Ada banyak tumpukan mayat dibawahnya. Kerumunan lalat mengitari diatasnya. Disana bahkan ada beberap amayat yang bergantung di cabang pohon, meneteskan darah hitam dan nanah. Bau disekitar pohon tersebut bisa dengan mudah membuat orang muntah. Keadaan disana sama seperti neraka.
Fei menekan hidungnya sat ia perlahan mendekati pohonnya, dan kemudian dengan lembut menyentuhnya.
“Pa!”
Sebuah gulungan perkamen terlempar dari pohon.
Fei mengambilnya dan membukanya. Ada lingkaarna besar yang digambar dengan material berwarna merah gelap seperti darah. Lingkaran itu memiliki bintang lima titik, tapi Fei tak bisa memahami apapun.
“Tampaknya aku harus menerjemahkannya di Akara.”
Fei melemparkannya ke dalam [Slot Item]-nya dan mengambil beberapa item berharga yang dijatuhkan monster. Ia kemudian menggunakan [Town Portal Sccroll], dan portal biru kembali muncul.
Fei berbalik dan memberi sinyal Elena yang menjaganya untuk mengikutinya kedalam portal. Akan tetapi, sekali lagi ekspresi terkejut muncul di wajah Elena.
“Ini…. adalah [Town Portal Scroll]?”
Suara Elena bergetar, seolah ia tak bisa mempercayai kedua matanya.
Mercenary seksi itu berpikir di dalam benaknya, “Kalau saudari-saudariku punya jenis gulungan ajaib seperti ini, seberapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan? Mungkin Nina masih bisa hidup….”
“Benar, ini adalah [Town Portal Scroll].”
Meskipun Fei menemukan perubahan pada suasana hati Elena, ia tak terlalu memikirkannya, “Apa yang spesial dari [Town Portal Scroll] yang hanya berharga 80 koin emas?” waktu sangat padat dan ia perlu banyak waktu untuk melakukan rencananya. Tak ada waktu yang bisa disia-siakan, jadi ia menjawab dengan santai dan melangkah kedalam portal.
……
[Rogue Encampment]
Fei langsung pergi ke pendeta Akara untuk menerjemahkan gulungannya. Elena mengikuti Fei dan dengan hati-hati pergi kedalam portal. Ini adalah kali pertama Elena menggunakan portal untuk kembali ke perkemahan,jadi pikirannya dipenuhi dengan rasa terkejut dan penasaran. Ia berencana untuk mengunjungi para saudarinya untuk memberi tahu kematian Nina, tapi setelah memikirkan identitas barunya dan quest Fei, ia ragu dan akhirnya menghentikan rencananya.
Setelah sekitar tiga menit, Fei bergegas kembali dengan gulungan perkamen di tangannya.
“Kenapa kau tak pergi dan berbicara pada saudarimu?”
Share:

Hail the king chapter 34

Chapter 34: Perubahan Tidak Terduga
Quest ini memang rumit, tapi ini juga sangat penting untuk plot dalam dunia Diablo secara keseluruhan. Ini karena setelah pemain menyelamatkan pria tua ‘cabul’ Cain dari ruang misterius yang disebut Tristam, pria tua itu akan berada disekitar pemain dimanapun mereka pergi dan akan memberikan berbagai jenis quest yang menyambungkan plot menjadi satu di Diablo.
Sebelum Fei memulai quest-nya, ia memeriksa itemnya dua kali dan detik dari quest-nya.
Quest ini tidak terlalu menantang unutk kondisi Fei saat ini. setelah menghitung waktunya, Fei merasa kalau ia bisa menyelesaikan quest ini dalan dua jam kalau semuanya berlangsung dengan mulus. Mungkin ada waktu lebih untuknya melakukan sesuatu yang ia rencanakan sebelumnya sebelum ditendang keluar. Fei memutuskan unutk pergi dan mencari pohon Inifuss.
Sebelum ia pergi dari perkemahan, ia memandangi mercenary seksi Elena yang mengikutinya dalam idam. Ia memikirkan sesuatu dan pergi kembali ke penempa perempuan Charsi. Ia menghabiskan sekitar 1,000 koin iemas dan membeli busur kuat, baju pelindung kulit tebal, dan sebasang sepatu kulit tebal dan topi dengan kualitas tinggi yang dibuat untuk karakter perempuan.
“Hey cantik, kau bisa mengenakan item ini bukan?”
Fei memasang senyum cerah diwajahnya. Ia berkata ke Elena, “Kalau kau bisa menggunakan ini, maka kenakan. Saat menghadapi monster dan iblis, sedikit kekuatan tambahan akan meningkatkan kesempatan hidup kita.
“Ini…. ini semua untukku?” elena terkejut; ia sama sekali tak menyangka hal ini. ini semua tampak begitu tak masuk akal.
“Apa kau pikir aku sesakit itu untuk mengenakan item wanita?” Fei merasa kalau mercenary seksi dihadapnnya sangat senang. Ia agak sedikit bingung; item ini hanya berharga sekitar 1,000 koin emas dan tak begitu bagus menurut standar Fei. Ini sama seperti membandingkan segenggam rumut dengan pohon besar kalau item itu ditempatkan disamping senjata dan pakaian pelindung Fei.
“Kenapa kau begitu senang?” Fei tak tahu.
“Terimakasih, pendekar muda.” Setelah mengkonfirmasi kalau item tersebut diberikan untuknya, Elena menenangkan dirinya. Ia menunduk dan berterimakasih pada Fei dan membawa item-nya ke tenda dibelakang Charsi.
Seketika, suara dari Elena berganti pakaian datang dari dalam tenda; Fei berharap kalau ia punya pandangan x-ray.
Setelah sekitar 20 detik, Elena berjalan keluar. Mata Fei bersinar. Tampilan baru Elena benar-benar sangat baik. Baju pelindung kulit tebal diselimuti dengan cahaya biru menguraikan tubuh sempurnanya. Dengan busur ditangannya dan anak panah di punggungnya, ia tampak seperti dewi perang.
“Haha, item itu cocok untukmu. Ayo berangkat!”
Fei merasa kalau hidungnya akan mimisan sebentar lagi. Ia berpura-pura semuanya baik-baik saja, berbalik an mulai berjalan kearah gerbang dari perkemahan.
Alasan Fei membelikan item untuk mercenary seksi ini bukan sepenuhnya karena ia cabul; Elena adalah petarung hebat. Meningkatkan kekuatannya akan membantu Fei untuk menyelesaikan quest-nya dengan cepat.
Senyum muncul di wajah Elena, tapi senyumnya menghilang beberapa waktu setelahnya dan sikap tenangnya kembali. Ia tak mengatakan apapun dan mengikuti Fei dengan tenang.
……
……
“Wuush!”
Tiga [Fallen Shaman] berteriak seraya terjerembab ke tanah.
“Ting!”
Sebuah magic item biru jatuh dari mayat monster. Fei sangat bersemangat. Ia mengambilnya dan melihat cincin berbentuk unik. Item itu masih belum teridentifikasi, jadi ia tak tahu atribut yang dimiliki oleh item itu.
Setelah menggunakan [Identify Scroll], Fei menemukan kalau cincin itu adalah [Glimmering Ring] (Cincin Berkerlip), +8 Resources (Fury), +5 radius cahaya. Item ini tak begitu berguna untuk barbarian yang bertarung dalam jarak dekat, tapi Fei tetap mengenakannya; ini lebih baik daripada tidak sama sekali.
Elena melirik kesekitar dengan cermat, menjaga sikap waspadanya sembari Fei melakukan hal itu. apa yang membuat Fei merasa aneh adalah ia merasa kalau Elena tak bisa melihat item yang terjatuh dari monster. Ini karena mercenary seksi itu melihat kearahnya dengan aneh, seolah ia adalah seniman pantomim.
“Apa mungkin kalau penghuni dunia Diablo seperti Elena tak bisa melihat item yang terjatuh dari monster?” sesuatu muncul dalam benak Fei, “Jadi ini berarti…. Di dunia ini, hanya aku seorang yang bisa mendapatkan item dari membunuh monster?”
Hipotesis ini mengejutkan Fei. Ia merasa kalau ia sudah menemukan sesuatu, tapi ia tak bisa memikirkan sesuatu itu.
……
……
Waktu sangat ketat. Fei dan Elena bergerak dengan cepat menggunakan peta.
Dalam tempat terdalam di [Ladang Bebatuan] yang terhubung dengan [Dataran Dingin], Fei membawa Elena melewati portal yang membawa mereka berdua kedalam [Jalur Bawah Tanah].
Setelah mereka menginjakkan kaki ke [Jalur Bawah tanah], mereka hanya bisa melihat kegelapan.
