Light novel indo Novel indo Isekai novel indo

Hail the king chapter 49

“Dewa memberkati!”
Fei tak lupa untuk terus memberi motivasi pada para pria kuat ini.
Kapaknya tak melambat sembari berteriak. Wuush wuush, ia memotong dua kali dan musuh dihadapannya sudah terpotong menjadi tiga bagian. Ia menaikkan kepalanya dan menyadari kalau formasi kacau musuh sudah mundur dua yard dan menyiapkan lapisan pertahanan lagi.
Fei agak terkejut. Reaksi musuh dan kecepatan mereka berkumpul kembali benar-benar diluar perkiraannya. Tampaknya menekan maju akan jauh lebih sulit sekarang. Akan tetapi, tak mungkin mereka menarik kembali anak panah yang sudah ditembakkan.
Fei tahu jelas mereka harus menghancurkan formasi Menara Perisai ini dengan para pria perkasa dan menghancurkan tangga pengepungan serta trebuchet secepat mungkin.
Saat ini, waktu adalah hidup mereka.
Kecepatan menyerang mereka tak bisa menurun. Semuanya harus selesai sebelum panglima musuh bisa bereaksi dan mengirim perintah. Kalau tidak, saat mereka terkepung dan pendekar berbintang musuh tiba, para dua puluh orang kuat yang bahkan bukan pendekar berbintang dan tak memiliki energi ini tak mungkin bisa kabur, meskipun Fei bisa kabur sendiri.
“Dengan aku sebagai pusatnya, kembali bentuk formasi jarum penusuk! Cepat! cepat! cepat!!”
Mengikuti teriakan Fei, dua puluh dua pria kuat yang posisinya bebas karena pertarungan langsung kembali dalam formasi mereka. Pierce dan Drogba berdiri di kiri dan kanan tepat dibelakang Fei. Mereka berdua dilumuri oleh darah musuh. Lingkaran darah dan pecahan tulang terjatuh dari senjata mereka, membuat mereka tampak seperti iblis dari neraka.
Para pria perkasa yang berdiri dibelakang mereka tampak sama persis, musuh manapun yang bisa mengancam mereka langsung dibunuh seketika, jadi para pria kuat itu tak ada yang menjadi korban dari musuh. Zirah mereka masih meneteskan darah, dan satu-satunya warna yang bisa dilihat dari mereka adalah merah.
Karena Fei, ‘Pencincang Super’ memimpin jalan mereka, tiap musuh yang bisa mencelakai mereka langsung dibunuh olehnya, jadi para pria kuat itu tak memiliki korban. Serangan musuh yang paling kuat hanya meninggalkan beberapa bekas di zirah tebal yang mereka gunakan.
“Semuanya minum air dari kantung air biru dan tunggu perintahku. Saat aku memberi sinyal, langsung serbu mereka!” Fei mengatakannya pada orang-orang kuat dibelakangnya dan menyerang sendiri.
“Bam, bam, bam!”
Sementara ia berlari ke musuh, ia menendang beberapa mayat kesana, yang membuat mereka terbang melewati Menara Perisai setinggi 3 yard dan menghantam musuh di belakang tameng. Beberapa berteriak dan bersorak dibelakang tameng itu, tapi mereka tak menjadi kacau.
Sebenarnya, Fei juga tak berpikir kalau beberapa mayat bisa membuat musuh mereka berantakan.
Dua atau tiga yard jarak hanya memerlukan kurang dari satu detik kalau Barbarian level 12 Fei menyerang, tapi Fei memikirkan sesuatu yang lain saat itu –
“Ganti mode.”
Ia mengatakannya dalam benaknya dan Necromancer Fei langsung muncul.
Tiba-tiba, cahaya putih berkilau dan kapak besar ditangannya menghilang, begitu juga kekuatan fisik luar biasa dari seorang barbarian. Malah, energi kematian putih suram menyelimutinya seperti kabut.
Disaat yang sama, skill Necromancer juga diaktifkan.
[Corpse Explosion] (Ledakan Mayat)  !!!
Banyak energi kematian yang kecil dan hampir tak terlihat keluar dari telapak tangan Fei. Energi itu dengan cepat melalui celah tameng musuh dan masuk ke dalam mayat yang ditendang ke tengah formasi.
“Meledak! Meledak! Meledak! Meledak!” Fei berteriak dalam benaknya. Tiba-tiba, dibelakang ‘dinding besi’ yang menghalangi jalan Fei, ada suara ‘ledakang’ besar, dan kemudian teriakan mengerikan mengikutinya.
Ia menggunakan [Corpse Explosion]!
Lawan yang bersembunyi dibelakang Menara Perisai mengejek keputusan Fei untuk melempar mayat kepada mereka. Kalau beberapa mayat bisa membuat kerusuhan, mereka tak akan disebut elit. Akan tetapi, mereka tak menyangka bahkan dalam mimpi terliar mereka kalau mayat tersebut akan meledak seperti ini. kekuatan ledakannya juga besar. darah tebal dan daging cincang langsung menembus pakaian pelindung mereka, dan ledakan dari bagian tulang seperti anak panah yang dengan mudah menembus baju zirah logam mereka.
Karena mereka tak begitu memperhatikan mayat itu, korban yang berjatuhan begitu besar.
Lebih dari dua puluh musuh langsung terbunuh tanpa membuat suara. Mereka yang lebih tak beruntung anggota badannya terputus, tapi tak langsung mati. Mereka berguling di jembatan seraya berteriak kesakitan. Ada juga beberapa yang sangat sial dan tak kesakitan sama sekali, tapi karena keributan yang muncul, mereka terdorong keluar dari jembatan ke arus deras sungai Zuli. Kepala mereka muncul dari air beberapa kali sembari mencoba untuk bertahan, tapi setelahnya mereka ‘ditelan’ oleh arus dan menghilang….
[Ledakan Mayat] benar-benar terlalu kuat. Itu bahkan membuat ksatria hitam [Dua] terkejut, dan bagian dari tulang yang meledak juga menembus tangan kirinya. Meninggalkan lubang seukuran jempol tangan, dan darah tak berhenti keluar. Meskipun ia memiliki energi dalam tubuh ditambah lagi beberapa kemampuan bertahan, itu tak bisa menahan seluruh kerusakan yang disebabkan oleh [Ledakan Mayat]. Kalau ia tak mengenakan topeng hitamnya, para prajurit jelas akan melihat wajah pucat dan ketakutan miliknya.
