Light novel indo Novel indo Isekai novel indo

Hail the king chapter 3

chapter 3:jangan pernah lakukan itu

“AAAAAHHHH!!”
Angela berteriak. Saat apinya mulai tumbuh di tangan Gill, dia dengan panik mencari jalan keluar untuk menghentikannya, akan tetapi semua itu sia-sia.
“Tai!” Fei tak bisa melakukan apapun selain mencoba menghadangnya menggunakan helm yang sedang dipegang di tangannya.
Booom! Bola api itu bertabrakan dengan helm-nya, membentuk beberapa percikan dan asap. Help itu berubah warna merah panas dan terciprat seraya mulai meleleh.
“Ssiii……” Fei mencium bau daging yang terbakar.
Dia bergegas dan berusaha untuk segera melepaskan helm besi yang meleleh itu dari tangannya. Meskipun dia bertindak secepat mungkin, lapisan kulit di telapak tangan dalamnya sudah terbakar.
Bola api itu tampaknya sudah kehabisan tenaga, berdesis dan akhirnya benar-benar hilang.
Fei tak punya waktu untuk bersantai saat ia melihat bola api lain mulai terbentuk di tangan Gill.
Mengamati wajah Gill yang sudah berkeringat, tampaknya dia benar-benar berkonsentrasi dengan keras untuk menghabisi Fei dengan bola api yang satu ini.
Saat ini, Fei tak punya apapun untuk menghadangnya.
“Ini tak adil!” teriak Fei “Aku menantangmu untuk bergulat denganku! Bukankah orang tuamu mengajarkan kalau anak-anak yang bermain dengan api akan kencing di celana mereka?!”
“Haaa??” Angela dan Emma benar-benar terkejut hingga tak bisa mengatakan apapun. “Sejak kapan ada pepatah seperti itu?”
“Tampaknya Alexander masih tetap idiot seperti sebelumnya.” Mereka berdua kecewa dalam benaknya masing-masing.
Akan tetapi, apa yang tak mereka ketahui adalah Fei dengan perlahan mulai bergerak ke sisi lain dari ranjang dan berhasil mengambil baju lapis baja yang ia taruh di dinding. Dia menyembunyikannya di punggun seraya bergerak kembali kearah Gill.
“Tunggu saja! Saat kau masuk dalam jangkauanku, aku akan menggantikan orang tuamu dan memberimu pelajaran!” Fei menghitung jarak antara mereka dan mempersiapkan taktik kotor dan diam-diam untuk mengatasi Gill.
Tapi –
“Kencingi celanamu sendiri!”
Gill benar-benar marah, dia tak akan menahan kemarahan dari “penyihir terhormat” ini. dia sudah membulatkan pikirannya untuk menghukum “raja idiot” ini atas apa yang telah ia lakukan.
Bola api kedua mulai melayang kearah Fei.
Angela bereaksi dengan cepat. Meskipun dia sangat takut hingga wajahnya pucat, dia sudah memutuskan untuk menyelamatkan Fei dengan menghadang bola api itu dengan tubuhnya.
Melihat Angela yang tiba-tiba muncul dihadapan Fei, Gill menjadi terkejut dan mencoba mengambil kembali bola api miliknya. Akan tetapi, itu semua sudah terlambat.
Fei langsung bereaksi seketika, “Sialan!” tanpa berpikir, Fei memegang pundak Angela dan menaruhnya di dadanya kemudian membalikkan tubuhnya. Dia merasakan panas yang membakar di seluruh punggungnya.
“Bangsat! Aku akan mati!!”
Saat itu…
“Pu – !”
Sebuah tangan besar muncul entah dari mana dan memegang bola api itu. tangan itu meremasnya sedikit, dan benar-benar tak peduli dengan panas luar biasa yang muncul dari bola api itu. Fei melihatnya dengna mata terbelalak saat bola api yang bisa melelehkan helm besi itu jatuh seperti es krim di musim panah.
Harapan kembali muncul dalam benak Fei saat ia mulai melepaskan Angela.
“Seorang Pendekar!” pikirnya.
Disaat yang bersamaan, wajah Gill tampak membeku. Dia memandangi pria yang muncul di dalam istana, dan wajahnya berubah lebih pucat dibandingkan tepung dan tubuhnya mulai gemetar tak terkendali.
Seperti seekor tikus melihat kucing, Gill benar-benar takut hingga nada suaranya benar-benar berubah total: “Tuan. Lam-lam-lampard, Kena-na-pa kau ada disini? Aku-aku-aku-“
Gill mulai berkeringat deras saat ia mencoba menjelaskan situasinya sendiri.
“Tuan Lampard” ini bahkan tak menengok kearah Gill. Dia berbali dan agak menunduk ke Angela dengan sopan, dan kemudian melihat dengan dingin kearah Fei dan berkata, “Yang mulia Alexander.”
Fei melihat dengan cermat “Pendekar” ini.
Dihadapannya adalah seorang yang ganteng, ras Kaukasia setinggi 6 kaki dan lima inchi. Dengan rambut yang merah menyala, rambutnya tampak seperti bulu seekor singa yang terbakar api.
Apa yang paling menonjol adalah pedang besar sepanjang 5 kaki yang dibawanya di punggung. Pedangnya segelap batu bara dan tampaknya seberat 200 pound.
Suatu hal yang membingungkan untuk Fei adalah meskipun “pendekar” ini benar-benar kuat, wajahnya tampak agak pucat. Fei merasa kalau dia mungkin sudah terluka saat penyerangan sebelumnya.
Fei juga merasa agak aneh. Lampard sudah menyelamatkannya, tapi ia tak begitu ramah kepadanya. Fei merasakan ada sedikit rasa sedih dan putus asa dalam tatapannya. Fei tak tau siapa sebenarnya dia jadi dia hanya mengangguk untuk merespon.
“Tuan Lam-Lampard, bisakah aku pergi sekarang?” Gill benar-benar sangat ketakutan.
Lampard bahkan tak menengok kepadanya: “Pergi? apa kau tak akan menjelaskan serangan yang kau lakukan kepada raja?”
“Ah, menjelaskan? Hmm.. kau tau… aku hanya bercanda. Ya! Bercanda! Kau tau kalau aku sudah tumbuh besar dengannya bukan? Aku hanya tak bisa mengontrol sihirku dengan baik. Aku hanya bibit penyihir, bahkan tak sampai peringkat satu bintang..”
Gill dengan cepat menemukan alasan.
Dia mengatakan omong kosong dengan sangat lancar hingga dia sendiri hampir mempercayai apa yang dikatakannya.
Saat dia melontarkan alasannya, dia merasakan tatapan dingin yang setajam pisau di lehernya dari Lampard. Dia tau kalau orang ini bisa membunuhnya semudah membunuh semut. Dia sangat ketakukan untuk melanjutkan apa yang ia katakan jadi dia berhenti bicara dan dengan takut tersenyum.
Lampard tampak jijik melihat pria didepannya.
Dia menutup tangannya dan semua orang yang berada di dalam istana merasakan tekanan tak terlihat.
Tapi wajah Lampard tampak seolah ia sedang memikirkan sesuatu. Dia agak ragu; kemudian membuka telapak tangannya lagi dan tekanannya sudah hilang. “Pergi dari sini! Tak akan ada lain kali!” lampar mengatakannya seolah dia sedang menggusah seekor lalat.
“Ok ok ok.” Gill benar-benar lega seperti seorang tahanan yang baru saja menerima hukuman mati tiba-tiba diampuni. Dia menarik nafas dengan cepat dan membungkuk ke pria tinggi yang membawa pedang itu.
“Tunggu!”
Saat Gill bersiap untuk meninggalkan tempat ini, Fei tiba-tiba menghentikannya.
Gill melihat ke Lampard, tapi pria tua itu tak mengatakan apapun. Dia harus berhenti dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Fei.
Fei memberinya senyuman terlebar saat ia mendekat dan semakin dekat ke Gill.
Dia dengan santai menaruh tangannya ke pundak Gill. Semua orang berpikir kalau sang raja akan mengatakan sesuatu untuk menenangkan Gill karena keramahannya.
Akan tetapi-
Dia tak mengatakan apapun dan mulai menampar wajah Gill dengan gila. “Jangan pernah melakukan hal ini lagi! Jangan pernah melakukan hal ini lagi!” dia terus menerus berteriak seraya menamparnya.
“Plak – plak – plak – plak ––“
Suara tamparannya hampir membentuk simfoni.
Aksi Fei sekali lagi membuat Angela dan Emma tenggelam dalam rasa terkejut lagi. Lampard yang berwajah “dingin” juga tampak terkejut dengan hal ini juga.
“Apa orang gila dan brutal ini adalah raja-nya? Apa dia benar-benar Alexander si raja idiot?”