Tak ada secercah cahaya-pun dijalur ini, dan angin dingin berhembus kearah mereka.
Suara teriakan tajam dan mengerikan dari monster bergema melewati bagian terdalam dari jalur ini. sebuah bau amis memenuhi seluruh jalur dan memubatnya menjadi lebih mengerikan.
“Waspada! Tetap berada dibelakangku. Ingat, jangan pernah pergi kedepanku.” Fei berablik dan memberi perintah pada mercenary-nya.
Dia adalah barbarian, yang mana secara alami punya lebih banyak darah dan pertahanan. Ia bisa beraksi sebagai pelindung yang menahan semua damage di depan. Elena di sisi lain adalah pemanah sihir jarak jauh. Ia punya damage tinggi, tapi darah dan pertahanan yang lemah. Kalau monster mendekat ke dirinya, ia akan berada dalam situasi berbahaya.
Elena tertegun. Ia tak menyangka kalau pengelana muda dihadapannya ini bisa membuat keputusan seperti itu. ini benar-benar berbeda dennga mitos mengerikan yang diceritakan disekitar [Rogue Encampment], dimana para pengelana kebanyakan akan menggunakan mercenary sebanyak mungkin. Sebelumnya, Elena berpikir kalau nasibnya akan sama seperti pengembara perempuan dari 60 tahun yang lalu; ia akan digunakan sebagai umpan unutk menarik monster oleh Fei dan berfungsi sebagai perisai manusia, tapi….
Sementara mercenary seksi ini masih syok, Fei sudah mulai menyerbu.
“Huaaa – !”
Fei menggunakan seruan perang – [Howl] seraya mengayunkan kapak besarnya.
Ia memotong tiga kali dengan mudah dan memisahkan tiga [Goatman] (Manusia Kambing) yang berlari kearahnya menjadi enam bagian dari pinggang.
“Ayo! Kita harus berjalan melewati ini dengan cepat!’
Fei berbalik dan bicara pada Elena seraya terus menyerbu. Ia segera menghilang di kegelapan; Elena akhirnya bereaksi dan mengejar Fei.
Banyak monster dan iblis yang berlari kearah Fei seperti banjir. Ia melangkah kedepan dan hampir menyerang saat ia mendengar suara wuuush muncul dari belakangnya. Sebuah panah biru melayang melewati Fei dan menancap pada empat monster tepat di kepala mereka. Sihir di anak panah itu meledak dan mengubah mereka menjadi patung es; tak ada kehidupan didalamnya.
“Sakit!”
Fei memberi Elena jempol besar.
Pengembara perempuan ini bukan hanya gadis cantik yang bisa dilihat.. kemampuan menembaknya juga luar biasa. keempat anak panahnya menyerang monster dengan tangkas di lingkungan yang gelap; kemampuannya sudah membuktikan nilainya pada Fei.
Elena tak bereaksi sama sekali dengan pujian Fei.
Ia tetap membuat tali busurnya meregang, “Wuush, wuush, wuuush –” tiga anak panah lagi ditembakkan dan mengirim tiga [Goatman] lainnya ke neraka.
Fei menemukan kalau mercenary seksi ini adalah seorang pemanah sihir es. Semua anak panah yang ia tembakkan bukan hanya sangat kuat dan memberikan banyak damage (luka). Anak panahnya juga melambatkan pergerakan dan kecepatan serang mereka. Ia secara harfiah adalah mercenary paling suportif yang bisa diharapkan oleh Fei.
Mereka terus bergerak melewati jalur itu.
[Jalur Bawah Tanah] sama seperti labirin. Ada banyak jalan kecil yang berlekuk dan cabang di jalur itu; dan sangat mudah untuk tersesat. Monster menyerang dari beragam sudut dan tempat tersembunyi. Jalur ini sama seperti versi mudah dari neraka; angin dinign berhembus dan monster berteriak.
Fei sudah cukup banyak membunuh dan mendapat cukup banyak pengalaman sudah tak terpengaruh oleh ini.
Elena juga tampak sudah pernah mengalami situasi seperti ini dan tak takut juga.
Setiap kali ai menarik tali busurnya, satu monster terbunuh. Tentu saja, saat berhadapan dengan [Disfigured Taints] (?), [Giant Spiders] (Laba-laba Raksasa), dan [Yeti Wendigos], semuanya yang merupakan monster level tinggi, membutuhkan lebih dari satu anak panah. Tanpa bantuan Fei, ia perlu tiga anak panah untuk menjatuhkan satu diantara mereka. Terlebih lagi, ia harus menjaga jarak dari monster selama proses ini untuk benar-benar sepenuhnya menggunakan busur dan anak panahnya.
Setelah sekitar 20 menit, koordinasi mereka menjadi lebih cakap. Seolah mereka sudah tahu apa yang orang lain akan lakukan, mereka jarang berbicara satu sama lain selama prosesnya, tapi mereka menjadi semakin terkoordinasi. Fei mengayunkan kapaknya dan menghancurkan semua monster yang dekat, sementara Elena akan menembakkan anak panah bekunya untuk membunuh monster yang jauh jaraknya. Kecepatan mereka bergerak melebih ekspektasi Fei.
“Kalau kita bisa menjaga ini, kita bisa sampai di [Hutan Kegelapan] dan menemukan gulungan sialan dibawah pohon Inifuss kurang dari setengah jam!”
Fei menjadi semakin optimistis tentang misi ini.
Saat itu, sesuatu yang tak terduga terjadi –
“AHH!!!”
Mercenary sesksi yang sedang menembaki monster dibelakang Fei tiba-tiba berteriak. Fei mendengar kepanikan, amarah dan rasa sedih di teriakan itu; seolah sesuatu yang mengerikan terjadi.
Share:

Blogroll

BTemplates.com

Search This Blog

Powered by Blogger.

Pages