Tak ada satupun dari mereka tahu kenapa dan bagaimana mayat itu tiba-tiba meledak dan membuat kekacauan lagi.
Di sisi lain, kecepatan menyerang Fei sama sekali tak melambat. Setelah [Ledakan mayat], ia langsung berganti pada mode Barbarian.
Dengan kembalinya kekuatan fisik yang dimiliki, ia meraung sembari menghentakkan tanah dengan kedua kakinya. Jembatan batu keras dibawahnya membentuk retak saat ia menggunakan skill Barbarian miliknya – [Leap] (Lompat).
“wuuush”
Seperti gunung indah yang tiba-tiba terbang, tubuh Fei membentuk bayangan besar dibawah sinar cerah matahari. Ia lompat setinggi 5 yard dan melewati formasi Menara Perisai dan Tombak Naga yang seperti landak besi, dan hampir mendarat di tempat musuh dibelakangnya.
“Kau akan mati sekarang!”
Ksatria hitam [Dua] melihat kalau musuhnya ‘terbang’ melewati garis depan dan tak memiliki senjata. Ia tahu kalau ini adalah kesempatan besar. ia tak peduli pada luka di lengan kirinya; ia juga lompat dan menempatkan seluruh energinya di tangan kanannya, lalu menusukkan pedangnya pada Fei.
Ia ingin menggunakan teknik pedang indah dan efisiennya untuk membunuh ‘banteng’ dihadapannya yang hanya memiliki kekuatan saja.
Ia yakin ia bisa menang dalam pertarungan di tengah udara, karena ia lebih lincah. Dengan musuh yang mengenakan zirah berat sepertinya, ia yakin kalau ia memiliki seratus cara untuk menembus jantung ‘hewan buas’ ini tanpa bisa dihindari.
Akan tetapi –
“Enyah!”
Fei berteriak di tengah udara dan menendang pedang [Dua] tepat di leher pedangnya.
[Dua] hanya merasakan sesuatu sekilas dihadapan matanya dan tak bisa menangkap pergerakan lawannya sama sekali. Ia kemudian merasa kalau tubuhnya mati rasa dan sakit, seolah ia baru terkena sambaran petir.
Ia tak mampu memegang pedangnnya dan tubuh pedangnya ditendang dari tangannya lalu terbang seperti semut di tengah badai.
“Puuuu-!”
Darah muncrat dari tangan kanan [Dua]. Tangannya terkoyak karena pegangan pedang miliknya ditendang oleh Fei.
Bagaimanapun, mimpi buruk [Dua] tak berakhir disini. Sebelum ia mendarat di tanah, Fei memberinya satu tendangan lagi.
Kali ini, Fei menendang [Dua] tepat di dadanya. suara tulang remuk dan patah keluar dari dalam tubuh [Dua], dan juga ‘lubang’ mengerikan dan dalam berbentuk kaki tertanam di dadanya. tiba-tiba, kecepatan jatuhnya menjadi lebih cepat dan ia menghantam prajurit musuh lain. Musuh terjatuh seperti Domino, dengan musik latar yaitu teriakan mereka….
Jantung [Dua] hancur berkeping-keping setelah ia menerima tendangan di dadanya. jelas sudah tak ada lagi nyawa di dalam tubuhnya. Ia tak membuat suara apapun saat akhirnya terjatuh ke tanah…. Ia jelas sudah mati.
Matanya terbuka lebar dan dipenuhi dengan rasa terkejut, seolah pertanyaan terakhir di benaknya sebelum ia mati adalah bagaimana mungkin seorang pendekar bintang satu bisa mati seperti ayam dibawah kaki seseorang yang bahkan tak memiliki energi.
Tentu saja, kalau [Dua] tahu pria ini adalah ‘hewan buas’ yang ia membunuh dua orang pendekar berbintang satu di pengepungan kemarin, reaksi pertamanya adalah kabur secepat yang ia mampu dan tak menyerang pria ini untuk mendapatkan jasa militer.
Sayangnya, kehidupan tak memberi kesempatan kedua.
Saat Fei masih Barbarian level 5, ia bisa dengan mudah membunuh pendekar berbintang satu. Setelah ia naik level 12, ia bisa membunuh orang seperti [Dua] hanya dengan mengayunkan tangannya.
Setelah melihat panglima mereka sendiri dibunuh dalam satu tendangan, formasi menjadi semakin kacau. Fei mendarat dengan tegas ditengah kerumunan lawan dan memanggil kapkanya. Sementara itu cahaya putih muncul, kapak barbarian yang besar dan berbahaya muncul ditangannya ketika dipanggil sekali lagi.
“Ting, ting, ting, ting – !”
Ia melakukan putaran 360 derajat yang kejam, hampir membentuk badai pedang. Putaran itu memotong seluruh musuh yang mendekat kearahnya, termasuk senjata mereka. Dibawah darah yang berjatuhan, Fei langsung mendekati menara perisai ayang ada. Menggunakan seluruh tenagannya, prajurit penyokong tameng dan tombak dipotong hingga berkeping-keping dibawah kilau cahaya matahari yang terefleksikan dari ujung tajam kapaknya. Semua perisai menara yang memiliki tiga lapis besi juga terpotong menjadi dua dan ditendang keluar dari jembatan menuju ke sungai Zuli. Perisai itu membuat banyak gejolak di air sungai.
Formasi yang awalnya dianggap tak terhancurkan oleh mata banyak orang baru saja dikoyak seperti sepotong roti lembut. Terlebih lagi, itu dihancurkan oleh Fei, LAGI!
“Serbu! Bersihkan para bajingan ini!”
Fei mengganti antara mode Necromancer dan Barbarian dan menghancurkan formasi Menara Perisai-Tombak Naga yang terbentuk kembali dalam kurang dari satu menit. Banyak orang masih merasa sangat terkejut, Fei melambai pada pria perkasa yang baru saja meminum campuran [Stamina Potion], memberi sinyal mereka untuk menyerang.
“Bam, bam, bam, bam!!”
Rasanya seolah kavaleri berat sedang menyerbu saat dua puluh dua pria perkasa itu mulai berlari. Dan membuat orang-orang  yang melihatnya memiliki ilusi kalau seluruh jembatan batu bergetar karena kaki mereka, bisa hancur kapanpun.
Darah dan potongan daging yang menempel di set zirah mereka membuat sekumpulan orang itu terlihat seperti iblis dari neraka.
Share:

Hail the king chapter 48

“AHAHAHAHAHAHAH……”
Beberapa prajurit yang berdiri disamping perwira itu semua ketakutan. Pikiran mereka tak bisa menerimanya dan langsung berantakan. Seolah mereka kehilangan jiwanya, mereka berteriak dan mencoba kabur dari “setan” dihadapan mereka itu. sayangnya untuk mereka, ada satu lapis Perisai Menara dan tombak naga diarahkan ke mereka. saat mereka berbalik untuk kabur, mereka dipaksa pergi kearah musuh mereka oleh kawan mereka sendiri, dan membuat mereka menjadi ‘kebab’. Akan tetapi, sebagian luka parah yang mereka terima tak langsung membunuh mereka, mereka berteriak dan menangis seraya mati dengan kesakitan.
Fei mengambil kapak magis milik Barbarian level 12. Setelah ia menyerang diam-diam perwira musuh, ia mengayunkan satu putaran dan seluruh prajurit musuh dihadapannya tak sedikitpun memiliki kesempatan untuk kabur. Mereka terbelah menjadi dua bersama dengan senjata mereka yang ada di pinggang bawah mereka.
Dibelakangnya, pria perkasa yang memakai zirah tebal dan benar-benar terlindung mulai membantai prajurit yang ketakutan.
Zirah tebal yang mereka gunakan membuat mereka dapat menghiraukan serangan dari musuh, dan disisi lain, kapak serta palu mereka mengambil nyawa musuh tanpa henti. Meskipun musuh dapat bereaksi dan menghadang serangan mereka, dibawah kekuatan besar para pria perkasa itu, prajurit musuh akan dihantam hingga berkeping-keping dengan senjata mereka atau terpental karena serangan yang kuat.
Itu adalah kekuatan dari amarah para pria kuat itu dalam pertarungan jarak dekat.
Setelah meminum [Stamina Potion] yang dicampur air, para pria kuat itu sementara memiliki daya tahan tak terbatas. Mereka bisa menggunakan kekuatan mereka tanpa henti dan tak perlu membuat diri mereka kelelahan. Zirah tebal dan senjata berat mereka sama sekali tak memberatkan mereka dan malah menjadi mimpi buruk dari musuh. Zirah tebal yang tak bisa rusak dan senjata yang tak bisa ditangkis, mereka benar-benar seperti tim petarung buas dari neraka.
Dua puluh tiga orang itu seperti dua puluh tiga harimau lapar yang dilindungi penuh oleh zirah dan digiring ke kandang domba. Kalian sudah bisa menebak hasilnya.
Raja mereka, Alexander, berada di paling depan dari formasi penggiling daging mereka. Tak ada prajurit musuh yang bisa menerima satu serangan darinya. Ia hampir menekan kedepan sama dengan kecepatan ia menyerang. Bagian depan dari formasi Perisai Menara dihancurkan berkeping-keping
Lawan mereka yang berada di belakang formasi mencoba menahan posisi mereka tapi prajurit musuh di depan sudah masuk. Mereka merasa seolah menghadapi sekumpulan iblis dan ingin memiliki dua kaki lebih banyak sehingga mereka bisa berlari lebih cepat dari mereka. Apa yang mereka bisa lakukan sekarang adalah mengikuti insting mereka dan berlari untuk hidup. Banyak dari mereka bukanlah pemula di medan perang, tapi mereka tak pernah mengalami pembantaian satu sisi seperti ini. mereka bahkan tak bisa melawan balik, bagaimana mungkin mereka hanya menunggu kematian mereka?
Meskipun mereka semua adalah prajurit elit, hanya ada satu hal di benak mereka semua, dan itu adalah –
Kabur!
Lari sekencang yang mereka mampu!
Lari dari para iblis yang tak bisa dibunuh ini!
……
Saat ini, seseorang harus berdiri dan mengembalikan ketertiban di kekacauan ini.
[Dua] seorang dari ksatria hitam yang memimpin formasi Menara Perisai akhirnya tersadar setelah terkejut oleh serangan mengerikan yang ia lihat.
Setelah melihat kekacauan di formasinya, ia tahu kalau ia harus mencegah ini menjadi lebih buruk. Ia menarik pedang panglima miliknya dan menyerang beberapa prajurit yang kabur. Para prajurit itu tak memiliki waktu untuk bereaksi dan kepala mereka terpotong. Tubuh tanpa kepala mereka melanjutkan gerakan berlari kembali beberapa langkah sebelum terjatuh. Darah muncrat keluar seperti air mancur….
“Tahan formasinya! Kembali bentuk garis pertahanan kedua! Siapapun yang berbalik akan dieksekusi! Tanpa terkecuali!”
Pedang [Dua] masih meneteskan darah saat ia berteriak.
Dibawah ancaman kematian, kebanyakan prajurit di formasi dipaksa untuk menenangkan diri. Mereka kembali berkumpul perlahan dan menstabilkan formasi. Setelah melihat formasinya kembali terbentuk, [Dua] merasa agak tenang. ia mengirim banyak perintah untuk membangun kembali kekuatan bertahan dari formasinya.
Dengan panglima ada di posisi, para prajurit menunjukkan kemampuan bertarung hebat mereka. Mereka meninggalkan prajurit depan yang sudah kacau dan mundur sedikit seraya formasinya memberikan jarak sekitar 4-5 yard. Hanya dalam beberapa detik, lapisan menara perisai sudah terbentuk dan baris tombak naga kembali ditujukan pada musuh. Ini membawa kembali kekuatan awal dari formasinya.
“Ting!”
Formasi Menara Perisai Tombak Naga kembali dibentuk.
Ksatria hitam [Dua] menempatkan dirinya dibelakang formasi, menatap dua puluh tiga jahanam yang berjalan kearah mereka.
Ia meringis. Tak ada begitu banyak jarak antara formasinya dan ‘iblis’ itu jadi mereka tak bisa mengambil cukup momentum untuk menyerang seperti itu lagi dan mereka tak mungkin bisa menghancurkan pertahanan mereka lagi.
“Selama garis pertahanan yang baru tak terkoyak dan terbuka lagi, tombak naga bisa dengan mudah menembus zirah dan tubuh para bajingan itu!” ksatria hitam [Dua] berpikir dingin. Ia menatap garis depan dengan seksama melalui celah tipis diantara tameng yang ada.
Dengan transformasi baru ini, ia meninggalkan tiga puluh prajurit yang berada di luar formasi. Para hewan buas yang sepenuhnya terlindung itu membersihkan prajurit malang yang ada seperti dedaunan. Darah, anggota badan yang terkoyak, senjata yang rusak ada dimana-mana.
[Dua] harus mengakui kalau para hewan buas ini memang monster yang brutal. Senjata besar yang ada ditangan mereka bahkan membuatnya, seorang pendekar berbintang satu, merasakan kedinginannya. Dibawah tekanan medan pertarungan, itu akan menjadi mimpi buruk untuk semua prajurit yang melawan hewan buas dengan zirah penuh itu.
Apalagi mereka yang berada di depan, dibandingkan dengan rasa dingin yang dirasakannya dari senjata itu, pria yang memimpin mereka membuat [Dua] merasa seolah ia berada dalam lemari es.
Pria itu adalah yang terkecil dalam ukuran diantara kawan-kawannya, tapi ia juga yang paling kuat dan liar.
[Dua] mengingat jelas saat pertarungan baru dimulai, pria itu melemparkan kapak besar ditangannya, dan menghancurkan formasi Menara Perisai Tombak Naga seperti seorang dewa….. kapanpun [Dua] memikirkan ini, bahkan dia yang seorang veteran dalam medan pertempuran merasa takut.
Melalui celah kecil diantara perisainya, [Dua] bisa melihat jelas kalau pria itu entah bagaimana mendapatkan kapak yang tampak lebih berbahaya.
Kapak itu lebih besar dari sebuah pintu. Dan memiliki banyak kait yang tampak mengerikan. Kapak itu berkilau kemerahan dari semua darah yang diambilnya. Tampak begitu berat dan hanya mungkin diangkat oleh dua atau tiga prajurit. Akan tetapi, cara pria itu menggunakannya membuatnya merasa seolah kapak itu hanya se-ringan jerami. Akan tetapi setiap kali ia menyerang dengan ‘pintu’ itu, tak ada siapapun yang bisa berdiri setelahnya.
Pria itu membunuh seperti mesin pembunuh yang dibuat khusus untuk bertarung.
Tiga puluh prajurit elit yang terlatih bahkan tak bisa menahan “monster logam” itu selama dua puluh detik. Mereka semua diubah menjadi mayat, mayat yang benar-benar hancur. Mereka kalau tidak dipotong berkeping-keping, akan dihancurkan menjadi daging giling. Anggota tubuh, organ, senjata….. hancur berantakan dimana-mana.
Kemanapun mereka pergi, kecuali jembatannya sendiri, tak ada apapun yang tersisa.
Saat ini, lawan berpakaian hitam sudah mundur sejauh 50 yards di jembatan itu.
Hal ini terasa seperti selamanya untuk pasukan musuh dan prajurit yang bertahan di dinding pertahanan Chambord, tapi semua ini hanya menghabiskan waktu 40 detik.
Share:

Hail the king chapter 47

Lenguhan dari para prajurit, teriakan dari yang terluka, teriakan dari para perwira, serta suara tabrakan dan hancurnya suatu logam …. Suara-suara ini biasanya membuat tulang orang-orang yang bergabung bersama di dinding pertahanan menggigil dan membentuk simfoni keheningan.
Suara sorak terdengar dari dinding pertahanan; ini benar-benar sangat sulit ditahan.
Semua ketakutan dan kekhawatiran mereka berubah menjadi sorak keras.
Serangan kapak dari dewa itu mengenai formasi perisai-tombak naga, tapi itu juga menyentuh hati semua orang di dinding. Seperti obor api di kegelapan; itu memberikan mereka harapan dan menyalakan darah dan jiwa mereka.
Di dinding pertahanan, semua orang tahu kapak milik siapa itu. semua orang tahu wajah siapa yang berada di balik helm itu, karena semua orang melihat raja muda dan pemberani itu turun dari dinding pertahanan dan berdiri di depan orang-orang lainnya. Punggungnya menghadap ke pengikutnya seolah sedang menghadapi lawan terkejam.
Semua orang di dinding menangis. Mereka berteriak, lompat dan melepaskan pukulan mereka ke udara dnegan liar, seolah mereka bisa memberi semangat orang-orang pemberani yang menyerbu masuk ke dalam musuh dan bertarung disamping raja mereka.
Di sisi lain dari sungai Zuli.
Ksatria bertopeng perak merasa suram. Sikapnya yang ingin menonton pertunjukan seru dengan yakin menghilang. Ekspresinya sama seperti menemukan kalau ia menggigit batu keras dan membuat giginya cuil setelah menggigit sepotong daging lezat.
Setelah kapak itu dilemparkan, jantungnya berdetak lebih kencang dan ia tahu ada sesuatu yang salah.
Formasi menara perisai yang dia banggakan bahkan tak bisa bertahan untuk sedetikpun, dan langsung dihancurkan oleh musuk. Kemudahan mereka menerobos masuk formasi adalah tamparan besar di wajahnya.
Kekuatan penghancur yang dibawa kapak itu membuatnya merasa terancam untuk pertama kalinya. Ini seharusnya bukan kekuatan yang dimiliki pria manapun. Tak ada sedikitpun gejolak energi, jadi jenis kekuatan seperti apa itu?
“Ksatria hitam, turunkan titahku, tinggalkan formasi depan yang kacau dan ubah menjadi [Formasi Mengunci]; pastikan semua prajurit mengurung mereka. Tempatkan tombak naga dan jaga jarak, jangan melawan mereka dengan ceroboh…..”
Ksatria bertopeng perak itu menenangkan diri dengan cepat dan menunjukkan kemampuan adaptasi mumpuni dan melakukan rencana lainnya.
Matanya tak bisa dibodohi. Ia bisa mengenali kalau ‘pasukan kematian’ dari dua puluh orang itu bukanlah pendekar berbintang, tapi hanya orang biasa yang memiliki kekuatan fisik besar. Saat pertarungan berlangsung, mereka akhirnya akan lelah dan akan lebih mudah untuk membunuh mereka.
Akan tetapi ksatria bertopeng perak tak bisa menunggu lagi. Meskipun ia dilatih untuk menjadi tenang dalam situasi apapun dan diajari banyak teknik untuk memimpin pasukan dan membaca pikiran orang lain, setelah kekalahan beruntun dalam pertarungan melawan musuh yang seperti semut, ia merasa malu. Ia memutuskan tak perlu menunggu lagi dan menghancurkan musuh dengan cara terkuat lalu menaklukkan kastil Chambord sekaligus.
Setelah ia memikirkannya sementara, ia bicara dengan dingin sembari menggertakkan giginya, “Beritahu pendekar bintang tiga Landes untuk berhenti melindungi trebuchet dan bergabung dengan prajurit perisai menara yang lainnya untuk menghabisi para bajingan itu sekarang…. Suruh pasukan sisanya bersiap; mulai mengepung setelah itu!”
Setelah ksatria bertopeng perak memberikan dua perintah dan yakin kalau mereka sudah menutupi semuanya, ia mengayunkan cambuk kudanya dan ksatria hitam berusaha menurunkan titahnya.
……
……
Di jembatan, pertarungan masih berlangsung.
Dengan menggunakan kekuatan monster dari Barbarian level 12, Fei menghancurkan jalan untuk masuk kedalam formasi. Dua puluh orang kuat mengikutinya dengan ketat; bersama, mereka seperti pedang tak tertandingi yang menusuk jantung musuh.
Formasi Menara Perisai memiliki kekuatan bertahan depan yang sangat kuat; bahkan kavaleri yang menyerang tak akan bisa dengan mudah melewati mereka. Akan tetapi, prajurit yang berada di balik tameng hanya menggunakan zirah kulit; saat musuh menembus, tanpa memiliki perlindungan dari tameng besi raksasa, mereka akan menjadi seperti babi di rumah jagal.
Pierce dan Drogba berada tepat dibelakang Fei, mereka berdua adalah orang terkuat di Chambord; kapak perang dan palu menghantam dan menghancurkan musuh dengan daya serang yang kuat. Musuh yang berada di dalam perisai menara itu terbunuh saat senjata mengenai mereka dan terluka saat senjata menyentuh mereka; tak ada apapun yang bisa menghentikan mereka.
Di jembatan kecil itu, darah merah terlukis dimana-mana. Dimanapun ‘pasukan kematian’ pergi semua berubah menjadi kacau.
Karena dibatasi oleh tempat, meskipun ada lebih banyak musuh, mereka tak bisa mengepung Fei dan para orang kuat dengan benar. Jarak antara jembatan hanya bisa menampung sekitar lima belas orang, jadi keunggulan angka mereka tak bisa digunakan dan mereka mendapatkan kerugian.
Di kekacauan, seorang perwira musuh yang hampir menjadi pendekar berbintang satu melihat orang yang menghancurkan formasi perisai menara sudah tak memegang senjata lagi. Ia langsung bergembira; ia merasa Dewi Keberuntungan memberkahinya. Ia mengambil tombak naga yang patah setengah dan dengan diam-diam menggunakan energi yang ia miliki untuk menusukkannya ke Fei saat ia lengah.
Meskipun tombaknya setengah patah, beratnya sekitar lima hingga enam puluh pound. Dengan momentum yang tepat dan energi yang hampir mendekati pendekar bintang satu, ujung tombaknya bersinar dalam cahaya haus darah; dan ditujukan ke jantung Fei.
“Pergi ke neraka!”
Perwira musuh itu tertawa seolah ia sudah melihat darah keluar dari dada musuhnya setelah jantungnya tertusuk. Jelas, kalau ia bisa membunuh orang sekuat ini, itu adalah jasa militer besar dan ia akan diangkat menjadi perwira berpangkat lebih tinggi.
Tapi –
Senyum perwira itu membeku diwajahnya.
Selanjutnya berubah menjadi wajah pucat yang mengalami ketakutan dan sakit bukan main.
Pria tanpa senjata itu sama sekali tak panik setelah melihat serangan tiba-tiba itu. malah, senyum licik dan sombong terlihat dari helm pria itu. ia menggenggam udara; setelah itu muncul kilau cahaya putih, seperti sihir, kapak besar lainnya muncul dari tangannya entah darimana!
“Ting!”
Sebuah serangan frontal.
Kapak itu dengan akurat mencincang ujung dari tombak. Setelah percikan dari tabrakan logam hilang, ujung kapaknya berubah menjadi garis putih tipis di mata perwira. Seperti pisau tajam yang memotong kue susu lembut, kapak itu memisahkan tombaknya menjadi dua. Dengan sisa momentumnya, kapak itu juga membelah tubuhnya…..
Ia merasakan dingin.
Tombak naga, perwira itu…..
Kapak itu melewati keduanya dengan mudah. Setelah berhenti sejenak, mereka berdua masing-masing terpisah menjadi dua potong.
Tak mungkin darah yang keluar bisa dihentikan.
Organ dalam pria itu berwarna merah cerah, anggota tubuhnya membalut tulang putihnya, dan tombak naga yang panas pecah kemana-mana.
Darah di udara menyentuh tombak rusak itu, yang masih panas karena gesekan tinggi dari tabrakan tadi. Itu mengubahnya menjadi awan uap darah. Lebih banyak darah mengenai tombak itu, dan uap yang muncul hampir menyelimuti mayat disekitar. Udara yang ada benar-benar merah dan berbau tak sedap
Share:

Hail the king chapter 46

“Alexander….”
Air mata bergulir dari wajah Angela saat ia akhirnya berada di dinding pertahanan dan melihat Fei melompat.
Mata cerah Fei dibawah pelindung/penutup wajahnya saat ia melihat balik dan caranya berbalik meninggalkan bekas di hatinya; ia tak akan bisa melupakan momen ini dalam hidupnya.
“Alexander…. Kau harus kembali…. Kau adalah raja yang hebat dan Chambord akan bangga kepadamu, dan kau akan menjadi…. Sebuah legenda di Daratan Azeroth…. Aku akan menunggu untuk hari itu!”
Seolah ia sudah kehilangan jiwanya, Angela bersandar pada pembatas dinding pertahanan agar ia tak terjatuh.
Ia menatap pria yang meluncur kebawah dinding pertahanan, bergabung dengan para pria kuat, mengatur kembali formasi dan memimpin serangan pada musuh yang tampak seperti ular yang sedang melata. Matanya yang seperti samudera bahkan tak berkedip sekalipun; ia memandangi Fei dengan erat.
“Kembalilah dengan selamat!”
……
……
Di sisi selatan pinggir sungai Zuli.
Angin musim gugur menghembuskan daun kuning/kering dari pohon. Seekor tupai berbulu sedang berdiri dengan kakinya tampak waspada dan melihat kesekitar. Tupai tersebut tenang saat ia melihat keadaan di sekitar tenang ia mulai menggigiti buah pohon cemara dengan senang. Burung-burung terbang bebas ke langit biru nan jauh disana.
Ini adalah tampilan luar biasa dari Musim Gugur.
Tapi, tiba-tiba –
“Klip-klop, klip-klop!”
Itu adalah suara dari derap tapak kuda yang dengan cepat mengetuk tanah. Suaranya sangat lantang dan tanah bergetar. Seekor tupai melemparkan biji cemara setengah terbelah dan bergegas menaiki pohon karena panik dan para burung pergi karena ketakutan.
Suara ringkikan kuda terdengar dari jauh.
Setelah keributannya berhenti, ksatria bertopeng perak dan ksatria hitamnya muncul di sisi utara Sungai Zuli.
Si ksatria bertopeng perak tersebut memandangi langit untuk mengira-ngira waktu, dan kemudian mengambil ‘Mata Elang’ untuk melihat keadaan para prajurit di dinding pertahanan Chambord. ‘Mata Elang’ adalah sebuah item sihir; bentuknya sama seperti teleskop kecil, tapi dua lensa Kristal di dalamnya sudah diberkahi dengan sihir mata elang, yang membuat penggunanya bisa melihat jauh. Bahkan antena dari seekor semut bisa dilihat dengan jelas dari ber-mil-mil jauhnya.
Melalui ‘Mata Elang’, ia melihat wajah para prajurit yang berubah karena kelelahan dan ketakutan. Mereka tak punya pertahanan yang kuat, dan para prajurit mencopot baju pelindung mereka dengan malas, hal ini, membuat posisi pertahanan mereka kacau…. Semuanya berjalan seperti apa yang ia perkirakan. Sebuah seringai muncul diwajahnya.
“Sampaikan perintahku, semuanya bersiap untuk…..”
Ia tiba-tiba berhenti; ia tak mempunyai kesempatan untuk mengatakan kata ‘mengepung’. Seraya memandangi dinding pertahanan melalui ‘Mata Elang’ miliknya, ia melihat dua puluhan pria besar dengan baju zirah tebal menuruni dinding pertahanan menggunakan tali.
“Ini….” Ksatria bertopeng perak terkejut untuk beberapa saat.
Tapi setelah ia melihat musuh yang tertutup penuh oleh baju zirah membentuk formasi pasak standar untuk menyerang, ia langsung mengerti maksud mereka. Setelah beberapa saat kaget, ekspresi mengejek dan kelakar tampak di wajahnya. Ia bahkan agak sedikit terperanga: “Haha, Raja Chambord, tampaknya aku telah menilaimu terlalu tinggi. Benar-benar bodoh! Pemikiran yang baik, tapi apa kau pikir kalian mampu menghancurkan formasiku hanya dengan dua puluh-an orang?”
“Kalau seperti itu, mari menikmati pembuka sebelum pengepungan utama.” Si Ksatria bertopeng perak tertawa. Ia mengarahkan cambuk kudanya kearah musuh ‘bodoh’ mereka dan berkata, “[Dua], [Tiga], atur formasi perisai menara ke posisi bertahan. Biarkan bajingan yang tampak seperti patung tersebut mendekat. Potong kepala mereka dalam waktu sepuluh detik!”
“Mooo -!”
Suara terompet kencang memenuhi langit, dan keheningan luar biasa yang menyelimuti penduduk Chambord akhirnya hancur.
Suara terompet tersebut adalah komando/perintah militer. Formasi musuh tampak seperti mesin yang teliti dan mulai berubah seketika.
“Tap, tap, tap, tap!”
Formasi musuh berubah dalam suara hentakan kaki seragam yang mengerikan. Formasi menara perisai yang paling dekat dengan Chambord tak bergerak begitu banyak. Bagian sisi-sisinya bergerak kedepan sedikit dan bagian tengah bergerak mundur sedikit kedalam posisi bertahan cekung.
“Ting, ting, ting!”
Suara dari logam berat bersentuhan satu sama lain terdengar dari dalam formasi. Diatas perisai menara setinggi 3 yard, tombak naga besi sepanjang 5 yard mencuat. Dibawah matahari yang cerah, bagian berkilau dan rapat dari tiap-tiap tombak tampak seperti gigi dari seringai Grim Reaper. Tombak-tombak tersebut diarahkan kedepan dan musuh di dalam formasi menjadi hening; keseluruhan formasi musuh tampak seperti landak besar yang terbuat dari besi. Kalau seekor gajah menerobos masuk ke formasi tersebut, gajah tersebut akan dengan cepat menjadi kebab.
Di sisi lain, sekitar dua puluhan prajurit berzirah berlari seolah mereka tak takut mati.
Ini benar-benar pertarungan yang tak proporsional.
Kalau dilihat dari langit, suasananya tampak seperti beberapa pasang semut dengan berani menantang seekor gajah. Para semut tersebut akan dengan mudah diinjak menjadi daging giling kalau sang gajah menghentakkan kakinya.
Rasa kematian dari tombak-tombak musuh sudah menggelapkan matahari yang cerah.