Gill yang malang tak tahu apa yang harus dilakukannya. Kedatangan Lampard sudah membuatnya takut hingga ia tak berani menggunakan kemampuannnya, dan dia bahkan terlalu takut untuk menghalau serangan dari Fei.
Gill menyesali apa yang ia lakukan saat Fei bisa membalasnya. “Kalau aku tau Alexander akan menjadi tak tahu malu seperti ini setelah di tembak oleh panah, aku tak akan pernah datang kemari!” dia berteriak dalam pikirannya.
Fei akhirnya berhenti setelah telapak tangannya merasa mati rasa.
Gill berpikir kalau mimpi buruknya selesai setelah dia berhenti menangis tersedu seperti seorang pelacur.
Siapa yang menyangka kalau Fei yang sedang mengusap tangannya akan menendang Gill tepat di bagian bawahnya? Dia berteriak kesakitan. Tubuhnya dengan cepat meniru udang goreng. Dia membengkokkan punggungnya dan mulai dengan putus asa merangkak keluar dari istana seolah ia baru kabur dari neraka.
Dia akhirnya mengambil pelajaran dan tak mau melihat raja gila ini lagi.
“Kau beruntung kali ni!” Fei berteriak ke Gill.
Dia adalah pria sederhana. Dia tak akan menerima hinaan seperti apapun dan bertingkah seolah tak ada apapun yang terjadi. dia akan membalasnya ditempat.
Setelah melepaskan amarahnya ke Gill, dia merasa lebih baik.
Saat Fei berbalik, dia melihat ekspresi syok di wajah Angela, Emma, dan Lampard. Mereka memandanginya seolah dia adalah seorang monster yang tak dikenali.
“Sialan! Apa aku terlalu berlebihan?” pikir Fei.
“Oh! Kepalaku pusing, aku akan pingsan!” dia terjatuh ke lantai.
Angela dan Emma yang masih mempunyai bekas tangan diwajahnya menjadi gugup, emreka berpikir kalau luka dari panah itu kembali muncul. Mereka menyeret Fei kembali ke ranjang.
Lampard melihat tindakan Fei. Dia curiga dengan akting Fei yang buruk tapi tak mengatakan apapun. Dia bertanya ke Angela mengenai luka panah yang diterima Fei, menenangkan baik anggela dan Emma sedikit dan kemudian pergi dengan ribuan pertanyaan dalam otaknya.
“Yang mulia, musuh masih terus mengepung, tampaknya prajuritmu tak akan bisa bertahan terlalu lama.” Ini adalah hal terakhir yang dikatakan oleh Lampard sebelum ia pergi.
Angela dan Emma berdiri di sampingnya untuk beberapa saat. Melihat tak ada tanda-tanda kalau Fei akan bangun, Angela membawa Emma ke pendeta untuk mengobati wajahnya.
…
Setelah hanya ada Fei di istana, dia mulai menenangkan diri dan memikirkan seluruh situasinya.
Jelas dia berani di dunia lain.
Bukan hanya Angela dan Emma, tapi sihir penyihir berbentuk bola daging itu dan juga kekuatan ketrampilan pendekar tua misterius itu sudah membuktikannya.
Fei adalah seorang lulusan siswa yang miskin. Dia hidup di dalam panti asuhan. Dia berada dalam keputus-asaan karena dia sudah berhutang banyak untuk universitas tapi tak bisa menemukan pekerjaan untuk membayar untangnya. Setelah memikirkannya, Fei menyimpulkan kalau menjadi raja di dunia lain bukanlah hal yang buruk.
“Sebagai raja, aku mungkin bisa melakukan apapun yang aku inginkan!” pikirnya. Dia tak bisa menunggu untuk menggunakan kekuatannya.
Dia mulai memetakan situasinya.
“tampaknya di perjalanan kembali ke apartemenku, aku terbentur sejenis piringan terang. Aku mungkin mati ditempat, tapi entah bagaimana jiwaku datang ke dunia ini dan mengambil tubuh dari Alexander.”
Dari apa yang terjadi, Fei menyimpulkan kalau raja muda ini hanya punya kecerdasan seorang anak berumur 3 tahun. Dia tak tau apa yang terjadi dengan raja sebelumnya, tapi tahtanya sudah diambil oleh Alexander. Jelas, semua menteri sangat menentang raja muda ini.
Fei mengingat kalau dia tertembak panah kemudian bangun di ranjang ini.
“Mungkin saat itu di dinding bertahan, jiwaku baru masuk kedalam tubuh ini. aku tak begitu yakin kemana Alexander yang ‘asli’ pergi, tapi aku adalah Alexander yang baru sekarang!”
Raja Alexander yang asli adalah seorang idiot.
Fei mengambil tubuhnya dan tentunya juga mengambil ingatannya. Dia mendapatkan informasi dasar seperti bahasa yang digunakan di kerajaan ini dan beberapa hobi sederhana yang dimiliki oleh penghuni tubuh ini sebelumnya. Selain itu, Fei tak tau seberapa besar kerajaannya dan bagaimana semua hal lain bekerja. Dia hanya tau kalau Angela adalah tunangannya setelah ia bangun dari dunia ini dan sama sekali tak mengingat tentang Gill dan Lampard.
“Terimakasih Tuhan pria ini benar-benar bodoh, mulai sekarang kalau aku menirunya, tak akan ada yang tahu kalau aku adalah orang yang berbeda.” Fei mengelus dagunya dan mengangguk.
Tapi kemudian, dia mengingat suatu hal yang lain. “Sebelum Lampard pergi, dia menyebutkan sesuatu tentang lawan yang mengepung kastil dan prajurit yang sudah tak bisa menahan mereka lagi!”
“Sialan!”
Fei hampir lompat keluar dari ranjangnya. “Apa aku akan menjadi budak tepat setelah aku menjadi raja?”
Tekanan untuk tetap bertahan hidup dan realitas membuat Fei takut.
“Mungkin aku harus berkemas dan kabur dari sini? Sialan! Bagaimana mungkin aku kabur saat lawan sudah mengepung kastil. Bisakah “Pendekar” Lampard membunuh mereka? Tunggu, dia hanyalah satu orang, bagaimana mungkin dia bisa melawan begitu banyak pasukan? Ditambah lagi, lawan mungkin juga punya seorang “Pendekar”!
Fei tak tau bagaimana dia akan bisa melewati situasi ini.
Saat ia masih berada di bumi, dia hanya seorang pelajar. Dia tak punya bakat dalam seni militer ataupun bertarung. Hal yang terbaik yang bisa ia lakukan adalah mengatasi seorang pria mabuk di dalam bar. Kalau mereka ingin dia memimpin sebuah pasukan, dia bahkan tak punya kekuatan untuk mengenakan baju besi pelindung.
Fei benar-benar marah. “Kenapa aku tak bisa menjalani kehidupan biasaku di bumi, aku tak ingin lagi menjadi raja!”
Saat itu ––
“Mengumpulkan informasi dari pemain…. 20%…. 50%…… 80%…… 100%. Sistem instalasi game dimulai…… memindai kapasitas otak……. Syarat terpenuhi….. menginstall……”
Sebuah suara misterius dan mekanis terdengar dan muncul entah dari mana.
Ini benar-benar membuat Fei takut setengah mati.
Suara ini muncul langsung di benaknya.
“Sialan, apa ini? hantu?” dia tak mendapatkan jawaban.
“Penginstalan selesai, memasuki dunia Diablo dalam 3….2….1… masuk!”
Seperti karakter dalam serial tv Stargate yang berjalan melalui gerbang bintang, Fei merasa pusing dan sebuah gelombang misterius dan aneh melewati seluruh tubuhnya.
[Rogue Encampment] (Perkemahan Pengembara)
Fei berdiri seperti zombie di [Rogue Encampment] dimana tiap pemain baru akan muncul dalam sebuah game bernama Diablo. Pikirannya kosong.
Dia sudah berdiri disana selama lima menit terakhir.
Lima menit lalu, setelah tiga detik penghitungan mundur dari suara di benaknya; pengelihatannya kabur dan dia mendarat disini.
Ini adalah dunia Diablo asli.
Sebuah dunia yang benar-benar hidup dan sempurna.
Kesimpulan ini sampai di benak Fei setelah lima menit terdiam.
Langit sudah mulai gelap dan hujan mulai turun. Sejenis lumut berwarna hijau gelap tumbuh diseluruh tanah. Lebih jauh bisa terlihat tanah yang gelap. Kamp ini benar-benar kosong.
“Kok, kok, kok.” Hanya suara beberapa ayam betina yang terdengar sedang mencari makan dalam hujan.
Sebuah angin dingin melewati Fei dan dia gemetar kedinginan.
Sensasi jelas yang dirasakan tiap saraf dalam tubuhnya mengingatkannya kalau ini adalah suatu hal yang nyata, ini adalah dunia yang nyata, bukan layar komputerisasi kaku 2 dimensi.

Share:

Hail the king chapter 2

chapter 2:idiot yang berubah jadi orang gila

Angela memegang pinggiran ranjang, pikirannya dengan waswas bergerak saat kekhawatiran memenuhi matanya yang terbuka lebar.
“Kasihan Alexander, aku harap jatuhnya kali ini tak merusak otaknya. Meskipun dia tak begitu cerah sebelumnya, setidaknya ia masih bisa bicara.”
Saat itu, suara yang kencang, dan arogan menggema dari luar pintu.
“Alexander! Aku dengar kau terluka.” Ekspresi jijik terlihat dari wajah gadis yang berada di dalam kamar saat mereka berbalik kearah sumber suara itu. suara itu menarik nadanya seolah untuk mengejek dengan khawatir.
“Apa semuanya baik-baik saja?”
Fei menengadah dan melihat ada seorang pria gendut yang berpakaian bagus sudah menerobos pintu masuk ke ruang kamar istana. Suara tawa dingin terselip diantara bibir bengkoknya.
“Gill, apa yang kau lakukan disini?” Angela mengatakannya dengan dingin. Fei merasakan ketegangan antara pendatang baru yang gendut itu dengan gadis cantik disampingnya.
Sudah jelas kalau mereka berdua tampaknya tidak berhubungan dengan baik.
“Haha… Angela, malaikatku, apa maksudmu? Aku dengar kalau teman baikku Alexander sudah terluka dan aku khawatir. Apa yang salah kalau aku datang kesini untuk menjenguknya?”
Bangsawan gendut itu seenaknya berjalan dan duduk tepat disamping sisi ranjang seolah itu adalah miliknya sendiri.
“Gill, apa yang kau lakukan! Berani-beraninya kau duduk di ranjang seorang raja!” Emma dengan marah berteriak.
Gill menengok kearah Emma. Nafsu dan niat jahat terlihat melalui matanya. Dia menjilat bibir tebalnya yang tampak seperti sosis dan membalas. “Diam, kau budak rendahan. Jangan mengatakan apapun yang nantinya akan kau sesali.” Dia kemudian dengan santai berbalik dan melirik kearah Fei. Dengan ekspresi yang tak menunjukkan empati kepada teman yang terluka, tapi seolah melihat dengan tamak kearah binatang yang sedang terluka. Fei disaat yang sama juga melihat kearah Gill.
Dia merasakan rasa hina, sarkasme dan niat jahat di mata Gill; Gill bahkan tak menyembunyikan perasaannya sedikitpun.
Fei merasa bingung. “Apa bola daging jelek ini benar-benar teman Alexander? Wajahnya punya banyak sekali dagu, dan dia bahkan berani menunjukkan kotoran ini dihadapan raja? Apa dia berasal dari latar belakang keluarga yang kuat?”
Saat Fei masih berpikir, Gill mulai mengotak-atik wajah Fei dengan tangan berminyaknya seolah ia adalah mainan. Gerakannya begitu alami seolah Gill sudah melakukannya ribuan kali.
“Alexander, tampaknya kau masih baik-baik saja. Haha. Aku punya beberapa tamu penting untuk diundang siang/sore ini, gimana kalau kau datang denganku?” Gill tersenyum, tapi nada yang digunakannya bukanlah seperti mengundang tapi memerintah.
Dia mencubit wajah Fei sekali lagi, kemudian menamparnya sedikit. Gill sangat menyukai perasaan ini – memperlakukan raja seolah peliharaannya.
Dia kemudian mulai berpikir dengan keras, bagaimana mungkin seorang seperti Alexander menjadi raja. “Dia punya kecerdasan seperti seorang berumur tiga tahun saat sudah berumur 17 tahun, tapi kenapa dewa begitu mencintainya hingga memberikannya tahta?”
Saat Gill sedang asik sendiri, tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi.
“Plaak!”
Gill menutupi pipi kirinya dengan tangannya. Bekas tangan yang merah terang terlihat di pipinya seperti cat yang dilemparkan ke lukisan abstrak. Ekspresinya tampak seperti apa yang biasa disebutkan dalam buku pelajaran sebagai ekspresi syok.
Baik Angela atau Emma merasa tak senang saat Gill muncul tapi tamparan itu juga mengejutkan mereka berdua. Mereka tak bisa mempercayai apa yang baru mereka lihat.
Alexander selalu bertingkah lembut dan pengecut jadi dia selalu diusili oleh Gill karena dia tak mau melawan kembali.
“Dia baru saja menampar wajah Gill! Apa yang sebenarnya baru saja terjadi?” meskipun itu benar-benar mengejutkan, mereka merasa senang. Mereka sudah terlalu lama bersabar menghadapi Gill.
“Kau… berani-beraninya kau!”
“Homo, kalau kau menyentuhku lagi dengan tangan menjijikkanmu, aku akan menanamkan kakiku ke pantatmu!” kata Fei.
Gill benar-benar membuat Fei frustasi, dan Fei bukanlah orang yang lembut saat berurusan dengan orang yang membuatnya marah.
Gill menggunakan jarinya yang seperti sosis untuk menunjuk kearah Fei dan berteriak. Dia begitu marah hingga seluruh lemak ditubuhnya gemetar seolah ia adalah puding yang terkena Parkinson.
“Berani-beraninya kau menamparku, bajingan!” Gill berteriak lagi dan lagi.
Fei tak menjawabnya. Dia mencoba mendorong tubuhnya agar bisa berdiri.
“Beraninya kau berteriak di istana?” Fei tampak bingung. Tak ada penjaga raja yang muncul seperti seharusnya (di dunianya). “Apa memang dia orang yang begitu penting hingga seorang raja tak bisa menghukumnya?”
Saat Fei masih berpikir, Gill membuat keputusan gila. Dia menerkam Fei, seolah ia menginginkan balas dendam.
“Berhenti!” perintah Angela, “Gill, kau hanya anak dari menteri, beraninya kau melakukan hal seperti itu!”
Tak peduli apapun yang Angela teriakkan, tak ada yang berpengaruh kepada Gill karena matanya masih terkunci pada Fei. Angela dan Emma berusaha sekuat mungkin untuk melindungi Fei dengan menarik jubah Gill.
Akan tetapi mereka berdua bukanlah lawan untuk Gill.
“Plaak!”
Gill yang frustasi menampar wajah Emma. Kekuatannya mengirimnya terpental kebelakang beberapa meter. Wajah cantiknya tampak lebam di pipi seraya air mata memenuhi kedua matanya.
Selanjutnya Gill memegang pergelangan tangan Angela dan menariknya kearahnya. Dia merendahkan kepalanya ke leher Angela. Dia menghirupnya beberapa kali dan dengan senang dan cabul ia berkata: “Angela Cantik, Alexander yang lamban ini tak cocok untukmu. Dia sama sekali tak tampak seperti raja. Dia sudah membuat kacau kerajaan Chambord setelah baru saja mewarisi tahta. Hehe, Angela, bagaimana kalau kau menjadi wanitaku.”
Dia memegang erat pergelangan tangan Angela: sensasi lembut dan halus dari tubuhnya sudah menghilangkan akal sehat yang dimiliki olehnya. Dia lupa kalau dia sedang berada di dalam istana raja dan Angela adalah ratu di masa mendatang. Dalam momentum saat ia sudah kehilangan kewarasannya, dia mulai memaksakan untuk mencium bibir Angela.
Tiba-tiba.
“Peng!”
Sebuah helm besi-lah yang “mencium” dahinya. Tapi dengan kekuatan seperti itu, ciuman yang dirasakan lebih seperti hantaman dari sebuah palu.
Serangan ini benar-benar tiba-tiba hingga Gill bahkan tak bisa melihatnya. Terkejut saat melihat darah keluar dari lukanya, dia berteriak seraya terjatuh dan melepaskan pergelangan tangan Angela..
Angela sekali lagi menyaksikan sesuatu yang tak pernah dipikirkan akan terjadi dalam kehidupannya kali ini dan benar-benar tak bisa berkata-kata.
Saat Fei mengambil helm yang terjatuh di lantai, dia mengejek: “Beraninya kau menyentuh wanitaku, kau bajingan gendut! Beraninya kau menyentuh sang Raja! Aku akan menghajarmu hingga kau menjadi tunadaksa atau, aku bersumpah, aku bukanlah seorang raja!”
Dia merasa senang saat ia mengumpat, dan berpikir sendiri: “Men, aku takut dengan seorang bak lemak babi ini. Kusangka ia adalah sosok penting, tapi ternyata dia hanya anak dari seorang menteri. Aku bisa menghajarnya kapanpun!”
Keheningan langsung menyelimuti ruang kamar raja. Mereka bahkan bisa mendengarkan suara jarum terjatuh ke tanah.
Meskipun sudah banyak aksi Fei yang mengejutkan baik Angela dan Emma, kali ini, mereka merasakan sesuatu yang berbeda. “Ini tak mungkin, bagaimana mungkin ini terjadi?” mereka memandangi Fei, “Tampaknya Alexander idiot berumur tujuh belas tahun yang selalu mendengarkan Gill sepanjang waktu sudah…. Berubah.”
Gill terbaring tak bergerak di lantai. Pikirannya kosong. Dia merasa kalau kepribadian Alexander benar-benar berubah terlalu banyak.
Aksi Fei dalam tubuh Alexander benar-benar menakuti Gill karena itu sangat jauh dari karakternya sebelumnya. Pukulan helm itu benar-benar sekuat tenaga seolah Fei benar-benar ingin membunuhnya.
Setelah beberapa detik, dia tenang kembali. Dia memikirkan kenapa dia pergi ke istana hari ini dan dia memutuskan untuk memberikan semua yang ia punya.
Dia menaikkan tangan kirinya dan sebuah mantra yang aneh dan misterius keluar dari lidahnya. Sebuah bola api terbentuk di tangannya dan rasa panas terbakar langsung mengisi seluruh istana.
Gill melupakan apa yang ia rasakan sebelumnya dan tiba-tiba menjadi sangat berani. Dia mengejek Fei: “Kau, seorang raja? Ha, selain dirimu sendiri, siapa yang berpikir kau adalah seorang raja dari seluruh kerajaan Chambord? Kau berani menyerangku? Alexander, rasakan kemarahan dari penyihir bermartabat!”
Fei masih berpose berani dan memberi kesan kepada Angela dan Emma. Tapi saat ia mulai melihat bola api terbentuk pupilnya mengerut sejenak: “Pe…penyihir? Bangsat, bajingan goblok ini seorang penyihir? Tampaknya dia punya beberapa kemampuan. Apa yang harus aku lakukan? Seorang pria seharusnya tak mengambil keputusan berdasarkan hasrat mendadak. Kalau aku tahu akan seperti ini jadinya, aku akan berbicara dengannya daripada menggunakan kekerasan…”
Fei mencoba memikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah ini.
Dia melihat ke bola api yang menyala di tangan Gill dan kemudian melihat helm penyok ditangannya dan berpikir: “Apa-apaan ini? kalau kita akan bertarung, setidaknya beri aku pedang atau sejenis senjata.” Dia berpikir selama beberapa detik sebelum akhirnya berteriak, “Penjaga… penjaga! Ada pembunuh! Ada seseorang yang berusaha membunuhku!”
“Haha, teriakanmu tak ada gunanya!”
Gill tertawa saat ia menjentikkan tangannya dan proyektil merah panas melayang keaarah wajah Fei seperti sebuah peluru.
Share:

Hail the king chapter 1

chapter 1:aku adalah seorang raja

“Bahaya! Lindungi Raja!”
Seseorang berteriak seperti seekor ayam betina kehilangan telurnya. Fei mendengar suara itu. dia memaksa matanya yang mengantuk untuk fokus kepada sesuatu yang melayang kearahnya. Otak Fei perlahan mengidentifikasi kalau objek yang bergerak kearahnya adalah panah, yang melesat kearahnya begitu cepat hingga membuat udara di depannya seolah terkoyak.
“Sialan, apa yang terjadi? Siapa bajingan yang memanah kearahku?”
Fei langsung tersadar karena ketakutan, dan membuat seluruh rambut ditubuhnya berdiri karena merinding.
Akan tetapi, panah itu mengenainya sebelum ia bisa bereaksi.
Beng –
Panahnya berdentang menabrak helm yang dikenakannya.
Panah itu tak menembus helm-nya tapi membuatnya bergetar, membuat Fei pusing. Fei merasa kalau telinganya bordering, langit, tanah dan bintang terlihat berputar dalam kedua matanya. Seluruh tubuhnya terjatuh kebelakng, seperti boneka Barbie yang dihempaskan oleh tembakan shotgun.
“Ah…. Sialan!”
Dia teriak kesakitan saat merasa tubuhnya seperti ragdoll melayang diudara.
“Ya Tuhan! Raja terluka! Kirim bantuan!”
“Prajurit! Tangkap/Pegangi sang raja!”
“Andy! Andy!! Kenapa kau masih berdiri disana? Cepat pergi panggil para pendeta dan penyihir!”
“Hei! Para bajingan yang berada dibawah itu masih berusaha mengambil alih kastil kita lagi!” seorang prajurit menunjuk kearah pasukan berbaju hitam yang mengepung kastil.
“Tai! Sialan! Seseorang beritahu aku kenapa mereka membawa tangga pengepungan!”
“Pemanah bersiap! ….. tembak!”
Fei medengar komando diteriakkan dan suara langkah kaki yang kacau balau saat ia masih melayang di udara. Dia kebingungan. Raja? Penyihir? Pendeta? Pemanah? Pengepungan? Ada dimana ini? Apa aku berada ditengah-tengah pengambilan film? Apa yang sebenarnya terjadi?
Seketika, dia merasakan tubuhnya yang berbenturan dengan lantai batu yang dingin.
Pantatnya berinteraksi dengan batu yang keras sebelum helmnya menghantam dinding.
Saat itu bahkan ada banyak bintang yang berdansa/menari didepan matanya. Ketika suara keramaian disekitarnya menjadi semakin keras dan keras, pikirannya perlahan menjadi gelap.
“Raja apa? Kenapa aku merasa kalau mereka membicarakan sesuatu tentangku?”
“Bangsat! Siapa yang peduli soal raja atau ratu! Kalian lebih baik tak membiarkanku tahu siapa yang menembakkan panah, atau aku akan membunuh pria itu!” kata Fei samar-samar dalam pikirannya.
Kepalanya hampir tertusuk oleh panah saat ia baru saja bangun. Dia begitu ketakutan sekaligus marah di saat yang bersamaan, jadi dia tak bisa menahan untuk mengumpat di dalam pikirannya.
Tiba-tiba, sensasi rasa sakit membanjiri seluruh tubuhnya. Dia terbaring pingsan di lantai, sama seperti seekor anjing yang sudah makan terlalu banyak coklat, tersedak beberapa kali dan pingsan.
………
………
Tak tau telah berapa lama ia pingsan, Fei terbangun untuk kedua kalinya. Pikirannya serasa lamban dan dia hanya bisa samar-samar melihat/merasakan sekitarnya.
Dia merasa seolah sedang terbaring di awan yang empuk, tapi saat ia mencoba bergerak, rasa sakit yang menusuk dan nyeri tiba-tiba menyatakan ketidak-inginannya tubuhnya untuk bergerak. Kepalanya masih terasa berat seolah ada seseorang yang memukulnya berkali-kali dengan tongkat. Dia tak bisa membuka matanya juga. Satu-satunya hal yang bisa dia terima adalah suara dua orang perempuan yang berbisik di sekitarnya.
“Angela, kau benar-benar bodoh/mabuk. Aku tak akan terlalu peduli dengannya kalau aku menjadi dirimu. Kalau dia mati, kau akan bisa dengan mudah memiliki semuanya di Kerajaan Chambord dan kau bahkan tak perlu menikahi raja bodoh ini.”
Dari suara renyah dan tawa lembut itu, Fei memperkirakan kalau mereka adalah gadis muda yang berumur sekitar 15 tahun-an.
“Jaga bicaramu!”
Ada suara lembut lain yang menyela dengan agak marah. Setelah beberapa detik terdiam seolah ia sedang mengatur sikapnya, ia melanjutkannya. “Emma, adik kecilku yang bodoh, apa kau tau apa yang baru saja kau bicarakan? Jangan pernah membicarakan hal seperti itu lagi, … lagipula, Alexander adalah tunanganku!”
“Alexander? Siapa itu Alexander?” pikir Fei. Dia benar-benar tak tau apa yang sedang terjadi.
Dia mencium sedikit aroma. Ini adalah aroma manis dari bau tubuh perempuan.
Fei mencoba sekuat tenanga untuk membuka matanya, dan seolah kelopak matanya yang berat akhirnya mengalah, dia terkejut melihat apa yang ia lihat.
Dia menemukan dirinya sendiri berada di tempat yang tampak seperti Istana mewah dari abad pertengahan Eropa, dengan dekorasi yang luar biasa, furniture mewah dan harum bunga lavender; dia merasa sedang berada dalam mimpi.
Dia terkejut dan mulai mengamati keadaan disekitarnya setelah merasa bisa mengendalikan lehernya lagi.
Dua wanita dengan postur tubuh sempurna terlihat dihadapannya.
Seorang yang berdiri paling jauh adalah seorang gadis muda yang berpakaian seperti pelayan/pembantu, rambut pirangnya dengan sederhana ditata dengan sebuah kuncir. Mulutnya sedang cemberut. Jelas, dia tampak tak senang melihatnya terbangun.
“Dia pasti adalah orang yang tidak peduli dengan Alexander.” Pikir Fei, “meskipun dia masih muda, dia terlalu berdarah dingin.”
Saat pengelihatannya bergerak ke tempat di dekatnya, dia menyadari kalau dia sedang terbaring di kasur berukuran raja yang berwarna merah gelap dan disepuh dengan emas. Kepalanya sedang beristirahat di bantal empuk dari beludru. Seorang gadis cantik sedang duduk di sampingnya dengan rasa khawatir yang tertulis di seluruh wajahnya.
Rambut hitam halusnya seperti awan gelap diikat bersama dengan tali berwarna ungu. Kulitnya lebih pucat dibandingkan salju dan lebih lembut dibanding es. Rok tunik ungunya menunjukkan lekuk tubuhnya, membuatnya seperti seorang dewi yang selalu diimpikan oleh banyak pria untuk ditemui/dilihat. Dia benar-benar sempurna.
“Kuhkuhkuhkuh…” Fei berdehem dengan sengaja untuk mendapatkan perhatian mereka.
“Kau sudah bangun?!” Gadis cantik berambut hitam bernama Angela itu membungkuk/meringkuk. Ekspresi diwajahnya langsung berubah menjadi terkejut dan senang. “Alexander, bagaimana perasaanmu? Apa kau masih merasa sakit? Pendeta Evan bilang kalau kau harus beristirahat dengan baik…..”
“Aku… em…. Apa yang terjadi?” Fei tak tau apa yang harus dikatakannya. Setelah ia mengatakannya, dia sangat terkejut.
Dia menemukan sesuatu yang tak dapat dipercaya.
Angela menggunakan bahasa yang tampak kuno dan terdengar aneh. Meskipun Fei adalah seorang siswa dalam program studi dalam universitas yang spesialisasinya adalah bahasa, dia tak pernah sekalipun mendengar bahasa ini. tapi anehnya, dia yang tak memahami bahasanya, tak disangka bisa mengucapkannya/menggunakannya dengan baik.
“Alexander, apa kau lupa? Saat kau sedang memimpin para prajurit untuk melindungi kerajaan, seorang lawan diam-diam menembakkan panah kepadamu. Untungnya kau memakai helm, kalau tidak kau mungkin harus membayar dengan mahal.” Kata Angela menjelaskannya.
Dia dengan lembut menempatkan tangan kirinya di dahi Fei. Rasanya tidak panas. Rasa terkejut sekilas bisa dilihat melalui matanya. “Bagus! Temperatur tubuhmu sudah kembali normal. Pendeta Evan berkata selama kau tidak demam, semuanya akan baik-baik saja. Alexander, kau benar-benar raja yang pemberani!”
“Aku? Alexander? Raja?” Fei tak tau apa yang sebenarnya terjadi.
“Itu benar, raja muda dam pemberani dari Chambord. Ini semua karenamu! Kau datang/muncul di dinding pertahanan di saat yang tepat dan menaikkan moral dari prajurit kita hingga mereka bisa menghalau gelombang penyerang dari pasukan yang ingin menyerbu!” Angela mengatakannya dengan senyum diwajah.
Fei merasa ini aneh. Entah kenapa, dia merasa kalau nada suara yang digunakan gadis ini seperti seorang guru TK yang menenangkan anak kecil yang menangis.
“Dia bukanlah raja pemberani.”
Emma, gadis berambut pirang itu menggunakan nada yang menampakkan kebencian. “Kalau bukan karena permintaan terus menerus dari Jendral Bizzer, apa Alexander akan pergi dengan sukarela? Aku ingat kalau ia hampir kencing di celana saat mengenakan baju bajanya. Meningkatkan moral/semangat? Kalau seorang raja terkena tembakan panah di dinding pertahanan seperti seorang idiot datang kesana termasuk dalam kategori bisa meningkatkan moral, aku rasa dia benar-benar melakukannya.”
Meskipun Fei tak tahu apakah yang dikatakan Emma itu benar atau tidak, dia tak punya waktu untuk mencari tahu.
Pikirannya benar-benar kacau.
“Apa-apaan ini. bukankah aku terkena sesuatu di kepala saat berada di pintu masuk ruang apartemenku? Setelah aku bangun, aku berada di kerajaan Chambord yang tak pernah ku dengar sebelumnya dan aku adalah raja Alexander? Dan gadis cantik didepanku ini adalah tunanganku?
Fei mengetuk dahinya beberapa kali.
“Apa ini sebuah lelucon? Atau apa aku berada di dunia yang berbeda?” Pikir Fei. “ini tampaknya bukan sebuah lelucon. Kecantikan Angela muncul dari dunia ini, siapa yang mungkin membayarnya untuk mengerjaiku? Dan Emma juga sangat lucu.”
“dan yang paling terpenting, aku bisa mengerti dan berbicara menggunakan bahasa kuno dan aneh yang tak pernah ku dengar sebelumnya….” Fei dengan cepat menganalisa situasinya.