Tak ada satupun yang mempertanyaan efektivitas tombak tersebut dalam hal menembus segala jenis zirah. Bahkan plat besi setebal 2 inchi (5cm) akan dengan mudah dirobek terbuka oleh  tombak yang didukung dengan ujung yang panjangnya 4 inchi (10cm).
Akan tetapi, formasi semut berbentuk pasak ‘V’ yang menyerbu sama sekali tak menjadi pelan. Mereka mempercepat langkahnya seolah mereka ingin menghancurkan tombak mematikan dengan tubuhnya.
Tak ada yang membuat suara. Bahkan udara juga terhenti. Semua orang bisa mendengar suara detak jantungnya.
Di dinding pertahanan, semua orang tak bisa menahan diri untuk menyandarkan tubuhnya ke pembatas dinding untuk melihat semuanya dengan jelas. Mata Angela dipenuhi dengan air mata dan kekhawatiran; tangannya menggenggam ujung gaunnya dengan erat dan hampir merobeknya. Emma mengikuti Angela ke dinding pertahanan juga, dan ia menggenggam tangannya di dada lalu menahan nafasnya.
Di sisi lain Sungai Zuli, si ksatria bertopeng perak sudah menyimpan ‘Mata Elang’ miliknya. Ia masih mengejek dan menatap kearah ‘semut’ yang lancing ini.
“Beraninya seekor anjing menantang kemuliaan seekor naga?”
Ekspresi kejam tampak di wajah lusinan ksatria hitam yang berdiri disamping ksatria bertopeng perak. Seperti serigala lapar yang menemukan makanan lezat di tengah kegelapan malam, mereka menjilat mulutnya sembari merendahkan.
Di dekat jembatan.
Jarak antara ‘semut’ dan ‘landak besi’ berkurang dengan cepat.
20 yard…..
16 yard…..
13 yard…..
10 yard……
Si ksatria bertopeng perak duduk agak lebih tinggi di kudanya. Lengkung senyumnya menjadi semakin besar dan besar, seolah ia membayangkan darah yang tumpah dan teriakan kehancuran musuhnya.
Akhirnya sesederhana itu dimatanya – formasi cekung menara perisai hanya perlu mendekat dan mengepung musuh di tengah, seperti mengisi pangsit. Lawan bodohnya yang menggunakan zirah logam tebal akan dijadikan ‘kebab’ oleh tombak setelah beberapa kali tusukan dan tarikan mudah.
Ia tak khawatir sama sekali kalau ‘semut’ ini bisa menghancurkan formasi menara perisai.
Ada tiga lapis menara perisai yang semuanya setinggi 3 yard. Tiap perisai seberat 50 kg, dan mereka dibawa oleh prajurit elit dan banyak tambahan batang besi. Dengan formasi bertahan seperti ini, mereka bahkan bisa menahan serbuan dari pasukan kavaleri berat selama lebih dari 10 menit.
Si ksatria bertopeng perak sama sekali tak menyembunyikan senyum mengejeknya.
Akan tetapi, ia terdiam beberapa detik selanjutnya, seolah telah disambar oleh petir. Tubuhnya kaku dan bola matanya hampir copot dari rongga matanya.
Tarikan nafas terdengar dari ksatria hitam dibelakangnya.
Kuda militer yang mereka tunggangi biasanya berjalan dengan serempak bahkan dalam luka parah, mulai meringkik dan mundur tak terkendali…..
Karena dua atau tiga detik yang lalu, suatu teriakan seperti petir muncul dari sisi lain jembatan batu –
“Dewa memberkati!”
‘Kepala semut’ yang memimpin formasi ‘V’ melempar kapak hitam besarnya kedepan dengan keras setelah berteriak.
“whuush, whuush, whuussh !”
Kapak itu berubah menjadi bayangan abu-abu dan berputar dengan gila, langsung merobek udara bahkan ruang di sekitarnya.
“Boom!”
Banyak teriakan yang bisa didengar dan darah muncrat ke udara lalu turun seperti ‘hujan darah’. Kapak hitam besar itu menghancurkan perisai menara yang terbuat dari besi halus.”
Seperti pisau tajam yang mengiris satu potong steak yang matang, dan seperti pukulan Dewa yang turun dari langit dan menghancurkan pohon, perisai menara yang bisa menahan kavaleri beratbitu berubah sedikit karena tabrakan logam. Akan tetapi, setelah beberapa saat, kekuatan yang idbawa oleh kapak itu meledak dan bahkan lebih dari sepuluh perisai besar itu hancur, seperti daun kering di dalam badai salju.
Tak terhentikan!
Benar-benar tak terhentikan!
Kapak besar itu tak terasa seperti sebuah kapak, tapi seperti hukuman dari Dewa perang yang mengamuk. Dengan momentum tak terhentikan dan kekuatan penghancurnya, itu bahkan bisa menghancurkan gunung Tangolian kalau gunung itu ada disana.
Kapak itu sudah meninggalkan lubang sebesar 2 meter dalam formasi Menara Perisai yang seketat sebuah dinding. Anggota badan yang patah dan darah yang jatuh dari langit ‘menghiasi perisai lainnya. Formasi itu langsung kacau.
Prajurit elit yang berada di belakang perisai tak menyangka kalau seseorang di dunia ini bisa menghancurkan pertahanan mereka seperti itu, tidak bahkan dalam mimpi terliar mereka. Realitas yang kejam membuat mereka terkejut; ini benar-benar terlalu menakjubkan hingga mereka lupa bertingkah seperti prajurit dan melupakan disiplin keras mereka. Ini membuat musuhnya menembus formasi melalui celah yang dipenuhi dengan darah.
Mereka sebelumnya mengejek dua puluh-an babi bodoh yang menyerbu kearah mereka dalam benaknya, tapi dalam sekejap mata,babi bodoh itu sudah merobek penyamaran lemah mereka  dan memasuki formasi seperti iblis yang berkuasa. Senjata mereka tampak seperti sabit, sementara mereka sendiri tampak seperti wakil dari Grim Reaper sendiri. Kemanapun mereka pergi, darah akan muncrat dan teriakan kematian akan terdengar. Lapisan pertama dari prajurit yang kehilangan perlindungan perisai mereka terjatuh seperti tanaman dibawah ‘sabit’; tak ada seorangpun yang bisa bertahan lebih dari satu detik.
Pertarungan antara semut dan gajah berubah menjadi pembantaian satu sisi dari sang gajah.
Peran dari dua sisi ini tak disangka berubah pada detik itu juga.
Share:

While Killing Slime for 300 Year chapter 1

Pemusnahan Slime Pertama   Dalam perjalanan ke desa, jalan itu terhalang oleh hal yang lembut dan lembek seperti jelly. "Oh, apakah itu slime?" Karena penampilannya, saya merasa tidak berbahaya. Perasaan itu sama seperti seekor kucing muncul di hadapanku. Meski begitu, sepertinya monster dan niatnya untuk menyerang pun terasa. Aku mengeluarkan pisauku. Saya siap menyerang. Byun "Apakah ini bekerja?" Saya menyerangnya lagi. Byunnn Aku merasa seperti itu bekerja lebih dari sebelumnya. Meskipun saya memukulnya, rasanya tidak terlalu menyakitkan. Aku mulai menyerang lagi sekali lagi. Akhirnya aku berhasil membunuh slime itu. Tubuh langsing berubah dan berubah menjadi permata kecil. Jika Anda membunuh monster dalam sebuah permainan, itu berubah menjadi uang, tapi ini adalah ... Karena saya harus mandiri, saya tidak ragu. Saya bertemu dan membunuh dua slime lagi sebelum sampai di desa. Slime itu indah sekali. Desa itu tidak besar, tapi rapi. Ini mirip dengan Swiss. Omong-omong, saya ingin pergi ke Swiss untuk beberapa waktu untuk berwisata, tapi itu tidak mungkin lagi karena saya meninggal karena kerja keras. Oh, bahkan seandainya saya libur lama, saya akan menggunakannya untuk tidur di rumah saya dan bukan bepergian. Saya menemukan seorang wanita tua yang tampak baik dan memanggilnya. "Permisi, saya baru saja pindah ke rumah tunggal di dataran tinggi, bisakah Anda ceritakan sedikit tentang desa ini?" "Ini Desa Furata. Jika informasi tentang desa, Anda bisa mendapatkannya dari Natalie-chan yang merupakan resepsionis di serikat. Dia juga biasanya berbicara tentang desa kepada petualang yang datang dari tanah lain. Jadi dia sudah familiar dengan memberikan penjelasan. " Saya melihat. Sepertinya ada kemungkinan cerita. "Terima kasih banyak" "Ini pertama kalinya kamu datang kesini kan? Aku akan membimbingmu ke guild. Either way, karena ini adalah sebuah desa kecil, saya yakin Anda akan menemukannya segera. " "Terima kasih!" Aku pergi ke guild dengan wanita tua yang sangat baik. Itu adalah bangunan kecil yang pasti. Rasanya damai, dan tampaknya tidak ada petualang yang merosot. (TN: Saya menggunakan "merosot" menggantikan "ketidakadilan", karena siapa yang tahu kata itu secara default?) "Oh, halo Bibi Imal." "Natalie-chan, anak ini baru saja pindah kesini. Bisa tolong beritahu dia tentang desa? " "Oh, tidak apa-apa. Ini adalah meja resepsionis " Aku menuju meja resepsionis dari guild kosong itu. Di sinilah Bibi Imal dan saya berpisah. Meskipun, karena dia tinggal di lingkungan sekitar, mungkin kita akan bertemu lagi segera. "Aku Azusa. Aku baru saja pindah ke rumah tunggal di atas dataran tinggi. " "Oh, di sana? Aku Natalie Sekarang, mari kita bicara tentang desa Furata, bukan? " Natalie-san mulai menjelaskan desa Furata. Dia sepertinya sudah terbiasa dengan ini. Lagi pula, sejak awal, ini damai, damai, luar biasa damai. Saat berjalan mengelilingi desa, ada udara yang sangat indah. Sebagian besar desa memelihara ternak dan kambing, karena produk susu adalah spesialisasi mereka. Earl yang memiliki tanah ini tinggal beberapa saat lagi, dan tidak ada masalah dari kepala desa yang telah ditunjuk oleh Earl. "Monster satu-satunya di sekitar sini adalah lendir. Jadi sampai batas tertentu, bahkan cukup aman untuk tertidur di luar desa. " "Kedengarannya sangat menyenangkan" "Meski begitu, biarpun ini adalah desa kecil, kebutuhan pokok seperti roti dan garam bisa dibeli, jadi jangan khawatir. Namun populasinya kecil, jadi akan sulit berbisnis. " Mendengar kata-kata Natalie-san, aku teringat sesuatu. "Katakanlah, saya membunuh seekor lendir dalam perjalanan ke desa dan mendapat permata, tapi mengapa begitu?" "Oh ya, saat kamu membunuh monster, kamu mendapatkan permata yang disebut batu ajaib. Itu bisa diubah menjadi uang di gilda. Bila sudah selesai, itu akan menjadi 600 potongan tembaga, atau 6 koin emas. " Apakah unit moneter itu sama dengan 600 yen Jepang? Itu hanya cukup untuk mengunjungi kafe sekali, tetapi dengan tidak ada uang sewa khawatir tentang hanya membunuh cukup lendir harus memungkinkan saya untuk lebih atau kurang mencari nafkah. "Kalau begitu, tolong kita saling menukar ini sekaligus."   "Untuk mengubahnya, Anda harus menjadi petualang terdaftar di serikat. Apakah boleh?" "Ya, baiklah." Lalu, Natalie-san mengambil sesuatu yang tampak seperti batu tulis. "Meskipun saya perlu mengetahui pekerjaan Anda, ketika Anda meletakkan tangan Anda di atas batu tulis, status dan pekerjaan Anda akan ditampilkan." Sambil meletakkan tangan saya, saya memikirkan bagaimana rasanya otentikasi sidik jari. Kemudian, sebuah status ditampilkan di bagian atas papan tulis. ===== Azusa Pendudukan: penyihir Tingkat 1 Kekuatan: 6 Kekuatan Serangan: 6 Kekuatan Defensif: 7 Kekuatan Ajaib: 9 Kecepatan: 8 Intelijen: 7 Kemampuan Khusus: Pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan, keabadian penyihir Poin Pengalaman yang Diakuisisi: 6 ===== "Eh! Keabadian! Indah sekali!" Natalie terkejut. Mengapa dia terkejut? "Jika saya ingat dengan benar, Keabadian terjadi saat Penyihir menyesuaikan kekuatan magis yang mengalir di tubuh mereka - Mana, jadi mereka hidup lebih lama, yang umum terjadi, tapi mengapa di tingkat 1? Apakah kamu punyabakat yang luar biasa? "
"Kenapa begitu ...... kamu memilikinya dengan keberuntungan kan?" Mari diam tentang bagian bonus transmigrasi saya. "Nah, itu 600 potongan tembaga untuk 3 batu ajaib dari lendir" Saya mendapat 6 emas "Nah, untuk saat ini saya akan puas membunuh pelangsing dan menghasilkan uang" "Ya, tolong terus kunjungi guild mulai sekarang, Ms.Azusa (Atau Azusa-san). Setelah itu, saya pergi dan membeli bibit untuk ditanam di lapangan, menggunakan koin emas. "Dengan ini, saya telah menyelesaikan semua persiapan untuk tinggal di sini dalam jangka panjang, bukan? Dalam perjalanan pulang, 3 lagi lendir muncul, jadi saya membunuh mereka dengan pisauku. Saya mendapatkan batu ajaib, yang telah menjadi sumber penghasilan penting. Sejak hari itu, hidup saya yang lambat dimulai. Bagaimanapun, itu lambat; Aku hidup perlahan. Pertama, saya tidur seperti saya ingin tidur. Aku merawat dan merawat ladang untuk saat ini. Ketika saya ingin berolahraga, saya membunuh beberapa lendir. Karena mereka adalah penghasilan yang berharga, saya memutuskan untuk membunuh setidaknya 20 setiap hari. Saya juga memasuki hutan terdekat. Karena saya seorang penyihir, saya langsung tahu apa itu gulma, dan ramuan obatnya apa. Sesekali, saya membuat ramuan obat-obatan dan pergi dan menjualnya di desa. Saya tidak keberatan tidak menghasilkan keuntungan dari mereka, jadi saya menjualnya lebih rendah dari harga pasar. Juga, jika seseorang di desa sakit, saya akan memeriksanya dan kemudian membuat obat dengan menggunakan ramuan obat. Saya tidak bisa meninggalkan seseorang di desa sendirian untuk mati tanpa membantu. Ketika saya melakukan hal seperti itu, saya mendapatkan rasa hormat dan dikenal sebagai "Penyihir Dataran Tinggi". Beberapa orang membawa saya keju dan produk susu lainnya, yang saya hargai. Aku benar-benar tidak menyingkir dari itu. Aku bermaksud membaca grimoire, tapi harganya mahal. Namun, saya memang membeli beberapa buku dengan menggunakan uang yang saya dapatkan dari membunuh slimes. Bila ada sesuatu yang Anda inginkan, Anda bahkan bisa dipecat karena membunuh lendir. Selain itu, tidak terlalu banyak berubah. Karena keabadian saya, tentu saja saya tidak menua atau tumbuh, dan kondisi fisik saya juga tidak banyak berubah. Sebenarnya, praktis tidak ada orang yang datang mengunjungiku di dataran tinggi, tapi aku tidak terlalu terganggu olehnya. Kembali ke Jepang saya juga biasa hidup sendiri. Berbicara tentang hal-hal yang menyusahkan, hal tentang menjadi abadi adalah bahwa sebagai abadi Anda menyadari orang-orang yang sekarat di desa. Tapi itu tidak bisa ditolong. Saya tidak punya pilihan selain bertahan. Mungkin tidak apa-apa jika saya tinggal di dekat desa dengan elf, yang hidup lama. Maka, 300 tahun berlalu. Ya, saya telah hidup selama 300 tahun, membunuh lendir. Karena saya telah membunuh lendir, saya telah mendapatkan kepercayaan diri pada kemampuan saya. Saya tahu di mana harus menusuk pisau saya dengan sempurna untuk membunuh mereka dengan satu pukulan. Aku bahkan bisa mengalahkan mereka dengan tangan dan kakiku sendiri tanpa pisauku. Saya bertanya-tanya apakah tingkat saya naik. Lalu, pada hari yang sama, saya mengetuk pintu gilda seperti biasanya, bagian dari rutinitas harian saya. Itu karena saya harus mengubah batu ajaib menjadi uang tunai. Saya membawa batu ajaib saya ke anggota staf wanita yang telah bekerja di sana sejak Natalie-san. Orang ini adalah seseorang yang datang baru-baru ini, dan saya belum sepenuhnya mengingat nama mereka. "Halo." "Oh! Penyihir Dataran Tinggi! " Sekali lagi, saya dikenal sebagai Penyihir Dataran Tinggi. Setelah hidup selama 300 tahun saya juga menjadi orang yang paling akrab dengan sejarah desa. "Inilah batu ajaib zaman sekarang. Mereka dari 26 slimes. " "Ya, saya sudah memastikan itu. Itu ada lima potong tembaga. " Saya memasukkan uang itu ke dalam tas kulit saya. "Oh ya. Penyihir Plateau-sama, aku sudah bertanya-tanya tentang sesuatu " "Yeah, tentang apa?" "Seberapa kuat Anda, Penyihir Plateau-sama?" "Kuat? Saya belum pernah bertarung sebelumnya, jadi saya tidak yakin. " Saya hanya seorang petualang sehingga saya bisa mengubah batu ajaib saya menjadi uang, tapi selain itu, saya belum pernah bertualang. Hal ini disebut petualangan membawa risiko kematian. Lambat dan damai adalah hidup bagiku. Karyawan itu mengeluarkan sebuah batu tulis. "Bisa tunjukkan statusmu dulu?"