Share:

Youkoso v1c3 intro

"Selamat pagi Yamauchi!" "Selamat pagi Ike!" Sambil sampai di sekolah, Ike memanggil Yamauchi dengan senyuman di wajahnya. Tidak biasa bagi mereka berdua untuk pergi ke sekolah lebih awal. Satu minggu sejak upacara masuk. Ike dan Yamauchi selalu sampai di sekolah tepat sebelum bel. "Wow ~ pelajarannya sangat menyenangkan sehingga saya tidak bisa tidur ~" "Yup, sekolah ini yang terbaik-berenang akan segera dimulai! Saya katakan berenang, tapi anak perempuan adalah bagian yang penting! Dan oleh anak perempuan, maksudku baju renang mereka! " Pastinya, berenang diajarkan kepada anak laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain, Horikita, Kushida, dan semua gadis lainnya memakai pakaian renang ... dan kulit mereka terlihat. Gadis-gadis di ruangan itu mundur dari kegembiraan Ike dan Yamauchi. Di sisi lain, saya masih duduk di kursi saya, sendirian. Saya harus proaktif bergabung dengan sekelompok teman. Untungnya, percakapan mereka dihentikan, jadi saya berdiri. Namun… "Oi, Dokter. Kemarilah kemari. " "Fufu, apakah kamu memanggilnya?" Seorang anak laki-laki gemuk, yang tampaknya memiliki julukan "Dokter", berjalan menuju orang yang memanggilnya. Saya pikir namanya Sotomura atau semacamnya. "Dokter, bisakah kamu merekam gadis-gadis yang memakai baju renang?" "Serahkan padaku. Saya akan pura-pura sakit dan melewatkan kelas untuk mengamatinya. " "Merekam? Apa yang kamu rencanakan?" "Dokter akan menentukan ukuran payudara wanita itu. Jika ada kesempatan, dia akan mencoba memotret. " "... Oi oi." Sudou juga menarik kembali rencana Ike. Jika gadis-gadis itu tahu itu akan menjadi pertumpahan darah. Namun, terlepas dari apa yang mereka bicarakan, saya iri dengan percakapan mereka. Harus baik punya teman. Aku juga ingin berteman. "Sedih." "... kamu juga ada di sini, Horikita?" "Beberapa menit yang lalu. Aku masuk saat kau melihat anak laki-laki itu. Anda tidak akan berpikir untuk mencoba berteman dengan mereka, bukan? " "Diam. Sulit bagiku untuk tetap berteman. " "Cara saya melihatnya, Anda sepertinya tidak memiliki gangguan komunikasi." "Saya memiliki banyak keadaan. Ha ... bahkan sekarang aku hanya bisa bercakap-cakap denganmu. " Bahkan jika saya bisa SMS dengan Ike dan yang lainnya, percakapan masih sulit. "Hei ... aku sudah menyuruhmu untuk tidak memasukkanku ke daftar temanmu, kan?" Dia menatapku dengan wajah jijik saat dia mundur beberapa langkah. "Tidak apa-apa. Tidak peduli seberapa rendah saya pergi, saya tidak akan pernah berteman dengan Anda. " "Saya melihat. Saya merasa lega." Berapa banyak yang dia benci punya teman? "Oi Ayanokouji."
Tiba-tiba, Ike memanggilku. Saat aku mendongak, aku melihat wajahnya yang tersenyum memanggilku. "Apa, apa itu?" Aku sedikit tergagap saat aku bangkit. Horikita sudah mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain. Bagaimanapun, kesempatan saya untuk membuat sekelompok teman telah datang. Aku berjalan menuju Ike. "Sejujurnya, kami akan bertaruh dengan ukuran dada gadis itu." "Kami bahkan punya meja untuk taruhannya." Dokter mengeluarkan sebuah tablet dan membuka lembaran Excel. Semua nama anak perempuan di kelas terdaftar. Taruhan juga dilampirkan. Saya tidak tertarik dengan taruhan, tapi saya tidak akan membiarkan kesempatan ini untuk membuat teman lolos. "Hmm ... haruskah aku bergabung?" "Ya! Lakukan, lakukanlah! " Saat ini, pesaing untuk payudara terbesar di lembar adalah Hasebe. Kemungkinannya adalah 1 untuk 8. (T / N 1 untuk 8 atau 1 sampai 8? Tidak tahu) Ini adalah nama yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Saya belum mengingat nama teman sekelas saya. Ini sangat buruk "Ini lebih rinci daripada yang saya pikir akan terjadi ... bukankah kalian terlalu banyak mengamati?" "Itu karena kita laki-laki. Kita hanya punya pantat dan payudara terus-menerus di dalam pikiran kita! " Bahkan jika itu benar, mereka sama sekali tidak menahan diri. Di dekat bagian bawah rintangan, ada nama Horikita. Saat itu sekitar 30th. Nah, dari segi ukuran payudara, sudah jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dia memiliki kesempatan menang yang cukup rendah. "Jadi apa yang akan kamu lakukan? Ada 1.000 poin untuk bergabung. " "Saya melihat…" Tanpa mengetahui nama dan wajah siapa pun, apalagi ukuran payudara mereka, sulit untuk bergabung. Satu-satunya orang yang kudengar, bagaimanapun, adalah Horikita dan Kushida. Kushida pasti memiliki payudara besar, tapi sulit untuk mengatakan bahwa dia akan menempati posisi pertama hanya dengan banyak informasi.
"Tidak apa-apa, kami hanya bermain. Ada banyak orang yang bisa dipetik juga. " "Saya akan melakukannya!" "Saya juga saya juga!" "Saya juga telah membina ukuran payudara sebelum!" Sementara saya memikirkannya, semua anak laki-laki berkumpul dan merasa senang karena payudara. Semua gadis di kelas melihat dengan ekspresi jijik. "Saya akan ikut juga. Taruhanku di Sakura. " Yamauchi memotong dan memberi taruhannya. Sakura adalah cewek biasa yang memakai kacamata. Saya tidak benar-benar berbicara dengan siapapun, jadi saya tidak akan benar-benar tahu. Merenungkan sesuatu, Yamauchi mengambil bahu Ike dan Dokter dan mulai membisikkan sesuatu. "Aku hanya mengatakan ini pada kalian, tapi aku benar-benar mengaku pada Sakura." "Ha!? Apa, benarkah !? " Ike adalah yang paling terkejut dan tidak sabaran. Apakah seseorang mengalahkannya untuk mencapai tujuannya? "Ya, ya. Tapi ini hanya di antara kita, oke? Saya pikir dia benar-benar biasa pada awalnya. Lalu aku melihat pakaiannya. Hal-hal itu sangat besar. " "Bodoh, Anda bertanya padanya karena dia besar dan bukan karena dia imut?" "Aku tidak akan berkencan dengan siapa pun kecuali mereka setingkat Kushida dan Hasebe. Saya tidak tertarik pada gadis biasa. " Yamauchi tak kenal belas kasihan karena tidak ada orang lain di sekitarnya. Aku bertanya-tanya berapa banyak aku bisa mempercayai kata-katanya tentang mengajaknya kencan. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menempatkan taruhan saya pada gadis-gadis dengan kemungkinan lebih tinggi.
Share:

Youkoso v1c2 part 2

"Wah, ini lebih besar dari perkiraanku." Horikita dan saya bertemu sepulang sekolah untuk pergi ke gimnasium. Hampir semua orang di sana adalah tahun-tahun pertama; sekitar 100 orang sedang menunggu di dekatnya. Menunggu di belakang, kami menunggu klub tersebut untuk memulai. Saat memasuki gym, pamflet dengan rincian tentang aktivitas klub pingsan. "Saya ingin tahu apakah sekolah ini memiliki klub yang sangat terkenal. Misalnya ... sesuatu seperti klub karate? " "Banyak klub di sini tampaknya diunggulkan. Ada banyak anggota di banyak klub yang dikenal secara nasional. " Meski sekolah ini tidak terlalu dikenal karena olahraga mereka seperti bola voli atau bola voli, tidak seperti aktivitas klub yang berada pada level "hobi". "Fasilitasnya juga berkualitas tinggi. Lihat, mereka bahkan memiliki kapsul oksigen. Semua peralatan itu membuat peralatan pro menjadi malu. Ah, tapi sepertinya mereka tidak punya klub karate. " "… Saya melihat." "Kenapa kamu tertarik dengan karate?" "Tidak, tidak terlalu." "Tapi Anda tahu, sepertinya orang yang tidak berpengalaman akan mengalami kesulitan bergabung dengan klub olahraga. Bahkan jika seseorang membuat debut SMA mereka, mereka akan menjadi pengganti untuk selamanya. Kurasa tidak akan menyenangkan. " Segala sesuatu di sekitar sini tampak terlalu teratur dan rapi. "Bukankah itu tergantung pada usaha yang mereka lakukan? Setelah 1 sampai 2 tahun berlatih, siapapun bisa menjadi baik. " Pelatihan ... Saya tidak berpikir saya akan bisa berusaha keras "Saya tidak berpikir bahwa kata 'pelatihan' ada untuk orang-orang yang menghindari masalah seperti Anda." "Apa yang menghindari masalah harus melakukan sesuatu dengan ini?" "Bukankah seseorang yang menghindari masalah juga menghindari kerja paksa? Jika Anda telah menyatakan bahwa Anda menghindari masalah, Anda harus berpegang pada kata-kata Anda sampai akhir. " "Saya tidak menganggapnya sejauh itu ..." "Jika Anda selalu tidak yakin seperti itu, Anda tidak akan pernah berteman." "Kata-katamu melukai hatiku." "Terimakasih telah menunggu, mahasiswa tahun pertama. Seorang perwakilan dari masing-masing klub akan menjelaskan aktivitas mereka dan bagaimana cara bergabung. Akulah Tachibana, sekretaris dewan mahasiswa dan ketua yang bertanggung jawab atas klub ini. Senang bertemu denganmu." Setelah salam dari Tachibana, perwakilan klub berbaris di atas panggung gym. Ada berbagai perwakilan, mulai dari yang memakai seragam judo hingga kimono yang cantik. "Hei, jika Anda pernah berubah pikiran, cobalah bergabung dengan klub olahraga. Bukankah itu klub judo terlihat bagus? Senpai itu terlihat bagus dan menggembirakan. " "Bagian mana dari dirinya yang terlihat bagus dan menggembirakan? Gorila itu sepertinya bisa membunuh seseorang kapan saja. " "Dia mungkin akan memberitahumu bahwa judo adalah olahraga yang mudah." "Berhenti saja!" Kupikir percakapan itu benar-benar terjadi di suatu tempat, tapi dia bersikap kasar sekali lagi. "Bahkan jika memang begitu, klub olahraga dengan jelas tidak menyambut setiap pemula, melihat bagaimana penampilan mereka." "Mereka harus disambut. Semakin banyak orang yang mereka dapatkan, semakin banyak uang yang diberikan sekolah dan mereka bisa mendapatkan lebih banyak peralatan. " "Itu hanya menggunakan anggota baru sebagai cara untuk mendapatkan uang ..." "Ini akan ideal untuk merekrut banyak anggota baru, meningkatkan anggaran, kemudian membuat mereka menjadi anggota hantu. Anda harus bisa dengan terampil memanipulasi peraturan di dunia. " "Betapa dunia yang buruk ... Cara berpikirmu tentu aneh." "Namaku Hashigaki, dan aku adalah kapten klub memanah. Saya pikir ada banyak siswa yang menganggapnya kuno dan sederhana, tapi ini adalah olahraga yang sangat menyenangkan dan memuaskan. Kami memberikan semua sambutan hangat kepada siswa baru, jadi jika Anda berminat, silakan bergabung. " Seorang gadis yang mengenakan pakaian panahan memulai perkenalannya di atas panggung.
"Begini, sepertinya mereka menyambut para pemula. Bagaimana kalau kamu coba bergabung? Untuk membuat anggaran mereka lebih besar. " "Bergabung dengan klub karena alasan itu pasti tidak! Juga, klub olahraga adalah tempat pertemuan untuk riajuus. Tanpa mengenal siapa pun, itu tidak akan menyenangkan sama sekali dan saya mungkin akan segera pergi. " "Bukankah itu cara berpikir akibat kepribadian Anda yang bengkok?" "Yup, tentu saja. Klub olahraga pasti tidak mungkin. " Saya bahkan tidak ingin melakukan pekerjaan paruh waktu yang benar-benar longgar dan membutuhkan sedikit usaha. Selanjutnya, saya mungkin hanya akan bergabung dengan klub jika mudah bergabung, tenang, dan pendiam. "Tsu ...!" Sebagai perwakilan klub memperkenalkan klub mereka satu per satu, Horikita tiba-tiba tegang. Dia melihat ke arah panggung, wajahnya pucat. "Apa yang salah?" Dalam keadaan tegang, dia tampak seperti tidak mendengarnya. Saya juga melihat ke atas panggung, tapi saya sama sekali tidak melihat sesuatu. Perwakilan klub bisbol tersebut memberikan pendahulunya saat mengenakan seragam. Apakah dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dia? Tidak tampak seperti itu. Mengherankan? Menjijikkan? Atau mungkin sukacita? Sejujurnya, ekspresinya rumit, sehingga sulit untuk membaca wajahnya. "Horikita. Apa yang salah?" "..." Bisakah dia benar-benar tidak mendengarku? Dia hanya menatap panggung. Aku akan berhenti bicara dan menunggu penjelasan. Klub bisbol sepertinya tidak terlalu menarik dibanding yang lain. Tidak peduli seberapa baik mereka menyambut para pemula, atau betapa menariknya lokasi dan waktu pertemuan mereka, ini hanya pengenalan biasa saja. Bukan hanya klub bisbol, semua klub tampak biasa saja. Jika saya mengetahui sesuatu yang menarik dari penjelasan ini, klub kecil seperti upacara minum teh dan klub kaligrafi ada, dan jumlah minimum orang yang dibutuhkan untuk klub baru adalah 3. Setiap kali klub baru memulai penjelasan mereka, obrolan pertama di antara teman mereka tentang klub sebelumnya. Gym memiliki suasana yang meriah untuk itu. Perwakilan klub, dan belum lagi guru pengawas, melanjutkan penjelasan mereka dengan tatapan tak senang. Mereka harus panik untuk mendapatkan sebanyak mungkin anggota baru. Saat para senpai menyelesaikan penjelasan mereka, mereka turun dari panggung dan berjalan ke beberapa meja. Mereka mungkin menyiapkan area resepsionis sehingga mereka bisa berbicara dengan orang-orang satu lawan satu dan menandatanganinya. Akhirnya, semua orang di atas panggung berjalan sampai satu orang ditinggalkan. Tatapan setiap orang terpusat di atas panggung. Aku menyadari bahwa Horikita telah menatap satu orang itu sepanjang waktu. Tingginya sekitar 170 cm, yang tidak setinggi itu. Tubuh ramping, rambut hitam ramping. Kacamata tajam, dan tatapan merenung. Murid yang berdiri di depan mikrofon melihat ke tahun pertama dengan tatapan tenang. Klub macam apa dia, dan penjelasan apa yang akan dia berikan? Minat saya telah terganggu. (T / N Jenis kelamin seseorang belum terungkap, tapi saya hanya menggunakan "dia" untuk tidak mengatakan "orang" atau "murid" berulang-ulang.)
Namun, minat saya lenyap detik berikutnya. Dia benar-benar diam. Mungkin pikirannya jadi kosong. Mungkin dia merasa gugup dan suaranya tidak keluar. "Lakukan yang terbaik ~" "Apakah Anda lupa membawa kartu suara Anda ~?" "Ahahaha!" Tahun-tahun pertama melemparkan kata-kata itu ke orang itu. Namun, senpai di atas panggung sama sekali tidak goyah. Tawa atau dorongan itu sepertinya tidak mencapainya. Bahkan saat tawa mulai sekarat, wajah apatisnya tidak berubah. Para siswa mulai bertanya-tanya "Apa senpai ini?" Dan gym menjadi berisik. Bahkan saat itu, anak laki-laki itu tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana dengan tenang, melihat tahun-tahun pertama. (Jenis kelamin T / N terungkap di sini) Horikita juga menatap pemuda itu dengan tatapan tajam. Suasana santai berangsur-angsur bergeser ke arah yang tak terduga. Itu adalah perubahan mood yang menggetarkan. Akhirnya, seluruh gym terbungkus suasana yang tegang dan sepi. Tidak ada instruksi yang diberikan, tidak ada yang berani berbicara-ini adalah keheningan yang mengerikan. Tidak ada yang bisa membuka mulut untuk berbicara. Kesunyian ini telah berlangsung selama 30 detik sudah ... Siswa di atas panggung mulai berbicara. "Namaku Horikita Manabu, dan aku presiden dewan mahasiswa. Horikita? Aku menatap Horikita di sampingku. Aku ingin tahu apakah mereka terkait ... "Dewan mahasiswa juga mencari tahun-tahun pertama untuk menggantikan tahun ketiga yang lulus. Tidak ada persyaratan ketat untuk melamar posisi tersebut, namun mereka yang berminat tidak boleh berafiliasi dengan klub lain. Umumnya, kami tidak menerima kandidat yang terlibat di klub lain. " Nada suaranya terasa lembut, tapi suasana hatinya masih tegang. Dia sendiri membungkam seluruh gym. Tentu saja, bukan posisinya sebagai presiden dewan mahasiswa yang memberinya kekuatan itu. Horikita Manabu juga mengusung aura yang kuat. Kehadirannya mendominasi seluruh gym. "Juga, kami, dewan mahasiswa, tidak mencari orang yang memiliki cara berpikir naif. Tidak hanya orang seperti itu yang tidak terpilih, mereka pasti akan menjadi noda di sekolah ini. Dewan siswa hanya bertanggung jawab untuk mengatur para siswa, namun sekolah tersebut mengharapkan lebih banyak lagi. Kalian yang mengerti bisa menjadi kandidat potensial. " Setelah pidato yang tak tergoyahkan itu, dia berjalan dari panggung dan keluar dari gedung. Karena tidak ada yang berani berbicara, tidak ada siswa yang berbicara saat dia meninggalkan gym. Para siswa tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka mencoba untuk berbicara. Semua orang merasa seperti itu. "Semua, terima kasih sudah datang. Dengan itu, fair klub berakhir. Kami sekarang akan membuka area resepsionis bagi siapa saja yang berminat untuk bergabung. Area resepsionis hanya akan buka sampai akhir April, jadi siapa pun yang berminat kemudian bisa membawa aplikasi langsung ke klub. " Dengan bantuan ketua, suasana tegang perlahan lenyap. Setelah itu, perwakilan klub membuka area resepsionis. "..." Horikita tetap tidak bergerak sama sekali. "Oi, ada apa?" Horikita tidak menjawab. Kata-kata saya tidak sampai padanya. "Oh, Ayanokouji-kun. Kamu juga datang? Terdengar suara yang penuh perhatian. Ini Sudou. Teman sekelas saya Ike dan Yamauchi ada bersamanya. "Apa ini, tiga orang? Sepertinya kalian sudah akur. "
Merasa cemburu, aku memanggil Sudou. "Apakah Anda juga berpikir untuk bergabung dengan klub?" "Tidak, saya hanya melihat. Apakah itu berarti Anda sedang berpikir untuk bergabung dengan klub? " "Ya. Saya sudah bermain basket sejak SD. Kurasa aku akan terus di sini juga. " Aku selalu mengira dia melakukan semacam olahraga dengan tubuh seperti itu-tebak itu basket. "Bagaimana dengan kalian berdua?" "Kami baru datang karena nampaknya menyenangkan dan seru. Saya juga berharap semacam pertemuan yang menentukan akan terjadi. " "Persetan, apa yang Anda maksud dengan pertemuan yang menentukan?" Aku mendorong Ike lagi setelah mendengar tujuan yang dipertanyakan itu, dan dia menjawab dengan bangga setelah menyilangkan lengannya. "Tujuan pertama saya adalah untuk membuat pacar. Jadi, saya berharap pertemuan yang menentukan akan terjadi di sini. "