NOTE:Lendir(Slime)
Share:

While Killing Slime for 300 Year prolog

Perspektif Aizawa Azusa Aizawa Azusa, dua puluh tujuh tahun. Budak perusahaan Untuk pekerjaan, saya hanya hidup untuk bekerja.
Menyingkirkan cinta dan kesenangan di samping, dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Kemudian suatu hari, saat mengerjakan suatu pekerjaan, aku kehilangan kesadaran. Dan saatku membuka mata,aku melihat wajah wanita muda. Untuk beberapa alasan, dia memiliki sayap malaikat yang tumbuh dari punggungnya. "Oh, saya sudah meninggal, bukan?" Sepertinya pada akhirnya hidupku benar-benar hanya untuk bekerja. Dan akupun tidak tahu apakah orang ini adalah malaikat, atau shinigami, tapi setidaknya mereka jenis yang sama. "Memang begitu. Kamu telah terlalu banyak bekerja sampai mati, dan kamu baru berusia dua puluhan. Hal yang sangat menyedihkan...... " Dia berduka untukku. Seperti itu,aku akan mencoba dan bersikap baik terhadap anak ini dalam beberapa cara. "Aku akan memberimu kehidupan lain, di mana kamu bisa menikmati hidup. Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan, apa yang kamu inginkan? Atau aku bisa membuatmu terlahir kembali sebagai putri sebuah kerajaan. Oh dan tidak masalah jenis kelamin apa yang akan kau pilih. Akhir-akhir ini, bahkan pria pun tidak memikirkan kehidupan mereka selanjutnya sebagai wanita. " "Apakah ada keinginan yang benar-benar kau inginkan?" "Iya nih! Saya lunak dan murah hati terhadap wanita " Tidak ada kesetaraan jender? Nah, meski tidak adil sebaiknya lebih sedikit pembatasan, daripada punya banyak. Mereka mengatakan bahwa ada sesuatu yang mungkin, jadi tanpa ragu sedikit pun, aku segera mengatakan apa yang saya inginkan. "Kalau begitu tolong buat aku awet muda. Apakah itu mungkin?" Itulah keinginan ku. Karena hidupku berakhir saat aku terlalu banyak kerja, aku ingin hidup lebih lama. "Kalau begitu, saya akan membiarkanmu mentransmigrasikan mana yang ada dalam tubuhmu untuk beredar berputar, untuk mencegahmu menua. Hal seperti itu sebenarnya begitu sederhana. Betapa indahnya jadinya. "Apakah ada permintaan lain?" "Tidak, itu baik-baik saja" "Kau yakin?" "Iya nih. Karena saya berencana menjalani hidup yang panjang, lamban, dan santai. Aku akan mandiri dan hidup di atas gunung. Dan kemudian, untuk hal-hal yang sulit didapat seperti garam dan seterusnya, aku dapat membantu di desa terdekat dan meminta mereka berbagi dengan saya. Karena aku tinggal di kota besar Tokyo,aku ingin hidup nyaman di sebuah rumah di atas sebuah gunung. "Ini benar-benar kehidupan yang lambat, bukan? ...... Tapku rasa kamu tidak dapat menahannya karena kau memiliki cara hidup yang tergesa-gesa sebelumnya. Aku mengerti. Mungkin tidak bisa dipahami dan belum dewasa, tapi saya ingin Anda rileks dan merehabilitasi di atas sebuah dataran tinggi. Meski bukan berarti Anda ingin hidup lama sebagai nenek. Jadi saya akan memberimu tubuh abadi tujuh belas tahun. " Lalu, saya mulai pingsan. * Ketika saya terbangun, saya benar-benar berbaring di dataran tinggi. Di dekatnya ada satu rumah terisolasi. Ketika saya mendekati rumah, saya melihat sebuah label. Omong-omong, seharusnya bukan bahasa Jepang, namun saya masih bisa membacanya untuk beberapa alasan. "Orang itu sangat bermurah hati, saya beruntung ... Tidak, lebih tepatnya karena malaikat menyuruh saya terlahir kembali di tempat seperti itu" Berbicara tentang dilahirkan kembali, saya bertanya-tanya wajah seperti apa yang saya miliki, jadi saya masuk ke dalam rumah dan menemukan cermin. "Saya benar-benar berusia tujuh belas tahun dan meski wajahnya tidak jelek, itu lebih dari gaya barat yang tidak biasa." Nah, ini wajah saya sekarang, saya akan terbiasa dengan itu cepat atau lambat. "Nah, mulai hari ini di rumahku ini. Rumah Azusa! " Sepertinya juga ada ladang di sebelah rumah, jadi saya bisa menanam dan memanen sayuran di sini. Saya pikir tempat ini cukup nyaman untuk kehidupan mandiri. Pakaian yang saya miliki sejak saya bereinkarnasi mengandung sekitar 15 koin emas, jadi saya harus bisa membeli kebutuhan minimal dengan itu. Selain itu [uang logam] pinggang saya dilengkapi dengan pisau. Yah, saya kira sebagai seorang gadis yang tinggal sendiri untuk yang terbaik. Saya melihat sebuah kota di kaki dataran tinggi, bukan desa Kalau begitu, ayo berkeliaran dan belanja.
Share:

Blogroll

BTemplates.com

Search This Blog

Powered by Blogger.

Pages