Jadi begitulah hal semacam itu. Memiliki pacar tampaknya menjadi bagian penting dari kehidupan sekolah ideal Ike. "Juga, presiden dewan mahasiswa itu memiliki aura yang kuat. Seolah dia memerintah tempat itu. " "Kanan? Dia bisa membungkam semua orang. " "Ya, ya. Juga, saya membuat obrolan kelompok laki-laki kemarin. "(T / N Percakapan di sini melompat ke mana-mana; ini sangat aneh.) Ike mengeluarkan teleponnya. "Apakah Anda ingin bergabung juga? Ini cukup nyaman. " "Eh, apakah itu baik?" "Tentu saja. Kami semua adalah bagian dari kelas D. " Aku tidak mengharapkan itu. Saya senang telah diundang ke obrolan berkelompok. Kesempatan sempurna untuk membuat teman akhirnya datang! Saat saya mulai mengeluarkan telepon untuk bertukar nomor, saya melihat Horikita menghilang ke kerumunan. Merasa mencemaskannya, secara tidak sengaja saya berhenti bergerak. "Apa yang salah? "Tidak ... itu bukan apa-apa. Mari kita tukar angka. " Mendapatkan kembali indera saya, saya berbagi info kontak saya dengan yang lainnya. Horikita memiliki kebebasan untuk melakukan apapun dan pergi kemanapun dia mau, dan saya tidak punya hak untuk menghentikannya. Aku merasa ingin mengikutinya sebentar, tapi aku memutuskan untuk tidak melakukannya.


Share:

Blogroll

BTemplates.com

Search This Blog

Powered by Blogger.

Pages